Sunday School Materials

Archive for Juli, 2010

MEWARNAI GAMBAR CERITA TENTANG TUHAN YESUS

Mari kenalkan anak-anak kita lebih dekat dan akrab dengan Sang Sahabat Sejati.

Sambil mendengarkan tuturan dari Injil, kegiatan mewarnai gambar-gambar berikut ini tentunya menjadi upaya yang baik untuk membawa anak-anak kita pada jalan kebenaran dan hidup yang sejati.

About these ads

BAHASA ISYARAT (ABJAD ANGKA DAN HURUF AMERICAN SIGN LANGUAGE) BAGIAN 2

Berikut ini abjad sesuai sistem ASL. Gambar yang melambangkan abjad A-Z dan angka ini, sebenarnya merupakan tambahan saja, digunakan untuk menyusun kata, nama tempat, nama orang, jumlah yang belum ada lambang isyarat tangannya.

Untuk mempelajari dengan lebih menyenangkan, ada saya cantumkan contoh words puzzle versi abjad bahasa isyarat. Dengan gambar-gambar yang terpisah ini, diharapkan Anda mampu menyusun sendiri kata atau membuat teka-teki yang menyenangkan.

Selamat mencoba.


BAHASA ISYARAT (AMERICAN SIGN LANGUAGE) BAGIAN 1

Di Indonesia saat ini telah berkembang beberapa macam bahasa isyarat, antara lain SIBI, Bisindo dan kombinasi antara keduanya serta beberapa lagi tercampur dengan bahasa isyarat yang paling banyak digunakan secara Internasional yaitu ASL (American Sign Language).

Kebetulan dari beberapa rekan, bahan yang saya peroleh yaitu bahan-bahan ASL, namun tidak menutup kemungkinan setelah bahan baku untuk SIBI dan BISINDO telah diperoleh, akan saya masukkan juga dalam posting berikutnya. Mohon jika teman-teman yang membaca memiliki bahan-bahannya, mohon berbagi dengan mengirim email ke: mosesforesto@gmail.com.

Untuk sementara ini saya sampaikan nbagian berupa gambar sketsa bahasa isyarat ASL yang sempat terkumpul (sekitar 150 kata).

Selamat mempelajari.

Berikut ini akan saya tambahkan juga sebagian tulisan singkat dari Rndang Rusyani mengenai Sistem Komunikasi Tunarungu.

Berikut kutipannya.

Latar Belakang

Ketidak puasan terhadap oral dan manual

- Tidak semua ATR dapat mengembangkan cara berkomunikasi dengan berbicara

- Esensi komunikasi, pesan dapat tersampai kan dengan utuh, tanpa harus dengan cara tertentu

- Komunikasi cara oral merupakan ciri khas manusia pada umumnya

HAKEKAT KOMUNIKASI DAN BAHASA

Komunikasi adalah  keberhasilan dalam menyampaikan pesan/pikiran/gagasan seseorang kepada orang lain.

Bahasa kode dimana gagasan/ide tentang dunia/lingkungan sekitar diwakili oleh seperangkat simbol yang telah disepakati bersama guna mengadakan komunikasiBagaimana anak memperoleh penguasaan bahasa.

Kemampuan berbahasa tidak diperoleh melalui penularan begitu saja (kematangan) dan juga tidak melalui diajar secara khusus (language is neither caught nor taught).Bahasa ibu dikuasai anak mendengar apabila terdapat dua kondisi terpenuhi, yaitu:

• Akses terhadap bahasa dalam jumlah yang besar.

Kata pertama yang diucapkan anak adalah kata ”mama.” Mengapa ? kata tersebut mudah dilafalkan, paling sering diucapkan kepada anak. Dalam satu minggu, diucapkan sampai 3000 kali

• Adanya kesempatan untuk berinteraksi secara aktif.

Hasil penelitian  A. Trip menunjukkan bahwa akses kebahasaan yang banyak tidak akan menumbuhkan penguasaan bahasa tanpa ada kesempatan interaksi (percakapan) yang aktif dengan lingkungannya.

Kondisi-kondisi optimal untuk mengembangkan kemampuan berbahasa:

1. Akses terhadap sejumlah besar bahasa. Anak tunarungu  ringan dan sedang gunakan ABM, untuk yang berat dapat menggunakan isyarat

2.   Masukkan bahasa yang diperoleh anak harus lengkap. Gunakan kalimat singkat, sederhana tetapi lengkap dari segi tata bahasanya,

3.   Orangtua/guru harus menggunakan bahasa yang berada sedikit di atas taraf kemampuan bahasa anak, dan jangan terlalu disederhanakan

4. Masukkan bahasa harus diberikan dalam konteks atau situasi komunikasi yang jelas,

5. Agar anak dapat memahami interaksi yang terjadi. ajak berbicara mengenai hal-hal yang konkrit di lingkungannya, kemudian tingkatkan kepada pembicaraan yang abstrak agar anak dapat memahami pembicaraan yang di luar konteks, tetapi pada tahap awal konteks harus jelas

6. Masukkan informasi harus berlangsung secara konsisten. Harus ada orang yang menguasai bahasa yang digunakan  dalam berinterkasi dengan anak. Misalnya, untuk anak tunarungu berat harus ada orang yang menguasai sistem isyarat supaya masukkan bahasa lengkap dan konsisten

Permasalahan Kebahasaan Anak Tunarungu

• Anak Tunarungu tidak dapat atau kurang mampu berbicara dengan baik. Berbicara bukan satu-satunya cara untuk berkomunikasi, karena bicara merupakan salah satu cara dari sekian cara berkomunikasi,

• Permasalahan utama Anak Tunarungu bukan pada ketidak-mampuannya dalam berkomunikasi melainkan akibat dari hal tersebut terhadap perkembangan kemampuan berbahasanya, yaitu ketidakmampuan untuk memahami lambang dan aturan bahasa.

PENGERTIAN KOMUNIKASI TOTAL

• Suatu cara komunikasi yang memanfaatkan segala media komunikasi ( berbicara, membaca ujaran, menulis, membaca, mendengarkan, isyarat alamiah, isyarat baku, abjad jari, gerak tubuh, mimik dll yang dilakukan secara terpadu).

• Tujuan: Tercapai komunikasi yang efektif antara sesama tunarungu ataupun dengan masyarakat luas dengan menggunakan media berbicara, membaca bibir, mendengar dan berisyarat  Pengertian Sistem Isyarat Bahasa Indonesia

Salah satu media komunikasi sesama kaum tunarungu dalam bentuk tataan yang sistematis tentang seperangkat isyarat jari, tangan, dan berbagai gerak yang melambangkan kosa kata bahasa Indonesia

SEJARAH MEDIA KOMUNIKASI ANAK TUNARUNGU DI INDONESIA

  • · 1978 diawali oleh SLB Zinnia Jakarta
  • · 1981 diikuti oleh SLB Karya Mulya Surabaya
  • · Isyarat yang digunakan ASL yang diperkenalkan oleh Ibu Baron Sutadisastra

•1982  KKPLB Pusat Pengembangan Kurikulum dan sarana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Dikbud merancang panduan penerapan Komtal.

•1986 kegiatan pengembangan terhenti

•1989 dilanjutkan lagi oleh KKPLB yang berkedudukan di IKIP Jakarta

•1989 SLB Karya Mulya telah menghasilkan Pedoman Isyarat Bahasa Indonesia

•1990 SLB Zinnia menerbitkan Kamus Dasar Basindo

•1990 KKPLB melahirkan Kamus Isyarat yang berdasarkan isyarat lokal yang berkembang di 11 lokasi

Tokoh-tokoh terkenal dalam dunia pendidikan AGP

Sejak abab ke 16 telah dikembangkan cara-cara komunikasi untuk AGP

Fedro Ponce de Leon.

Pada abad ke 16 tepatnya pada tahun 1510 – 1584 di Spanyol, Leon telah mengembangkan kemampuan berbahasa anak gangguan pendengaran agar dapat berbicara melalui tulisan dan membaca. Cara yang dikembangkan Leon ini dikenal dengan sebutan Metode Spanyol. Metode ini sampai sekarang sangat terkenal dan banyak digunakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Joe L’hanes Conrad Amman

Pada abad ke 17 tepatnya pada tahun 1669 – 1724 di Jerman, Amman mengembangkan kemampuan berbahasa anak yang mengalami gangguan pendengaran dengan menggunakan metode oral, pandangannya lebih modern dari pada Leon, beliau juga mengajar melalui membaca ujaran (speech reading).

Metode Amman ini terkenal dengan sebutan Metode Jerman, dan pada abad ke 18 sekolah-sekolah untuk anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran bermunculan karena keberhasilan penggunaan metode oral tersebut.

Orang yang paling terkenal mengembangkan metode oral ini yaitu Samuel Heinicke (1727 – 1790)

Delgarno

Tahun 1680 Delgarno mengembangkan metode Dactylology.  Penggunaan ejaan jari (finger speeling) dengan satu tangan, dan dia juga mencita-citakan pengajaran bahasa ibu.

