GPSDI Ungaran

Archive for Juli, 2010

MEWARNAI GAMBAR CERITA TENTANG TUHAN YESUS

Mari kenalkan anak-anak kita lebih dekat dan akrab dengan Sang Sahabat Sejati.

Sambil mendengarkan tuturan dari Injil, kegiatan mewarnai gambar-gambar berikut ini tentunya menjadi upaya yang baik untuk membawa anak-anak kita pada jalan kebenaran dan hidup yang sejati.

Tentang iklan-iklan ini

BAHASA ISYARAT (ABJAD ANGKA DAN HURUF AMERICAN SIGN LANGUAGE) BAGIAN 2

Berikut ini abjad sesuai sistem ASL. Gambar yang melambangkan abjad A-Z dan angka ini, sebenarnya merupakan tambahan saja, digunakan untuk menyusun kata, nama tempat, nama orang, jumlah yang belum ada lambang isyarat tangannya.

Untuk mempelajari dengan lebih menyenangkan, ada saya cantumkan contoh words puzzle versi abjad bahasa isyarat. Dengan gambar-gambar yang terpisah ini, diharapkan Anda mampu menyusun sendiri kata atau membuat teka-teki yang menyenangkan.

Selamat mencoba.


BAHASA ISYARAT (AMERICAN SIGN LANGUAGE) BAGIAN 1

Di Indonesia saat ini telah berkembang beberapa macam bahasa isyarat, antara lain SIBI, Bisindo dan kombinasi antara keduanya serta beberapa lagi tercampur dengan bahasa isyarat yang paling banyak digunakan secara Internasional yaitu ASL (American Sign Language).

Kebetulan dari beberapa rekan, bahan yang saya peroleh yaitu bahan-bahan ASL, namun tidak menutup kemungkinan setelah bahan baku untuk SIBI dan BISINDO telah diperoleh, akan saya masukkan juga dalam posting berikutnya. Mohon jika teman-teman yang membaca memiliki bahan-bahannya, mohon berbagi dengan mengirim email ke: mosesforesto@gmail.com.

Untuk sementara ini saya sampaikan nbagian berupa gambar sketsa bahasa isyarat ASL yang sempat terkumpul (sekitar 150 kata).

Selamat mempelajari.

Berikut ini akan saya tambahkan juga sebagian tulisan singkat dari Rndang Rusyani mengenai Sistem Komunikasi Tunarungu.

Berikut kutipannya.

Latar Belakang

Ketidak puasan terhadap oral dan manual

- Tidak semua ATR dapat mengembangkan cara berkomunikasi dengan berbicara

- Esensi komunikasi, pesan dapat tersampai kan dengan utuh, tanpa harus dengan cara tertentu

- Komunikasi cara oral merupakan ciri khas manusia pada umumnya

HAKEKAT KOMUNIKASI DAN BAHASA

Komunikasi adalah  keberhasilan dalam menyampaikan pesan/pikiran/gagasan seseorang kepada orang lain.

Bahasa kode dimana gagasan/ide tentang dunia/lingkungan sekitar diwakili oleh seperangkat simbol yang telah disepakati bersama guna mengadakan komunikasiBagaimana anak memperoleh penguasaan bahasa.

Kemampuan berbahasa tidak diperoleh melalui penularan begitu saja (kematangan) dan juga tidak melalui diajar secara khusus (language is neither caught nor taught).Bahasa ibu dikuasai anak mendengar apabila terdapat dua kondisi terpenuhi, yaitu:

• Akses terhadap bahasa dalam jumlah yang besar.

Kata pertama yang diucapkan anak adalah kata ”mama.” Mengapa ? kata tersebut mudah dilafalkan, paling sering diucapkan kepada anak. Dalam satu minggu, diucapkan sampai 3000 kali

• Adanya kesempatan untuk berinteraksi secara aktif.

Hasil penelitian  A. Trip menunjukkan bahwa akses kebahasaan yang banyak tidak akan menumbuhkan penguasaan bahasa tanpa ada kesempatan interaksi (percakapan) yang aktif dengan lingkungannya.

Kondisi-kondisi optimal untuk mengembangkan kemampuan berbahasa:

1. Akses terhadap sejumlah besar bahasa. Anak tunarungu  ringan dan sedang gunakan ABM, untuk yang berat dapat menggunakan isyarat

2.   Masukkan bahasa yang diperoleh anak harus lengkap. Gunakan kalimat singkat, sederhana tetapi lengkap dari segi tata bahasanya,

3.   Orangtua/guru harus menggunakan bahasa yang berada sedikit di atas taraf kemampuan bahasa anak, dan jangan terlalu disederhanakan

4. Masukkan bahasa harus diberikan dalam konteks atau situasi komunikasi yang jelas,

5. Agar anak dapat memahami interaksi yang terjadi. ajak berbicara mengenai hal-hal yang konkrit di lingkungannya, kemudian tingkatkan kepada pembicaraan yang abstrak agar anak dapat memahami pembicaraan yang di luar konteks, tetapi pada tahap awal konteks harus jelas

6. Masukkan informasi harus berlangsung secara konsisten. Harus ada orang yang menguasai bahasa yang digunakan  dalam berinterkasi dengan anak. Misalnya, untuk anak tunarungu berat harus ada orang yang menguasai sistem isyarat supaya masukkan bahasa lengkap dan konsisten

Permasalahan Kebahasaan Anak Tunarungu

• Anak Tunarungu tidak dapat atau kurang mampu berbicara dengan baik. Berbicara bukan satu-satunya cara untuk berkomunikasi, karena bicara merupakan salah satu cara dari sekian cara berkomunikasi,

• Permasalahan utama Anak Tunarungu bukan pada ketidak-mampuannya dalam berkomunikasi melainkan akibat dari hal tersebut terhadap perkembangan kemampuan berbahasanya, yaitu ketidakmampuan untuk memahami lambang dan aturan bahasa.

PENGERTIAN KOMUNIKASI TOTAL

• Suatu cara komunikasi yang memanfaatkan segala media komunikasi ( berbicara, membaca ujaran, menulis, membaca, mendengarkan, isyarat alamiah, isyarat baku, abjad jari, gerak tubuh, mimik dll yang dilakukan secara terpadu).

• Tujuan: Tercapai komunikasi yang efektif antara sesama tunarungu ataupun dengan masyarakat luas dengan menggunakan media berbicara, membaca bibir, mendengar dan berisyarat  Pengertian Sistem Isyarat Bahasa Indonesia

Salah satu media komunikasi sesama kaum tunarungu dalam bentuk tataan yang sistematis tentang seperangkat isyarat jari, tangan, dan berbagai gerak yang melambangkan kosa kata bahasa Indonesia

SEJARAH MEDIA KOMUNIKASI ANAK TUNARUNGU DI INDONESIA

  • · 1978 diawali oleh SLB Zinnia Jakarta
  • · 1981 diikuti oleh SLB Karya Mulya Surabaya
  • · Isyarat yang digunakan ASL yang diperkenalkan oleh Ibu Baron Sutadisastra

•1982  KKPLB Pusat Pengembangan Kurikulum dan sarana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Dikbud merancang panduan penerapan Komtal.

•1986 kegiatan pengembangan terhenti

•1989 dilanjutkan lagi oleh KKPLB yang berkedudukan di IKIP Jakarta

•1989 SLB Karya Mulya telah menghasilkan Pedoman Isyarat Bahasa Indonesia

•1990 SLB Zinnia menerbitkan Kamus Dasar Basindo

•1990 KKPLB melahirkan Kamus Isyarat yang berdasarkan isyarat lokal yang berkembang di 11 lokasi

Tokoh-tokoh terkenal dalam dunia pendidikan AGP

Sejak abab ke 16 telah dikembangkan cara-cara komunikasi untuk AGP

Fedro Ponce de Leon.

Pada abad ke 16 tepatnya pada tahun 1510 – 1584 di Spanyol, Leon telah mengembangkan kemampuan berbahasa anak gangguan pendengaran agar dapat berbicara melalui tulisan dan membaca. Cara yang dikembangkan Leon ini dikenal dengan sebutan Metode Spanyol. Metode ini sampai sekarang sangat terkenal dan banyak digunakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Joe L’hanes Conrad Amman

Pada abad ke 17 tepatnya pada tahun 1669 – 1724 di Jerman, Amman mengembangkan kemampuan berbahasa anak yang mengalami gangguan pendengaran dengan menggunakan metode oral, pandangannya lebih modern dari pada Leon, beliau juga mengajar melalui membaca ujaran (speech reading).