Penerus Delgarno yaitu Alexander Grahan Bell dari Amerika (1884). Bell menggunakan bentuk tulisan dari bahasa ibu, dan beliau juga yang menemukan gagasan pemakaian ABM.

Metodenya terkenal dengan sebutan Metode Aural, dan cara pengajarannya menggunakan metode okasional.

Charles Michel d L’ Epee

L’ Epee dari Perancis pada tahun 1712 – 1789 mengembangkan metode Isyarat. Pendapatnya, bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa alamiah orang-orang yang mengalami gangguan pendengaran, walaupun dia memahami bahwa bahasa lisan merupakan bahasa yang paling sempurna. Metode L’ epee ini terkenal dengan sebutan Metode Perancis. Metodenya sampai sekarang banyak digunakan di hampir seluruh penjuru dunia Frederich Moritz Hill (1805 – 1874)

Orang yang menerapkan metode pengajaran bahasa untuk anak yang memiliki gangguan pendengaran dengan menggunakan prinsip-prinsip metode pengajaran untuk anak yang mendengar dari

Johann Heinnrich Pestalozzi’s (1746 – 1827), yaitu mother method. Motto mother method adalah ”teaching of spoken language is in everything”.

Pengaruh Hill tersebar dengan pesat di seluruh Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Serikat, bahkan sampai saat ini di Amerika Serikat, yaitu di kota Nortthamptom dan Massashusetts

Sekolah oral yang sangat terkenal sejak jamannya Hill yaitu Clarke

School for The Deaf Johane Vatter

Tokoh pendidikan AGP yang sangat idealis dari Jerman pada tahun 1824 – 1916. Vatter memiliki cita-cita yang sangat ideal yaitu berharap AGP dapat belajar berpikir dengan bahasa verbal dan bercita-cita agar AGP dapat berkomunikasi di lingkungannya secara wajar layaknya orang-orang yang mendengar.

Vatter dalam pengajaran bahasanya menggunakan metode gramatikal Edmun Miner Gallaudet.

Gallaudet adalah seorang tokoh pendidikan AGP yang sangat terkenal dari Amerika Serikat pada tahun 1837 – 1917, dan pengaruhnya menyebar sampai saat ini ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.

Gallaudet memberikan pendidikan kepada anak gangguan pendengaran dengan menggunakan media isyarat dan ejaan jari disamping bicara dan membaca ujaran.

Metode Gallaudet merupakan campuran yaitu mencampurkan metode bicara, membaca ujaran, isyarat dan ejaan jari dalam kegiatan pembelajaran. Metodenya disebut sebagai Combined System.

Hellen Keller

Keller adalah seorang tokoh yang sangat terkenal dan luar biasa, karena dia seorang yang memiliki kebutuhan khusus (mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan) namun mampu menguasai bahasa verbal secara sempurna melalui penggunaan abjad tangan dan tulisan braille, disamping itu dia juga menguasai bahasa lisan melalui penggunaan metode Tadoma

Dr. Ewing

Tokoh pendidikan AGP dari Inggris yang bernama Ewing (1947), dia memelopori penangan dini bagi pendidikan AGP (Pendidikan Usia Dini bagi AGP),  Pada tahun 1957 diikuti oleh seorang tokoh pendidikan dari negeri Balanda yaitu  Van Uden.

Uden seorang tokoh terkenal Metode Maternal Reflektif dalam mengembangkan bahasa untuk AGP dengan menggunakan Model Penguasaan Bahasa Ibu.

Uden dalam memberikan pengalaman-pengalaman pembelajaran bahasanya kepada anak yang mengalami gangguan pendengaran menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan oleh seorang ibu dalam melakukan percakapan dengan anaknya yang belum berbahasa.

Westerveld

Seorang tokoh pendidikan AGP dari Amerika. Westerveld terkenal dengan penemuannya dalam pengajaran bahasa untuk AGP dengan menggunakan metode oral yang dipadu dengan metode abjad jari (bukan isyarat),

Metodenya disebut sebagai Metode Rochester

TERMINOLOGI DAN PERKEMBANGAN SIBI

• Isyarat lokal adalah isyarat yang tumbuh dan berkembang pada komunitas tunarungu di wilayah Indonesia

• Isyarat serapan adalah isyarat yang diangkat dari isyarat-isyarat berkembang dari negara lain

• Isyarat temuan adalah isyarat-isyarat baru yang ditemukan pada saat ujicoba

• Isyarat tempaan adalah isyarat yang ditempa oleh KKPLB

• 1992 panduan dan isyarat yang dikembangkan KKPLB diujicoba di 5 SLB

• 1993 PPKSP BP3K memadukan isyarat yang dikembangkan oleh KKPLB, Karya Mulya dan Zinnia dan tersusun Draf Kamus Isyarat Bahasa Indonesia  LANJUTAN

• 1993 DEPDIKBUD mengeluarkan kebijakan untuk memadukan isyarat hasil karya pengembangan P2KSP BP3K, KKPLB, SLB Zinnia dan SLB Karya Mulya, lahirlah kamus baku yaitu Kamus Isyarat Nasional

• Selanjutnya disebut ISYANDO

SIBI

Pengertian

• Tataan yang sistematis mengenai seperangkat isyarat jari, tangan dan berbagai gerak yang melambangkan kosa kata bahasa Indonesia

Tujuan

•Salah satu cara untuk membantu kelancaran berkomunikasi sesama kaum tunarungu di dalam masyarakat yang lebih luas   METODE KOMUNIKASI ATR

• Kelompok yang meyakini media komunikasi oral yang paling tepat digunakan untuk mengembangkan potensi ATR disebut aliran oral atau oralisme,

• Kelompok yang meyakini media komunikasi isyarat yang paling tepat digunakan untuk mengembangkan potensi ATR disebut aliran manual atau manualisme,

• Kelompok campuran (combined system), mereka yang meyakini bahwa media komunikasi oral maupun manual dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi ATR  ORALISME

• Titik berat metode komunikasi oral dalam mengekspresikan gagasan/pikiran/ perasaan:

- Pengucapan/ ujaran

- Membaca ujaran (speech reading)

• Tujuan ATR diberikan metode komunikasi oral yaitu agar ATR baik dalam menerima pesan atau mengekspresikan gagasan, pikiran, dan perasaannya diharapkan melalui cara-cara yang lazim digunakan oleh anak-anak pada umumnya, juga diharapkan dapat menerima akses kebahasaan yang lebih besar dari lingkungannya

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa agar ATR dapat menggunakan metode komunikasi oral dengan baik,

• Gunakan bahasa sehari-hari secara wajar

• Materi ambil dari pengalaman anak

• Berikan penekanan pada pembelajaran membaca ujaran

• Perkuat latihan meniru ujaran yang wajar

• Gunakan setiap kesempatan untuk memberikan pengalaman bahasa yang wajar

• Gunakan pendekatan percakapan dalam pembelajaran, karena melalui percakapan bukan hanya terjadi pertukaran pengalaman dan pikiran, dalam percakapan terjadi percakapan bahasa yang lengkap, seperti bentuk-bentuk kalimat, gaya bahasa, intonasi, irama dan lagu kalimat, percakapan juga merupakan dasar penguasaan bahasa.Jenis-jenis Pendekatan Metode Oral

• Pendekatan oral kinestetik, yaitu suatu pendekatan oral yang mengandalkan membaca ujaran, peniruan melalui penglihatan, serta rangsangan perabaan, dan kinestetik tanpa memanfaatkan sisa pendengaran

• Pendekatan Unisensory, yaitu suatu pendekatan yang memberikan penekanan terhadap penggunaan ABM yang bermutu tinggi serta latihan mendengar. Dalam pendekatan ini membaca ujaran dinomorduakan.

• Pendekatan Oral Grafik, yaitu pendekatan oral yang menggunakan tulisan sebagai sarana dalam mengembangkan kemampuan komunikasi oral. Alexander Graham Bell mengembangkan kemampuan bahasa istrinya yang mengalami gangguan pendengaran (tuli) dengan cara ini.

Pendekatan ini kemudian digunakan di SLB B St. Michielgestel Negeri Belanda untuk ATR yang menderita aphasia.

Orang mengalami gangguan fungsi otak mengalami kesulitan dalam mengontrol organ artikulasi dan mengalami kelemahan dalam mengingat data yang disajikan secara berurutan, seperti dalam membaca ujaranKelebihan-kelebihan menggunakan metode komunikasi oral

• Metode komunikasi oral lebih fleksibel, baik pembicara maupun lawan bicara, lebih bebas

• Metode komunikasi oral lebih berdifrensiasi, dapat mengungkapkan nuansa perasaan dan hal-hal yang abstrak

• Menggembirakan, karena dapat digunakan untuk melakukan komunikasi lebih luas dengan masyarakat pada umumnyaKelemahan-kelemahan menggunakan metode komunikasi oral

• Sulit dilaksanakan bagi anak yang mengalami gangguan pendengaran dan mengalami gangguan lain, seperti: gangguan penglihatan, gangguan kecerdasan

• Terdapat beberapa konsonan yang dasar pengucapannya tidak dapat diamati secara kasat mata, karena dibentuk di bagian belakang mulut, seperti: k, g, serta yang tidak dapat dibedakan pada waktu diucapkan, seperti pada kata ”babi – papi, palu – malu, baju – maju”

• Sulit diamati pada jarak panjang yang agak jauh

• Banyak kata-kata dalam gerak bentuk bibir sama tetapi memiliki makna yang berbeda.

Wicara sebagai Media Komunikasi Oral

• Wicara adalah kemampuan yang dimiliki oleh manusia dalam mengucapkan bunti-bunyi  bahasa untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, perasaan dengan memanfaatkan nafas, alat-alat ucap, otot-otot, dan syaraf secara terintegrasi.

• Wicara yaitu alat mengkomunikasikan pikiran, perasaan, gagasan, dalam kehidupan bermasyarakat  atau alat kontrol sosial, yang ditandai dengan ucapan yang jelas, pemilihan kata yang tepat dan penggunaan kelompok kata dan kalimat yang seksama.

Tujuan ATR diberikan latihan wicara

Agar:

• mampu mengucapkan kata, kelompok kata dan kalimat dengan jelas

• mampu mengendalikan alat ucapnya untuk perbaikan mutu bicaranya

• mampu memilih dan menggunakan kata dan kalimat yang tepat dalam berkomunikasi secara lisan

• senang menggunakan cara bicara dalam mengadakan komunikasi

• terampil menangkap menangkap bicara orang lain dengan cara membaca ujaran  dan memanfaatkan sisa pendengarannya

• meningkatkan sikap berpikir secara oral ATR kemampuan wicara baik

• Mampu berkomunikasi dalam masyarakat yang lebih luas,

• Mampu bekerja dan berintegrasi dalam masyarakat yang lebih luas

• Dapat mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidupMateri

• Latihan Wicara

• Latihan keterarahan wajah

• Latihan keterarahan suara

• Latihan pelemasan organ bicara: bibir, lidah, rahang

• Latihan pernafasan, seperti: meniup dengan hembusan, meniup dengan letupan, dan latihan menghirup dan menghembuskan nafas melalui hidung

• Latihan pembentukan suara: (1) menyadarkan untuk bersuara, (2) merasakan getaran pada dada pelatih, (3) menirukan ujaran pelatih sambil meraba dada, (4) melafalkan vokal bersuara, (5) meraban sambil merasakan getaran

• Latihan Pembentukan Fonem

• Latihan penggemblengan, perbaikan dan penyadaran irama

• Latihan pengembanganBahan-bahan Latihan

• Bahan fonologik

• Fonem segmental (fonem yang berwujud bunyi bahasa) vokal, konsonan, diftong

• Fonem suprasegmental (fonem yang tidak berwujud bunyi bahasa) aksen, intonasi, irama dan tempo

• Bahan morfologik; karta dasar, kata jadian/imbuhan, kata ulang dan kata majemuk

• Bahan sintaksis: kalimat berita, kalimat ajakan, perintah, larangan dan kalimat tanyaMetode

• Metode Global Diferensiasi, cara ini berangkat dari pertimbangan kebahasaan, yaitu bahasa pertama-tama menampakkan diri dalam ujaran dan dalam struktur  atau totalitas.

• Cara dimulai dengan cara ujaran yang utuh (global) kemudian ke fonem-fonem sebagai satuan bahasa yang paling kecil. Kegiatan dimulai dari kalimat ke kelompok kata ke kata dan ke fonem. Contoh:

Bu baju saya baru, kata Budi (kalimat), Bu / baju saya / baru, kata

Budi (kelompok kata)

Fonem yang akan dibentuk dan dikembangkan, fonem /b/, misalnya:

ba, ba, ba, bo,bo,bo, bu, bu, bu lalu kembali ke baju Budi baru

• Analisis Sintesis, yaitu kebalikan dari global difrensiasi, yakni dari fonem, kata, kelompok kata kemudian menuju ke kalimat

• Multi sensori. Metode ini didasarkan atas modalitas yang dimiliki anak, yaitu menggunakan seluruh sensori untuk memperoleh kesan-kesan bicara melalui penglihatan, pendengaran, taktil, kinestetik

• Metode suara, metode ini didasarkan atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ditemukannya alat bantu mendengar

Alat-alat

• Untuk rangsangan visual: cermin, lampu, buku catatan, gambar-gambar, kartu identifikasi, alat kontrol sengau, alat plosif dan pias kata

• Untuk rangsangan auditoris: speech trainer, ABD klasikal dan ABD individual,

• Untuk rangsangan vibrasi: vibrator dan sikat getar

• Untuk pernafasan: lilin, kipas, parfum, gelembung air sabun, peluit, saluran kayu dengan bola pingpong

• Untuk pelemasan: kue kering, permen bertangkai, madu dll Berdasarkan Fonetika

• Metode Fonetik, yaitu urutan latihan didasarkan pada mudah sukarnya bunyi bunyi menurut ilmu fonetik.

Bunyi bahasa diajarkan dari masing-masing deretan bunyi yang letaknya paling depan atu di muka mulut, karena bunyi-bunyi tersebut paling mudah dilihat dan paling mudah ditirukan. Pertama p, b, w, l, m kemudian t, d, n, lalu k, g dan yang terakhir c, j, ny.

• Metode Tangkap dan Peran Ganda. Metode ini didasarkan atas asas individualitas anak. Guru melatih anak untuk berbicara bukan berdasarkan pada urutan fonem, tetapi berdasarkan fonem yang paling mudah diucapkan. Kepekaan guru sangat dituntut dalam menangkap fonem yang diucapkan secara spontan. Fonem ini merupakan titik tolak yang dikembangkan dalam kata-kata sebagai materi pelajaran. Fonem-fonem yang sukar bagi anak tidak dipaksakan, tetapi ditunda dulu sampai anak sedikit maju.


TEKA TEKI KATA (WORDS PUZZLE)

Sesekali baik pula jika kita merangsang daya pikir anak-anak dari kelas yang lebih besar dengan permainan yang sedikit lebih menantang, seperti misalnya Teka-teki Kata berikut ini.

Teka-teki ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, Anda dapat menyesuaikan dengan kelas atau individu. Kata-kata yang digunakan memang dalam bahasa Inggris, namun tidaklah sulit karena kata-kata yang dicari tertera di bawahnya. Anda pun dapat berkreasi dengan kata-kata baru yang mungkin saja tersusun secara tidak sengaja di dalam deretan huruf yang tersedia. Jangan berhenti berkreasi!

Selamat mencoba, jangan lupa klik dulu gambarnya untuk memperbesar tampilan, baru kemudian Anda copy-paste. Tuhan Yesus memberkati.


BUKU CERITA: 03. TIMMY TIPTOES

Bercerita adalah suatu bagian yang paling mengasyikkan di Sekolah Minggu, apalagi jika gurunya bercerita dengan penghayatan dan pebuh kesungguhan. Memang, story telling itu tidak mudah, harus dilakukan dengan hati. Kesungguhan hati akan terlihat dari mimik, gerak tubuh, perubahan suara dan kesatuan antara dinamika unsur-unsur itu. Pendek kata, dalam kita bercerita, seluruh bagian tubuh harus ikut bertutur.

Kemampuan bercerita memang harus dipelajari dan dilatih, tapi tak apa, mulailah dengan bercerita dan bercerita, catatan penting adalah: jangan lupa menanamkan nilai moral lewat cerita tersebut. Itu akan mudah karena selama bercerita Anda akan menjadi pusat perhatian, dan sekali Anda mampu memikat perhatian anak-anak, seterusnya Anda akan menjadi idola. Ketika menjadi idola, segala perilaku, perkataan dan perbuatan Anda akan menjadi panutan, yah, begitulah memang seorang guru sekolah minggu. Tuntutan untuk menjadi tauladan akan melekat. Melekat dalam diri Anda dan lebih melekat lagi dalam benak anak-anak kita.

Catatan:

-  Silakan klik dan download file ini, lalu ambil juga gambar-gambarnya.

03. TIMMY TIPTOES

-  Anda bisa mencetak dan membacakan terjemahan cerita lalu tampilkan gambar-gambarnya (bisa juga menggunakan projektor, OHP atau infocus).

- Cerita memang dalam bahasa Inggris sederhana, Anda bisa menerjemahkan secara bebas dan berkreasi mengembangkan cerita karena inti cerita lebih banyak terdapat pada gambar-gambarnya.

- Cerita ini bukan hanya cocok untuk lingkungan sekolah minggu atau di kalangan umat Kristen saja, tapi cerita umum klasik dengan nilai-nilai yang bersifat universal.


BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 2): FOTO KARYA KEVIN CARTER, dll.

Sudan Famine, Kevin Carter

Sudan Famine, Kevin Carter

Beberapa malam ini perasaan saya sungguh terguncang ketika melihat sebuah foto karya Kevin Carter, pemenang Pulitzer tahun 1994.  Di foto itu terlihat seorang anak yang kurus kering dan kelaparan, diincar oleh seekor burung bangkai di belakangnya. Pada keterangan foto itu, tertulis bahwa tidak ada yang tahu nasib anak perempuan itu karena si fotografer segera pergi setelah memotretnya, kemudian si fotografer akhirnya meninggal bunuh diri karena depresi 3 bulan kemudian (ternyata keterangan itu tidak benar). Kevin Carter meninggal 3 bulan setelah foto masterpiece-nya itu menerima penghargaan Pulitzer tahun 1994. Apa yang sebenarnya terjadi pada foto dan fotografernya? Ada dorongan kuat untuk mencari tahu kisah di balik foto tersebut. Setelah googling kesana-kemari, akhirnya saya temukan beberapa keterangan.