Metode Amman ini terkenal dengan sebutan Metode Jerman, dan pada abad ke 18 sekolah-sekolah untuk anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran bermunculan karena keberhasilan penggunaan metode oral tersebut.

Orang yang paling terkenal mengembangkan metode oral ini yaitu Samuel Heinicke (1727 – 1790)

Delgarno

Tahun 1680 Delgarno mengembangkan metode Dactylology.  Penggunaan ejaan jari (finger speeling) dengan satu tangan, dan dia juga mencita-citakan pengajaran bahasa ibu.

Penerus Delgarno yaitu Alexander Grahan Bell dari Amerika (1884). Bell menggunakan bentuk tulisan dari bahasa ibu, dan beliau juga yang menemukan gagasan pemakaian ABM.

Metodenya terkenal dengan sebutan Metode Aural, dan cara pengajarannya menggunakan metode okasional.

Charles Michel d L’ Epee

L’ Epee dari Perancis pada tahun 1712 – 1789 mengembangkan metode Isyarat. Pendapatnya, bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa alamiah orang-orang yang mengalami gangguan pendengaran, walaupun dia memahami bahwa bahasa lisan merupakan bahasa yang paling sempurna. Metode L’ epee ini terkenal dengan sebutan Metode Perancis. Metodenya sampai sekarang banyak digunakan di hampir seluruh penjuru dunia Frederich Moritz Hill (1805 – 1874)

Orang yang menerapkan metode pengajaran bahasa untuk anak yang memiliki gangguan pendengaran dengan menggunakan prinsip-prinsip metode pengajaran untuk anak yang mendengar dari

Johann Heinnrich Pestalozzi’s (1746 – 1827), yaitu mother method. Motto mother method adalah ”teaching of spoken language is in everything”.

Pengaruh Hill tersebar dengan pesat di seluruh Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Serikat, bahkan sampai saat ini di Amerika Serikat, yaitu di kota Nortthamptom dan Massashusetts

Sekolah oral yang sangat terkenal sejak jamannya Hill yaitu Clarke

School for The Deaf Johane Vatter

Tokoh pendidikan AGP yang sangat idealis dari Jerman pada tahun 1824 – 1916. Vatter memiliki cita-cita yang sangat ideal yaitu berharap AGP dapat belajar berpikir dengan bahasa verbal dan bercita-cita agar AGP dapat berkomunikasi di lingkungannya secara wajar layaknya orang-orang yang mendengar.

Vatter dalam pengajaran bahasanya menggunakan metode gramatikal Edmun Miner Gallaudet.

Gallaudet adalah seorang tokoh pendidikan AGP yang sangat terkenal dari Amerika Serikat pada tahun 1837 – 1917, dan pengaruhnya menyebar sampai saat ini ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.

Gallaudet memberikan pendidikan kepada anak gangguan pendengaran dengan menggunakan media isyarat dan ejaan jari disamping bicara dan membaca ujaran.

Metode Gallaudet merupakan campuran yaitu mencampurkan metode bicara, membaca ujaran, isyarat dan ejaan jari dalam kegiatan pembelajaran. Metodenya disebut sebagai Combined System.

Hellen Keller

Keller adalah seorang tokoh yang sangat terkenal dan luar biasa, karena dia seorang yang memiliki kebutuhan khusus (mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan) namun mampu menguasai bahasa verbal secara sempurna melalui penggunaan abjad tangan dan tulisan braille, disamping itu dia juga menguasai bahasa lisan melalui penggunaan metode Tadoma

Dr. Ewing

Tokoh pendidikan AGP dari Inggris yang bernama Ewing (1947), dia memelopori penangan dini bagi pendidikan AGP (Pendidikan Usia Dini bagi AGP),  Pada tahun 1957 diikuti oleh seorang tokoh pendidikan dari negeri Balanda yaitu  Van Uden.