Kevin Carter

Kevin Carter

Sang fotografer, Kevin Carter lahir 13 September 1960 di Johannesburg dan meninggal 27 Juli 1994, adalah seorang jurnalis foto asal Afrika Selatan. Sebelum memenangkan hadiah Pulitzer untuk Feature Photography tahun 1994, pada tahun 1983 ia memulai karir sebagai fotografer olahraga dan tahun 1984 pindah kerja ke Johannesburg Star, bertekat akan mengekspose kebrutalan apartheid.

necklacing

necklacing

Carterlah yang pertama membuat foto eksekusi di hadapan umum dengan “necklacing” yaitu hukuman sadis untuk seorang terhukum dengan cara mengalungkan ban karet yang diisi bensin, lalu dibakar. Dengan cara seperti itu, si terhukum biasanya mati dalam waktu 20 menit dan sangat tersiksa.

kevin_carter_image015

kevin_carter_image015

Bulan Maret 1993, Carter berangkat ke Sudan. Dalam suatu perjalanan ke suatu di desa bernama Ayod, ia melihat seorang anak kecil kurus kering sedang berjuang keras menuju dapur umum. Di tengah jalan si gadis kecil itu beristirahat dan tak lama kemudian seekor burung bangkai mendarat di belakangnya dan seakan menunggu kematian si gadis kecil itu. Menurut Carter, ia menunggu selama kurang-lebih 20 menit untuk menunggu burung bangkai itu merentangkan sayapnya, ternyata tidak. Akhirnya Carter memotret karya mengerikan itu, lalu mengusir si burung bangkai. Namun tindakannya itu tetap mengundang kritik karena tidak segera menolong sang gadis kecil, malah lebih dulu menunggu sekian lama untuk menghasilkan fotonya itu.

Foto itu kemudian dijual ke The New York Times dan diterbitkan tanggal 26 Maret 1993. Malam itu juga ratusan orang menelpon koran tersebut, menanyakan apakah anak kecil yang ada di foto bertahan hidup. Hari berikutnya, koran itu menambahkan catatan bahwa si gadis kecil bertahan hidup dan mampu menghindari burung bangkai namun bagaimana nasibnya kemudian tak ada yang tahu. Menanggapi hal itu, ada penulis lain yang mengatakan bahwa jika burung bangkai mengamati calon korbannya hingga lemah, maka Carter mengamati dengan cara yang sama dari balik lensa kameranya.

Pada tanggal 2 April 1994, Nancy Buirski, editor foto asing New York Times menelpon Carter dan memberitahukan bahwa fotonya memenangkan penghargaan paling bergengsi untuk jurnalisme foto. Carter dianugerahi Penghargaan Pulitzer untuk Fotografi Fitur pada tanggal 23 Mei 1994 di Low Memorial Library Columbia University.

Pada tanggal 27 Juli 1994 Carter mengendarai mobilnya ke sungai Braamfontein Spruit tak jauh dari Field and Study Centre, tempat dimana ia sering bermain-main di masa kecilnya. Di situlah ia bunuh diri, setelah dengan sengaja mengalirkan asap dari knalpotnya ke dalam mobil. Ia dinyatakan meninggal karena keracunan karbonmonoksida di usia 33 tahun.

Dalam surat terakhirnya sebelum bunuh diri Carter menyatakan bahwa ia benar-benar tertekan, depresi akibat bangkrut serta dihantui bayangan kejamnya perang, pembunuhan, kemarahan dan sakit… anak-anak yang terluka dan kelaparan, orang-orang gila yang gemar menarik pemicu senjata, seringkali adalah polisi, algojo pembunuh. Pada bagian akhir, Carter menulis, “Aku pergi bergabung dengan Ken, jika beruntung”. Ken yang dimaksud adalah Ken Oosterbroek adalah sahabatnya, sesama fotografer yang terbunuh dalam suatu insiden di bulan April 1994, 3 bulan sebelum Carter bunuh diri. Tragis.

Inilah beberapa foto karya Kevin Carter dan rekannya yang lain mengenai bencana kelaparan.

soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter

soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter

famine-relief05

famine-relief05

sudan2- karya james-nachtwey

sudan2- karya james-nachtwey

starvation

starvation

Jika di atas kita melihat foto-foto mengenai korban kelaparan yang setengah mati, berikut ini foto-foto pemakaman para korban yang mati akibat kelaparan.

Memandikan Jenazah, karya Don Melvin

Memandikan Jenazah, karya Don Melvin

www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya

http://www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya

Pemakaman Korban Kelaparan

Pemakaman Korban Kelaparan


BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 1)

Perasaan saya tergugah ketika melihat beberapa foto tentang bencana kelaparan yang menimpa berbagai belahan dunia. Korban terbanyak yang tak mampu menahan derita itu adalah anak-anak.

Dengan penjelasan yang baik, mungkin ada baiknya anak-anak kita melihat foto-foto tersebut, bahkan mungkin juga kita yang dewasa, termasuk guru-guru sekolah minggu serta orang tua. Inilah beberapa di antaranya.

Silakan klik gambar untuk memperbesar tampilan.

Jelas salah kalau kita merasa bersyukur karena melihat penderitaan orang lain, namun adalah baik halnya jika kita diingatkan untuk bersyukur karena pemeliharaan Tuhan atas kita dan untuk bertindak meringankan beban mereka yang kurang beruntung!


BUKU CERITA: 02. BENJAMIN BUNNY

Bercerita adalah suatu bagian yang paling mengasyikkan di Sekolah Minggu, apalagi jika gurunya bercerita dengan penghayatan dan pebuh kesungguhan. Memang, story telling itu tidak mudah, harus dilakukan dengan hati. Kesungguhan hati akan terlihat dari mimik, gerak tubuh, perubahan suara dan kesatuan antara dinamika unsur-unsur itu. Pendek kata, dalam kita bercerita, seluruh bagian tubuh harus ikut bertutur.

Kemampuan bercerita memang harus dipelajari dan dilatih, tapi tak apa, mulailah dengan bercerita dan bercerita, catatan penting adalah: jangan lupa menanamkan nilai moral lewat cerita tersebut. Itu akan mudah karena selama bercerita Anda akan menjadi pusat perhatian, dan sekali Anda mampu memikat perhatian anak-anak, seterusnya Anda akan menjadi idola. Ketika menjadi idola, segala perilaku, perkataan dan perbuatan Anda akan menjadi panutan, yah, begitulah memang seorang guru sekolah minggu. Tuntutan untuk menjadi tauladan akan melekat. Melekat dalam diri Anda dan lebih melekat lagi dalam benak anak-anak kita.

Catatan:

-  Silakan klik dan download file ini, lalu ambil juga gambar-gambarnya.

02. BENJAMIN BUNNY

-  Anda bisa mencetak dan membacakan terjemahan cerita lalu tampilkan gambar-gambarnya (bisa juga menggunakan projektor, OHP atau infocus).

- Cerita memang dalam bahasa Inggris sederhana, Anda bisa menerjemahkan secara bebas dan berkreasi mengembangkan cerita karena inti cerita lebih banyak terdapat pada gambar-gambarnya.

- Cerita ini bukan hanya cocok untuk lingkungan sekolah minggu atau di kalangan umat Kristen saja, tapi cerita umum klasik dengan nilai-nilai yang bersifat universal.


BUKU CERITA: 01. FLOOPSY BUNNIES

Bercerita adalah suatu bagian yang paling mengasyikkan di Sekolah Minggu, apalagi jika gurunya bercerita dengan penghayatan dan pebuh kesungguhan. Memang, story telling itu tidak mudah, harus dilakukan dengan hati. Kesungguhan hati akan terlihat dari mimik, gerak tubuh, perubahan suara dan kesatuan antara dinamika unsur-unsur itu. Pendek kata, dalam kita bercerita, seluruh bagian tubuh harus ikut bertutur.

Kemampuan bercerita memang harus dipelajari dan dilatih, tapi tak apa, mulailah dengan bercerita dan bercerita, catatan penting adalah: jangan lupa menanamkan nilai moral lewat cerita tersebut. Itu akan mudah karena selama bercerita Anda akan menjadi pusat perhatian, dan sekali Anda mampu memikat perhatian anak-anak, seterusnya Anda akan menjadi idola. Ketika menjadi idola, segala perilaku, perkataan dan perbuatan Anda akan menjadi panutan, yah, begitulah memang seorang guru sekolah minggu. Tuntutan untuk menjadi tauladan akan melekat. Melekat dalam diri Anda dan lebih melekat lagi dalam benak anak-anak kita.

Catatan:

-  Silakan klik dan download file ini, lalu ambil juga gambar-gambarnya.

01. FLOOPSY BUNNIES

-  Anda bisa mencetak dan membacakan terjemahan cerita lalu tampilkan gambar-gambarnya (bisa juga menggunakan projektor, OHP atau infocus).

- Cerita memang dalam bahasa Inggris sederhana, Anda bisa menerjemahkan secara bebas dan berkreasi mengembangkan cerita karena inti cerita lebih banyak terdapat pada gambar-gambarnya.

- Cerita ini bukan hanya cocok untuk lingkungan sekolah minggu atau di kalangan umat Kristen saja, tapi cerita umum klasik dengan nilai-nilai yang bersifat universal.

Buku-buku cerita ini seluruhnya diperoleh atas pelayanan Project Gutenberg dan tidak digunakan untuk tujuan komersial.

Selamat bercerita!


BUKU MEWARNA: BERMAIN DI ALAM BEBAS

Bermain di alam bebas selalu menggairahkan dan memberikan kesenangan yang tak dapat ditandingi oleh aneka video games atau acara televisi yang mana saja. Kisahkan pula keagungan Tuhan kita, pencipta alam semesta agar anak-anak semakin menyadari siapa kita dan bagaimana baiknya Tuhan Yesus itu.

Selamat mengajar, tetaplah jadi guru yang taat pada sang Mahaguru!


BUKU MEWARNA: CERIA BERMAIN

Anak dan segala aktivitasnya di alam bebas selalu menampilkan keceriaan. Mari warnai cerah-cerianya gambar-gambar kegiatan mereka berikut ini.

Selamat mencoba! Tetaplah gembira, jangan henti berdoa.


BUKU MEWARNA: KEGIATAN PRAMUKA

Saat masih kecil dulu, bergabung dengan Pramuka terasa sangat membanggakan. Saya teringat semua aktivitas menyenangkan dan mendidik mulai dari tingkat Siaga hingga Penggalang. Menjadi anggota Pramuka terasa sangat spesial!

Maaf, sekarang sepertinya Pramuka pasaran banget karena semua anak sekolah diwajibkan, sehingga yang tidak benar-benar minat pun sekan dipaksa mengenakan seragam dan atribut Pramuka yang sangat dihormati. Akibatnya banyak yang berseragam tapi tidak bangga dan disiplin saat mengenakannya. Memang mengecewakan… tapi lupakan itu, yang penting nilai-nilai kebanggaan dan pelajaran Pramuka tetap ada!

Saya yakin, sangatlah baik jika anak-anak kita mengenal juga apa sebenarnya Pramuka dan Kepanduan lewat gambar-gambar ini. Selamat bersenang-senang.


BUKU MEWARNA: PENCIPTAAN

Salam, jumpa lagi rekan-rekan Guru Sekolah Minggu tercinta dan orang tua yang sayang anaknya!

Gambar-gambar berikut ini terdiri dari tiga kelompok bahan ajar tentang Penciptaan. Sambil beramai-ramai mewarnai, tuntun dan perdengarkan Firman Tuhan untuk anak-anak.

Selamat mengajar dan bermain dalam kegirangan sorgawi.


CATATAN KHUSUS: MELAYANI MURID TUNA RUNGU 2

Jangan sampai seorang Guru Sekolah Minggu kesulitan atau karena keterbatasannya sampai mengabaikan murid yang memiliki kekhususan. Carilah cara untuk mengatasinya. Belajar bahasa isyarat, melakukan pendekatan khusus dan cari tahu dari berbagai sumber untuk melayani mereka dengan baik.

Berikut ini beberapa artikel, catatan yang sangat berharga dari seorang penulis yang mau berbagi pengalaman mereka. Terimakasih banyak untuk Mama Ellen dan Papa Ellen.

Koordinasi Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Proses Belajar Anak Tuna Rungu

(by: mama Ellen, edited by papa Ellen)

Kendala Ellen Peran guru Tim PP Teman Orang tua
Memahami percakapan di kelas Memberi tahu orang tua materi harian, kalau bisa >1 hari sebelumnya (untuk mencari gambar yg sulit diperoleh) • Menyiapkan Ellen sebelumnya• Mengulang lagi sesudahnya
Memahami instruksi guru Guru pendamping mengulang dengan bicara dekat telinga, volume normal, kalimat pendek, pointnya saja

jika belum mengerti:

• dengan gerakan tangan

• ditulis di buku catatan

Melatih di rumah sesuai catatan dari guru
Memahami pembicaraan teman Berbicara secara biasa (bertatap muka)

jika blm mengerti:

dengan gerakan tangan

Mengajar Ellen menjawab pertanyaan/ mengucapkan sesuatu Berbicara dekat telingajika Ellen sulit mengucapkan:• dibantu dengan Ellen melihat gerakan mulut• ditulis di buku catatan Melatih di rumah sesuai catatan dari guru
Pengucapan belum jelas Membetulkan pengucapan dgn teknik2 terapi wicara • Memberi masukan pada tim PP mengenai kata-kata baru yang sudah dimengerti Ellen, untuk dibetulkan pengucapannya• Membantu follow up dengan teknik auditori verbal
Keterbatasan vocab Menguji pemahaman berdasarkan laporan berkala dari orang tua • Memasok kosa kata2 baru dengan teknik auditori verbal, terutama yang sedang jadi materi di kelas

• Melaporkan pada tim PP secara berkala (mingguan)

Komunikasi Sehari-hari Anak Tuna Rungu

Dalam percakapan sehari-hari dengan kata-kata yang sudah “dimengerti” Ellen, bukan ketika sedang terapi atau mengajarkan kata/kalimat baru (maksud “dimengerti”: Ellen sudah paham yang kita maksud, walaupun kadang ia bisa merespon dengan kata-kata dan kadang belum bisa):

kita berbicara secara normal
(sebagaimana bicara dengan semua orang lain)

Karena untuk itulah Ellen dimasukkan ke komunitas umum supaya sedikit demi sedikit belajar sampai suatu saat bisa mengejar ketertinggalannya.

Jadi kami minta pengertian dan kerjasama semua pihak yang terkait dengan kehidupan sehari-hari Ellen (keluarga, pengasuh, guru sekolah, terapis wicara, guru sekolah minggu, teman-teman, tetangga) untuk:

1. Tidak memandang Ellen sebagai anak yang khusus jadi tidak perlu mengajaknya berkomunikasi dengan cara khusus (memperlihatkan gerak bibir, berbicara keras/teriak, bahasa isyarat/gerakan tangan)

2. Memahami keterbatasan komunikasi Ellen karena usia mendengarnya yang baru 2 tahun sehingga belum banyak kosa kata (tetapi perkembangan intelektualnya biasa) dan berbicara secara normal sebagaimana kepada anak yang masih sangat kecil, sambil memberi ruang kepada Ellen untuk mengejar ketertinggalannya.

Point 1 terutama sangat berat. Sulit sekali mengubah paradigma dan persepsi kebanyakan orang terhadap anak tuna rungu: Bahwa anak tuna rungu tidak bisa mendengar, sehingga harus bicara berhadap-hadapan dengan perlihatkan gerak bibir, dengan suara keras/teriak, dengan bantuan isyarat/gerakan tangan.

Syukurlah anggota keluarga di rumah sudah sama pandangan dan menerapkannya. Kalangan lain mudah-mudahan bisa segera menyusul.

Terapi Terpadu untuk Anak Tuna Rungu

Prinsip Dasar Terapi Ellen
(Terapi terpadu = terapi mendengar + terapi wicara)

1. Mendengar melalui telinga yang dibantu ABD, bukan karena melihat gerakan tangan atau gerakan mulut.

2. Keterbatasan si anak dalam merespon pembicaraan kita adalah karena belum mengerti kata/kalimat yang didengar (keterbatasan kosa kata, karena baru mulai mendengar selama 2 tahun), sehingga perlu dibantu dengan gambar/gerakan tangan. Tetapi bantuan inipun sifatnya hanya sesaat dalam rangka memasok kata baru, setelah kata tersebut dimengerti, bantuan visual dihilangkan.

3. Karena itu yang penting adalah memasok kosa kata ke telinga Ellen, tanpa menuntut dia segera/langsung dapat mengerti apalagi mengucapkan. John Tracy Clinic menuliskan: untuk dapat mengerti suatu kata si anak harus mendengar 100 kali, untuk dapat mengucapkan ia harus mendengar 1000 kali. Jadi sejak Ellen memakai ABD kami konsentrasi memasok dan memasok kata ke telinganya (saat bercakap-cakap normal, maupun saat spesifik mengajarkan kata-kata baru).

4. Teknik berbicara adalah dengan volume suara normal di dekat telinganya. Hal ini bertujuan agar suluruh konsonan dapat ditangkap. Bicara pada jarak yang lebih jauh dengan suara keras (berteriak) menyebabkan yang ditangkap hanya vokal saja.