Uden seorang tokoh terkenal Metode Maternal Reflektif dalam mengembangkan bahasa untuk AGP dengan menggunakan Model Penguasaan Bahasa Ibu.

Uden dalam memberikan pengalaman-pengalaman pembelajaran bahasanya kepada anak yang mengalami gangguan pendengaran menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan oleh seorang ibu dalam melakukan percakapan dengan anaknya yang belum berbahasa.

Westerveld

Seorang tokoh pendidikan AGP dari Amerika. Westerveld terkenal dengan penemuannya dalam pengajaran bahasa untuk AGP dengan menggunakan metode oral yang dipadu dengan metode abjad jari (bukan isyarat),

Metodenya disebut sebagai Metode Rochester

TERMINOLOGI DAN PERKEMBANGAN SIBI

• Isyarat lokal adalah isyarat yang tumbuh dan berkembang pada komunitas tunarungu di wilayah Indonesia

• Isyarat serapan adalah isyarat yang diangkat dari isyarat-isyarat berkembang dari negara lain

• Isyarat temuan adalah isyarat-isyarat baru yang ditemukan pada saat ujicoba

• Isyarat tempaan adalah isyarat yang ditempa oleh KKPLB

• 1992 panduan dan isyarat yang dikembangkan KKPLB diujicoba di 5 SLB

• 1993 PPKSP BP3K memadukan isyarat yang dikembangkan oleh KKPLB, Karya Mulya dan Zinnia dan tersusun Draf Kamus Isyarat Bahasa Indonesia  LANJUTAN

• 1993 DEPDIKBUD mengeluarkan kebijakan untuk memadukan isyarat hasil karya pengembangan P2KSP BP3K, KKPLB, SLB Zinnia dan SLB Karya Mulya, lahirlah kamus baku yaitu Kamus Isyarat Nasional

• Selanjutnya disebut ISYANDO

SIBI

Pengertian

• Tataan yang sistematis mengenai seperangkat isyarat jari, tangan dan berbagai gerak yang melambangkan kosa kata bahasa Indonesia

Tujuan

•Salah satu cara untuk membantu kelancaran berkomunikasi sesama kaum tunarungu di dalam masyarakat yang lebih luas   METODE KOMUNIKASI ATR

• Kelompok yang meyakini media komunikasi oral yang paling tepat digunakan untuk mengembangkan potensi ATR disebut aliran oral atau oralisme,

• Kelompok yang meyakini media komunikasi isyarat yang paling tepat digunakan untuk mengembangkan potensi ATR disebut aliran manual atau manualisme,

• Kelompok campuran (combined system), mereka yang meyakini bahwa media komunikasi oral maupun manual dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi ATR  ORALISME

• Titik berat metode komunikasi oral dalam mengekspresikan gagasan/pikiran/ perasaan:

- Pengucapan/ ujaran

- Membaca ujaran (speech reading)

• Tujuan ATR diberikan metode komunikasi oral yaitu agar ATR baik dalam menerima pesan atau mengekspresikan gagasan, pikiran, dan perasaannya diharapkan melalui cara-cara yang lazim digunakan oleh anak-anak pada umumnya, juga diharapkan dapat menerima akses kebahasaan yang lebih besar dari lingkungannya

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa agar ATR dapat menggunakan metode komunikasi oral dengan baik,

• Gunakan bahasa sehari-hari secara wajar

• Materi ambil dari pengalaman anak

• Berikan penekanan pada pembelajaran membaca ujaran

• Perkuat latihan meniru ujaran yang wajar

• Gunakan setiap kesempatan untuk memberikan pengalaman bahasa yang wajar

• Gunakan pendekatan percakapan dalam pembelajaran, karena melalui percakapan bukan hanya terjadi pertukaran pengalaman dan pikiran, dalam percakapan terjadi percakapan bahasa yang lengkap, seperti bentuk-bentuk kalimat, gaya bahasa, intonasi, irama dan lagu kalimat, percakapan juga merupakan dasar penguasaan bahasa.Jenis-jenis Pendekatan Metode Oral

• Pendekatan oral kinestetik, yaitu suatu pendekatan oral yang mengandalkan membaca ujaran, peniruan melalui penglihatan, serta rangsangan perabaan, dan kinestetik tanpa memanfaatkan sisa pendengaran

• Pendekatan Unisensory, yaitu suatu pendekatan yang memberikan penekanan terhadap penggunaan ABM yang bermutu tinggi serta latihan mendengar. Dalam pendekatan ini membaca ujaran dinomorduakan.