5. Kami telah menerapkan point 1-4 selama 1 tahun dan telah terbukti menunjukkan hasil yang baik. Pada akhir tahun pertama, dia baru memiliki bahasa reseptif (paham beberapa kata yang kami ucapkan tanpa dia melihat gerak bibir, tapi dia belum bisa mengucapkannya), lalu setelah itu mulai muncul kata-kata pertamanya (walau pengucapan tidak sempurna, tetapi konsisten), dan langsung disusul dengan kata-kata berikutnya. Metode ini biasa disebut teknik auditory verbal. Ini yang kami terapkan…

6. Kendala yang muncul adalah pengucapan yang masih sangat lemah, karena itulah atas saran John Tracy Clinic kemudian Ellen dibantu terapi wicara (di suatu RS). Terapis wicara membantu membentuk pengucapan Ellen dengan teknik terapi wicara terhadap kata-kata yang sudah dimengerti Ellen tetapi belum bagus pengucapannya. Walaupun hanya 4 bulan (terpaksa quit karena tidak tertampung jadwal baru mereka yang hanya pagi–siang), pola ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Metode auditory verbal + terapi wicara ini biasa disebut auditory oral. Ini yang kami lanjut-terapkan saat ini (dengan bantuan terapis wicara di sekolah).

Catatan:
– Penelitian modern menyatakan hampir semua anak tuna rungu masih punya sisa pendengaran (tidak 100% tuli). Sisa pendengaran ini dapat dioptimalkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD, walaupun tidak secanggih implan koklea).
– Tetapi memakai ABD tidak sama dengan orang memakai kaca mata, yang langsung bisa melihat dengan lebih jelas. Karena respon atas stimuli visual adalah langsung, sedangkan respon atas stimuli auditori adalah melalui tahap pemahaman/interpretasi dulu. Untuk mencapai tahap pemahaman yang penting adalah harus sering mendengar dan mendengar, dengan pengucapan yang jelas, kalimat pendek, dan jika perlu disertai bantuan visual: gambar & gerakan tangan (kadang tanpa bantuan akan sulit anak memahami kata-kata baru, mirip kita nonton film berbahasa asing dimana kita mendengar pemain berbicara cas-cis-cus tanpa kita menangkap artinya). Tetapi bantuan itu perlahan dihilangkan, sehingga nantinya hanya akan berkomunikasi secara verbal.(by: mama Ellen, edited by papa Ellen)

Sumber:

http://yefvie.wordpress.com/category/tuna-rungu/

http://tunarungu.wordpress.com/


CATATAN KHUSUS: MELAYANI MURID TUNA RUNGU 1

Terapi Musik untuk Anak Tuna Rungu

CAMT, Wilfrid Laurier University (terjemahan bebas oleh: Nora. A. Rizal)

Kerusakan pendengaran ditengarai merupakan salah satu kecacatan syaraf yang paling merusakkan. Dimana kecacatan penglihatan merupakan handicap kita dengan sekeliling kita, sedangkan kecacatan pendengaran merupakan handicap komunikasi dengan masarakat (Darrow, 1989). Komunikasi merupakan dasar dari kehidupan social kita dan aktivitas intelektual, dan tanpa itu kita terputus dari dunia. Untuk alasan inilah, praktek klinik dalam terapi musik untuk tuna rungu di fokuskan pada area yang berhubungan dengan komunikasi seperti : pelatihan auditory, produksi suara (berbicara) dan perkembangan bahasa. Melalui penelitian dalam kekurangan pada komunikasi ini, terapi musik menjadi suatu efek kedua untuk memperbaiki rasa sosial dan kepercayaan diri.

Terapi musik masih dianggap tidak praktis. Dikarenakan sebagian besar orang masih mempunyai konsep yang salah terhadap ketuna runguan dalam kapasitasnya untuk mendengar dan mengapresiasi stimulus musik. Seperti yang telah Darrow (1989) katakan, hanya sebagian kecil persentasi dari ketunarunguan yang tidak bisa mendengar sama sekali. Selanjutnya ia mengatakan bahwa, dikarenakan variasi dari frekuensi dan intensitas pada musik, persepsi musik malah lebih bisa ter-akses, dibandingkan dengan sinyal percakapan yang lebih kompleks. Musik juga sangat fleksible dan dapat dimodifikasikan pada level pendengaran pada setiap orang, level bahasa, kematangan dan preferensi musik.

Robbins & Robbins (1980), yang membuat manual resource yang komprehensif dan kurikulum bagi terapi musik untuk tuna runggu melakukan pendekatan terhadap subyek bersangkutan dengan mempunyai sikap yang mempercayai bahwa sense terhadap musik ada pada setiap orang. Melalui musik, mereka mengarah pada sensitivitas yang inherent dan kapasitas merespon langsung kepada ekspresi dari ritme dan variasi nada, yang dideskripsikan sebagai musik. Mereka juga menekankan, bahwa musik dari berbagai sisi mempunyai efek pada manusia. Musik merupakan media untuk aktivitas dalam bereksplorasi dan pengalaman diri, sehingga berhubungan langsung pada bicara dan bahasa, komunikasi dan pikiran, juga pada ekspresi tubuh dan emosi dalam skala besar. Sehingga terapi musik dapat masuk dan meningkatkan habilitas dan perkembangan secara luas bagi ketuna runguan.

Bagi penderita tuna rungu, terapi musik dapat:

Meningkatkan auditory, pelatihan dan perluasan penggunaan dari sisa pendengaran

Auditory training, merupakan bagian yang terintegrasi denga proses habilitasi pada penderita tunarungu. Tiap individu harus belajar untuk menginterpretasikan dan mengikuti suara, terutama percakapan dalam lingkungannya, dengan maksud untuk meningkatkan rate dan kulitas perkembangan sosial dan komunikasi. Tujuan utama dari auditory training ini adalah untuk mengembakan sisa pendengaran menjadi maksimal. Mereka harus belajar untuk mendengarkan mental yang kompleks dan proses aural. Pelatihan auditori cenderung fokus pada developmment dan fokus untuk analisis suara untuk pasien tuna rungu, dan ini akan menjadikan suatu proses yang membosankan dan tidak menarik. Maka dari itu musik menjadi suatu alat yang memotivasi dan menghidupkan sesi-sesi ini.

Percakapan dan musik mengandung banyak persamaan. Persepsi auditori pada percakapan dan musik melibatkan kemampuan untuk membedakan antara perbedaan suara, pitch, durasi, intensitas dan warna nada dan bagaimana suara bisa berubah-ubah sepanjang waktu. Properti-properti ini terdapat pada kemampuan pendengaran untuk menginterpretasi suara dan mengartikannya. Persamaan yang ada antara musik dan percakapan menyebabkan musik dan terapi musik membuat suatu alternatif dan alat yang menyenangkan untuk melengkapi tehnik pelatihan auditory sebelumnya (Darrow, 1989).

Prosedur terapi musik dapat dapat memberikan beberapa obyek pada pelatihan auditory. Perhatian terhadap suara, perhatian terhadap perbedaan dalam suara, mengenali obyek dan juga suara obyek tersebut, dan penggunaan pendengaran untuk menentukan jarak dan lokasi dari suara dapat dilatih melalui pengalaman pada musik (Darrow 1989). Selain itu, Robbins & Robbins (1980) menemukan bahwa dengan musik yang cocok lebih gampang untuk di dengar dan diasimilasikan dibandingkan dengan percakapan, sehingga lebih cocok untuk dapat menstimulasi motivasi alami pada sisa pendengaran.

Amir & Schuchman (1985) membuat suatu program terapi musik untuk mengembangkan dan meningkatkan kecakapan dalam kesadaran akan suara musik, kesadaran akan kontras intensitas, menyadari adanya suara musik dan juga patron dari musik tersebut. Suatu investigasi untuk melihat keefektifan dari program tersebut memberikan suatu hasil bahwa ada aspek-aspek tertentu untuk seseorang yang profoundly deaf dapat diukur peningkatannya melalui suatu program sistimatik pada pelatihan pendengarannya dalam konteks musikal. Terutama level pendiskriminasian subyek secara signifikan meningkat dan pelatihan dari subyek dalam menerima musik dan juga lingkungan musik tersebut. Amir & Schuchman selanjutnya menyuport penggunaan terapi musik ini dikarenakan hal ini memberikan suatu diversifikasi yang menarik dan pengalam pengajaran yang positif, dengan memperkuat penggunaan sisa pendengaran. Meningkatkan perkembangan percakapan dan meningkatkan intonasi/ritme suara dalam percakapan.

Suara dari seseorang yang mempunyai kekurangan pendengaran sering terdengar aneh dan tidak natural. Pada individu ini sering terjadi kurangnya feedback mekanisme internal yang diperlukan untuk memonitor dan menyesuaikan, sebagai contoh, pelafalan kata-kata, perubahan tinggi rendah (pitch) suara ataupun ritme suara. Sebagai konsekuensi produksi dari suara percakapan mereka sering tidak jelas dan terdistorsi. Penderita tuna rungu ini juga cenderung menunjukkan sedikit variasi pitch dan intonasi dibandingkan orang dengan pendengaran normal, sehingga menghasilkan suara yang monoton. Mereka sering memanjangkan suku kata dan atau kalimat dan juga sering mengambil jeda pada posisi yang tidak tepat. Problem-problem dari ritme dan intonasi ini berpengaruhi pada ketidak jelasan dalam bercakap.

Tehnik dari terapi dan aktivitas musik dapat membantu secara efektif pada perkembangan percakapan dari segi ritme, intonasi, rate dan tekanan suara. Darrow (1989) mendisikusikan penggunaan terapi musik dalam pengertian berbahasa, intonasi vokal, kualitas vokal dan berbicara lancar. Proses bernafas, ritme dan pengambilan waktu yang tepat, pitch dan artikulasi yang diperlukan untuk bernyanyi, memberikan struktur dan motivasi yang penting pagi pasien. Darrow juga menekankan pada pentingnya feedback yang konstan untuk si terapis.

Darrow & Starmer (1986) mempelajari efek dari pelatihan vokal pada frekuensi dasar, range frekuensi dan kecepatan percakapan pada suara anak-anak tuna rungu. Anak-anak ini cenderung mempunyai frekuensi dasar yang tinggi dan sedikit variasi pitch, memproduksi suatu permasalahan dalam kecakapan berbicara. Hasil dari studi ini menyarankan bahwa dengan latihan pada vokal tertentu dan menyanyikan lagu-lagu pada kunci nada rendah yang tepat dapat membantu memodifikasian frekuensi dasar dan range frekuensi pada pasien. Studi lain dari Darrow (1984) juga menunjukkan peran dari terapi musik adalah melatih respons ritme, sehingga membuat respons pada ritme dari suara percakapan menjadi lebih baik.

Staum (1987) telah sukses menggunakan notasi musik untuk mempengaruhi dalam memperbaiki pengucapan bahasa pasien. Ia menggunakan sistem notasi visual sebagai alat untuk membantu pasien dalam mencocokkan kata-kata atau suara dari kata-kata baik yang lazim maupun tidak lazim, dengan ritme yang tepat dan struktur yang dari pitch yang mudah. Hasil positif yang didapat adalah nada pelafalan pengucapan lebih berkembang, juga penyamarataan dan transfer ilmu berkembang secara signifikan

Robbins & Robbins (1980), setelah pelatihan pada pasien tunarungu, mengatakan bahwa kontribusi dari terapi musik untuk memperkuat dan/atau mempercepat pembelajaran dan penggunaan percakapan, vokal yg lebih luas/spontan dan mantap, memperbaiki kualitas suara dan lebih leluasa dalam menggunakan intonasi dan ritme.

Meningkatkan perkembangan dan pendidikan bahasa, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara umum

Bagi anak-anak tuna rungu, keterbatasan input pendengaran tidak hanya mempengaruhi kemampuan untuk mendengar suara percakapan dari orang lain, namun juga mempunyai dampak negatif terhadap perkembangan bahasa mereka sendiri. Keteraturan memperdengarkan bahasa melalui pendengaran, memberikan informasi penting mengenai vocabulary, syntax (kalimat), semantics (arti kata) dan pragmatics, yang mana hal ini secara langsung diterima oleh anak dengan pendengaran normal. Tanpa keteraturan mendengarkan ini, bagi anak dengan pendengaran terbatas biasanya akan mempunyak banyak problem pada bahasa mereka. Kesulitan itu biasanya terdapat pada kurangnya vocabulary, kesulitan dalam mengartikan kata, menggunakan kata yang salah, struktur dan isi bahasa yang salah, dan lainnya. Kesulitan-kesulitan dalam menggunakan bahsa ini selanjutnya akan menghalangi individu tersebut dari komunikasi yang mempunyai arti dan juga berinteraksi. Problem berbahasa dapat menimbulkan efek negatif pada pendidikan seperti membaca, menulis dan pemahaman (Gfeller, & Baumann, 1988).

Secara signifikan terapi musik memberikan konstribusi pada kemampuan untuk berkomunikasi dan berbahasa pada pasien tuna rungu. Sebagai contoh Gfeller (1990), mendiskusikan tentang pengayaan repertoire musik dan pengalaman bergerak dalam terapi musik, yang dapat di gabungkan dengan percakapan dan, setelahnya penulisan kata. Anak-anak kecil terutama menggunakan setiap saat pergerakan motorik dan belajar sesuatu melalui manipulasi dari lingkungannya. Instrument musik dan materialnya kaya akan sumber-sumber keterlibatan pada sensorik dan motorik. Pengalaman pada Multi sensory bahwa musik merupakan alat pembelajaran yang bernilai, yang pada akhirnya juga terkait pada representasi mental atau simbol, Gfeller (1990). Event musik dan sekuensialnya dapat dibuat oleh para terapis sebagai model penggunaan bahasa untuk anak. Semenjak rehabilitasi bahasa merupakan suatu proses yang panjang dan lama, terapis musik dapat memberikan motivasi penting untuk membuat aktifitas menjadi bermain dan menyenangkan. Aktivitas dalam terapi musik dapat juga membuat suatu oportuniti untuk menggunakan konsep bahasa dalam konteks yang berbeda

Penelitian lain juga menemukan bahwa integrasi musik dalam pendidikan sebagai bahasa seni sangat menguntungkan (Darrow, 1989; Gfeller, & Darrow, 1987). Tidak hanya meningkatkan motivasi tapi juga memberikan sebuah pendekatan multi sensori untuk belajar, yang dapat membantu pasien untuk mendalami arti dari kata-kata baru. Bernyanyi contohnya, memberikan suatu kesempatan untuk secara intensif menggunakan pendengaran dan beraktifitas vokal. Mempelajari lagu dapat menstimulasi latihan dalam pembedaan auditori, membedakan dan meleburkan bunyi huruf, pengucapan suku-suku kata dan pelafalan kata (Gfeller, & Darrow, 1987). Hal ini dapat juga membantu mengembangkan penguasaan kata-kata dan memberikan suatu pengalaman dalam belajar membuat struktur kalimat dan semantiknya. Membuat lagu dapat juga bertujuan sama. Lagu juga mempunyai kelebihan dalam melafalkan suatu patron nada, menjadi tidak monoton.

Disamping meningkatkan perkembangan bahasa dan mendidik bahasa pada pasien tuna rungu, terapi musik juga meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan memberikan semacam kesadaran dan kemampuan melihat suatu arti yang diselaraskan/disampaikan melalui “nada pada suara”. Hal-hal penting didalam berkomunikasi dengan orang lain adalah espresi wajah, body language, dan pitch serta intensitas dinamik. Kesadaran dan kepekaan terhadap style dari bahasa yang diucapkan oleh diri sendiri dan orang lain, dapat diberikan dengan berhasil melalui penerapan terapi musik. Dengan menggayakan suatu lagu dan memberi isyarat pada lagu dengan cara yang “gaya baik/indah”, seseorang dapat mempelajari untuk menggunakan dan menyadari nuansa dalam berkomunikasi dengan yang lain (Gfeller, & Darrow, 1987). Berisyarat dalam bernyanyi juga memberikan suatu kesempatan untuk mengeksplorasikan ekspresi dari emosi sendiri, karena lirik dan melodi secara persamaan dapat mengungkapakan suatu ekspresi jiwa dibandingkan dengan hanya berbicara.

Mengembangkan jiwa sosialisasi, kesadaran diri, kepuasan emosinal dan meningkatkan kepercayaan diri

Didalam beberapa literatur mengkarakterkan bahwa seseorang tuna rungu mempunya perasaan kuat akan rendah diri dan depresi, juga mempunyai sikap tidak bisa dipengaruhi dan tertutup (lihat ulasan ulang dari Galloway, & Bean, 1974). Body-image dan kesadaran yang tidak terlalu baik, kurangnya berbahasa dan berkomunikasi, dan tertutupnya rasa sosialisasi, memberikan kontribusi secara signifikan pada perasaan-perasaan ini. Terapi musik dapat memberikan kesempatan yang penting untuk memperbaiki masalah ini dan meningkatkan rasa percaya diri seseorang yang tuna rungu.

Brick (1973) menemukan eurhythmics—Seni dari keharmonisan dan gerak tubuh yang ekspresif—dan aktifitas musik yang memberikan pasien suatu pengalaman yang menyenangkan, dimana hal tersebut memberikan energi kreatif untuk pasien. Hal ini sebaliknya membantu mengembangkan kepercayaan diri, memberi rasa bangga dalam menyelesaikan sesuatu dan bekerja sama dalam satu grup. Robbins & Robbins (1980) juga menemukan bahwa aktifitas kelompok musik dapat memberikan contoh untuk menyesuaikan didalam bersosialisasi. Hasil hakiki yang didapat dalam pengalaman bermusik sepertinya dapat memotivasi pasien yang selalu melawan untuk dapat bekerja sama (co-operative), yang selalu tidak fokus menjadi fokus dan yang selalu gagal menjadi berusaha untuk selalu menyelesaikan pekerjaannya. Pasien yang juga selalu jelek/gagal dalam hal lain, dapat menerima bantuan spesial dan kompensasi yang baik melalui terapi musik ini.

Body-image dan kesadaran juga dapat meningkat melalui terapi musik ini. Galloway & Bean (1974) menemukan bahwa aktivitas bernyanyi dan melakukan gerakan pada musik juga efektif. Robbins & Robbins (1980) juga menekankan pentingnya realistis dan positif pada diri sendiri. Mereka menemukan juga bahwa kecakapan dalam bergerak yang dipelajari melalui musik dapat meningkatkan rasa percaya diri, koordinasi, sikap tenang yang alami dan kesadaran akan jati diri.