• Pendekatan Oral Grafik, yaitu pendekatan oral yang menggunakan tulisan sebagai sarana dalam mengembangkan kemampuan komunikasi oral. Alexander Graham Bell mengembangkan kemampuan bahasa istrinya yang mengalami gangguan pendengaran (tuli) dengan cara ini.

Pendekatan ini kemudian digunakan di SLB B St. Michielgestel Negeri Belanda untuk ATR yang menderita aphasia.

Orang mengalami gangguan fungsi otak mengalami kesulitan dalam mengontrol organ artikulasi dan mengalami kelemahan dalam mengingat data yang disajikan secara berurutan, seperti dalam membaca ujaranKelebihan-kelebihan menggunakan metode komunikasi oral

• Metode komunikasi oral lebih fleksibel, baik pembicara maupun lawan bicara, lebih bebas

• Metode komunikasi oral lebih berdifrensiasi, dapat mengungkapkan nuansa perasaan dan hal-hal yang abstrak

• Menggembirakan, karena dapat digunakan untuk melakukan komunikasi lebih luas dengan masyarakat pada umumnyaKelemahan-kelemahan menggunakan metode komunikasi oral

• Sulit dilaksanakan bagi anak yang mengalami gangguan pendengaran dan mengalami gangguan lain, seperti: gangguan penglihatan, gangguan kecerdasan

• Terdapat beberapa konsonan yang dasar pengucapannya tidak dapat diamati secara kasat mata, karena dibentuk di bagian belakang mulut, seperti: k, g, serta yang tidak dapat dibedakan pada waktu diucapkan, seperti pada kata ”babi – papi, palu – malu, baju – maju”

• Sulit diamati pada jarak panjang yang agak jauh

• Banyak kata-kata dalam gerak bentuk bibir sama tetapi memiliki makna yang berbeda.

Wicara sebagai Media Komunikasi Oral

• Wicara adalah kemampuan yang dimiliki oleh manusia dalam mengucapkan bunti-bunyi  bahasa untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, perasaan dengan memanfaatkan nafas, alat-alat ucap, otot-otot, dan syaraf secara terintegrasi.

• Wicara yaitu alat mengkomunikasikan pikiran, perasaan, gagasan, dalam kehidupan bermasyarakat  atau alat kontrol sosial, yang ditandai dengan ucapan yang jelas, pemilihan kata yang tepat dan penggunaan kelompok kata dan kalimat yang seksama.

Tujuan ATR diberikan latihan wicara

Agar:

• mampu mengucapkan kata, kelompok kata dan kalimat dengan jelas

• mampu mengendalikan alat ucapnya untuk perbaikan mutu bicaranya

• mampu memilih dan menggunakan kata dan kalimat yang tepat dalam berkomunikasi secara lisan

• senang menggunakan cara bicara dalam mengadakan komunikasi

• terampil menangkap menangkap bicara orang lain dengan cara membaca ujaran  dan memanfaatkan sisa pendengarannya

• meningkatkan sikap berpikir secara oral ATR kemampuan wicara baik

• Mampu berkomunikasi dalam masyarakat yang lebih luas,

• Mampu bekerja dan berintegrasi dalam masyarakat yang lebih luas

• Dapat mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidupMateri

• Latihan Wicara

• Latihan keterarahan wajah

• Latihan keterarahan suara

• Latihan pelemasan organ bicara: bibir, lidah, rahang

• Latihan pernafasan, seperti: meniup dengan hembusan, meniup dengan letupan, dan latihan menghirup dan menghembuskan nafas melalui hidung

• Latihan pembentukan suara: (1) menyadarkan untuk bersuara, (2) merasakan getaran pada dada pelatih, (3) menirukan ujaran pelatih sambil meraba dada, (4) melafalkan vokal bersuara, (5) meraban sambil merasakan getaran