Bernyanyi, bermain atau bergaya pada suatu lagu dapat menghasilkan seseorang untuk dapat berekspresi dan puas terhadap diri secara emosional. Gfeller & Darrow (1987) menyarankan bahwa bergaya atau bernyanyi pada lagu yang dibuat sendiri, juga dapat membuat seseorang tuna rungu untuk mengekspresikan atau mengilustrasikan pikirannya, perasaannya dan idenya bila hal itu terlalu sulit untuk dituliskan. Staum (1987) juga menemukan bahwa tehnik dan prosedur terapi musik dapat memberikan suatu skill yang fungsional yang dapat terintegrasi langsung di dalam pelajaran musik secara private maupun secara klasikal. Melalui suatu cara yang dapat di transfer diluar sesi terapi, seseorang lebih bisa dan senang untuk berekspresi pada situasi baru , bertemu orang baru, dan dapat bekerja dalam suatu grup-grup. Hal ini sebaliknya pula memberikan suatu rasa tanggung jawab sosial juga kesadaran, kebanggan dan kepercayaan diri dan sosial.

Kepustakaan

Amir, D., & Schuchman, G. (1985). Auditory -training through music with hearing-impaired preschool children. The Volta Review, 87(7), 333-343.

Investigates the effects of auditory training within a musical context on how hearing-impaired preschool children use their residual hearing. Found music therapy techniques to be a useful adjunct to other techniques for maximizing residual hearing use.

Brick, R. (1973). Eurhythmics: One aspect of audition. The Volta Review, 75(3)155-160.

Describes the use of eurhythmics–the art of. harmonious and expressive bodily movement-to enhance the teaching of speech and audition.

Darrow, A. (1984). A comparison of rhythmic responsiveness in normal and hearing impaired children and an investigation of the relationship of rhythmic responsiveness to the supra segmental aspects of speech perception. Journal of Music Therapy, 21(2), 48-66.

Investigates differences between normal and hearing impaired children’s rhythmic responsiveness. Discusses rhythmic responsiveness as related to perception of prosodic elements of speech.

Darrow, A. (1989). Music therapy in the treatment of the hearing-impaired. Music Therapy Perspectives, 6, 61-70.

Details a music therapy procedure for auditory training and the speech and language development of the hearing impaired.

Darrow, A., & Starker, G. (1986). The effect of vocal training on the intonation and rate of hearing impaired children’s speech. Journal of Music Therapy, 23(4), 194-201.

Examines the effect of vocal training on the fundamental frequency, frequency range, and speech rate. Results indicate significant reduction in fundamental frequency and increase in frequency range.

Galloway, H., & Bean, M. (1974). The effects of action songs on the development of body-image and body-part identification in hearing-impaired preschool children. Journal of Music Therapy, 11, 125-134.

Results suggest that music may be a useful method in teaching selected concepts to hearing-impaired persons.

Gfeller, K. (1990). A cognitive-linguistic approach to language development for the preschool child with hearing impairment: Implications for music therapy practice. Music Therapy Perspectives, 8, 47-51.

Outlines the basic components of a cognitive-linguistic model for language rehabilitation and discusses them as they relate to music therapy practice.

Gfeller, K., & Baumann, A. (1988). Assessment procedures for music therapy with hearing impaired children: Language development. Journal of Music Therapy, 25(4), 192-205.

Presents an overview of language problems common to hearing impaired children, and major treatment goals and procedures in speech pathology and music therapy. Prominent assessment procedures in measuring language development are also examined.

Gfeller, K, & Darrow, A. (1987). Music as a remedial tool in the language education of hearing-impaired children. The Arts in Psychotherapy, 14, 229-235.

Discusses the role and potential of creative experience, particularly songwriting and song signing, in the language arts education of hearing impaired children.

Robbins, C., & Robbins, C. (1980). Music for the hearing impaired and other special groups: A resource manual and curriculum guide. St. Louis: MagnaMusic-Baton.

Staum, M. (1987). Music notation to improve the speech prosody of hearing impaired children. Journal of Music Therapy, 24(3), 146-159.

Discusses music notational cues as effective in improving the verbal rhythmic and intonational accuracy of hearing impaired children’s speechKerusakan pendengaran ditengarai merupakan salah satu kecacatan syaraf yang paling merusakkan. Dimana kecacatan penglihatan merupakan handicap kita dengan sekeliling kita, sedangkan kecacatan pendengaran merupakan handicap komunikasi dengan masarakat (Darrow, 1989). Komunikasi merupakan dasar dari kehidupan social kita dan aktivitas intelektual, dan tanpa itu kita terputus dari dunia. Untuk alasan inilah, praktek klinik dalam terapi musik untuk tuna rungu di fokuskan pada area yang berhubungan dengan komunikasi seperti : pelatihan auditory, produksi suara (berbicara) dan perkembangan bahasa. Melalui penelitian dalam kekurangan pada komunikasi ini, terapi musik menjadi suatu efek kedua untuk memperbaiki rasa sosial dan kepercayaan diri.

http://icanhear.multiply.com/journal/item/8/Finally_Terjemahan_Terapi_Musik_untuk_Anak_Tuna_Rungu_edisi_TAMAT

Sumber: http://tunarungu.blogdetik.com/category/metode-komunikasi/


MEWARNAI BUKU CERITA: PERJANJIAN LAMA

Sambil Anda bercerita, anak-anak mewarnai. Sama-sama belajar, survey perjanjian lama.

Selamat mencoba.


BUKU MEWARNA: KARTUN PASKAH

Gambar-gambar kartun Paskah untuk merayakan Paskah yang ceria bersama anak-anak. Mari rayakan hari besar dan meresapi kebesaran Tuhan!


MEWARNAI BUKU CERITA: NATAL

Mari ajak anak-anak kita mewarnai sekaligus menghayati kisah tentang Natal Yesus Kristus, Tuhan kita.


BUKU MEWARNA: KSATRIA PERKASA

Pernah menyaksikan atau baca kisah Robin Hood atau semacamnya? Kisah-kisah tentang para ksatria berbaju zirah sangatlah menggugah. Mari ajak anak-anak mewarnai gambar-gambar berikut ini sambil menanamkan nilai-nilai juang dan sikap ksatria.

Selamat, Anda telah menjadi ksatria dalam melayani Tuhan!


KENALI ALKITAB KITA (YABINA)

WANTED

WANTED

Bagi para Guru Sekolah Minggu dan orang tua (ayah dan ibu, kakek-nenek, paman, bibi, semuanya terutama sang ayah sebagai Imam!), wajiblah bagi kita untuk senantiasa belajar dan terus belajar Firman Tuhan. Berikut ini adalah penuntun yang baik untuk kita belajar secara sistematis di tahap awal, sebagaimana dituntun dalam bahan ajar yang disediakan oleh Yabina Ministry berikut ini.

Untuk mendapatkannya silakan klik judul-judul di bawah dan bagi yang menginginkan bahan selengkapnya silakan kunjungi http://www.yabina.org/.

101 – Pengantar Alkitab

102 – Pengantar PL (1)

103 – Pengantar PL (2)

104 – Kitab Nabi Besar

105 – Kitab Nabi Kecil

106 – Pengantar PB & Injil

107 – Surat Paulus

108 – Surat Pastoral

109 – Prinsip Menafsir

110 – Menafsir Alkitab

Nah, tunggu apalagi? Selamat belajar.


BUKU MEWARNA: AYAH & IBU

Mari ajak anak-anak kita memberikan hasil kerja mereka untuk ayah dan ibu. Bila perlu, ajak anak-anak memberi tambahkan berupa tulisan nats alkitab pilihan untuk ayah dan ibu tercinta.

Selamat mengajar dengan riang.


BUKU MEWARNA: BERMAIN DI KEBUN

Jangan hanya batasi kegiatan anak dengan mewarnai, anjurkan pula mereka mengembangkan gambar-gambar berikut ini. Biarkan kehalusan perasaan mereka terasah dengan berkesenian sembari menerima pengajaran tentang kebenaran firman Tuhan.

Jadikan kegiatan sekolah minggu sebagai momentum abadi yang tak terlupakan seumur hidup mereka seiring impresi yang mereka terima dari guru-gurunya. Mintalah dalam doa agar sekolah minggu Anda senantiasa disegarkan oleh Roh Kudus!


BUKU MEWARNA: DOA BAPA KAMI

Inilah doa yang diajarkan Tuhan Yesus, sarat sekali nilai kebenaran yang termaktub di dalamnya. Gambar-gambar berikut ini disusun secara khusus untuk membantu anak-anak kita memahami firman Tuhan tersebut.

Tidak dibuat dalam uraian kata-kata, melainkan gambar yang luwes untuk dikembangkan rekan-rekan guru sekolah minggu sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing. Selamat berkreasi dan mengembangkannya.

Selamat berdoa dan mengajarkan doa!


BUKU MEWARNA: BERUANG LUCU

Inilah gambar Beruang kecil yang lucu, semoga disenangi anak-anak kita.