• Latihan Pembentukan Fonem

• Latihan penggemblengan, perbaikan dan penyadaran irama

• Latihan pengembanganBahan-bahan Latihan

• Bahan fonologik

• Fonem segmental (fonem yang berwujud bunyi bahasa) vokal, konsonan, diftong

• Fonem suprasegmental (fonem yang tidak berwujud bunyi bahasa) aksen, intonasi, irama dan tempo

• Bahan morfologik; karta dasar, kata jadian/imbuhan, kata ulang dan kata majemuk

• Bahan sintaksis: kalimat berita, kalimat ajakan, perintah, larangan dan kalimat tanyaMetode

• Metode Global Diferensiasi, cara ini berangkat dari pertimbangan kebahasaan, yaitu bahasa pertama-tama menampakkan diri dalam ujaran dan dalam struktur  atau totalitas.

• Cara dimulai dengan cara ujaran yang utuh (global) kemudian ke fonem-fonem sebagai satuan bahasa yang paling kecil. Kegiatan dimulai dari kalimat ke kelompok kata ke kata dan ke fonem. Contoh:

Bu baju saya baru, kata Budi (kalimat), Bu / baju saya / baru, kata

Budi (kelompok kata)

Fonem yang akan dibentuk dan dikembangkan, fonem /b/, misalnya:

ba, ba, ba, bo,bo,bo, bu, bu, bu lalu kembali ke baju Budi baru

• Analisis Sintesis, yaitu kebalikan dari global difrensiasi, yakni dari fonem, kata, kelompok kata kemudian menuju ke kalimat

• Multi sensori. Metode ini didasarkan atas modalitas yang dimiliki anak, yaitu menggunakan seluruh sensori untuk memperoleh kesan-kesan bicara melalui penglihatan, pendengaran, taktil, kinestetik

• Metode suara, metode ini didasarkan atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ditemukannya alat bantu mendengar

Alat-alat

• Untuk rangsangan visual: cermin, lampu, buku catatan, gambar-gambar, kartu identifikasi, alat kontrol sengau, alat plosif dan pias kata

• Untuk rangsangan auditoris: speech trainer, ABD klasikal dan ABD individual,

• Untuk rangsangan vibrasi: vibrator dan sikat getar

• Untuk pernafasan: lilin, kipas, parfum, gelembung air sabun, peluit, saluran kayu dengan bola pingpong

• Untuk pelemasan: kue kering, permen bertangkai, madu dll Berdasarkan Fonetika

• Metode Fonetik, yaitu urutan latihan didasarkan pada mudah sukarnya bunyi bunyi menurut ilmu fonetik.

Bunyi bahasa diajarkan dari masing-masing deretan bunyi yang letaknya paling depan atu di muka mulut, karena bunyi-bunyi tersebut paling mudah dilihat dan paling mudah ditirukan. Pertama p, b, w, l, m kemudian t, d, n, lalu k, g dan yang terakhir c, j, ny.

• Metode Tangkap dan Peran Ganda. Metode ini didasarkan atas asas individualitas anak. Guru melatih anak untuk berbicara bukan berdasarkan pada urutan fonem, tetapi berdasarkan fonem yang paling mudah diucapkan. Kepekaan guru sangat dituntut dalam menangkap fonem yang diucapkan secara spontan. Fonem ini merupakan titik tolak yang dikembangkan dalam kata-kata sebagai materi pelajaran. Fonem-fonem yang sukar bagi anak tidak dipaksakan, tetapi ditunda dulu sampai anak sedikit maju.


TEKA TEKI KATA (WORDS PUZZLE)

Sesekali baik pula jika kita merangsang daya pikir anak-anak dari kelas yang lebih besar dengan permainan yang sedikit lebih menantang, seperti misalnya Teka-teki Kata berikut ini.

Teka-teki ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, Anda dapat menyesuaikan dengan kelas atau individu. Kata-kata yang digunakan memang dalam bahasa Inggris, namun tidaklah sulit karena kata-kata yang dicari tertera di bawahnya. Anda pun dapat berkreasi dengan kata-kata baru yang mungkin saja tersusun secara tidak sengaja di dalam deretan huruf yang tersedia. Jangan berhenti berkreasi!

Selamat mencoba, jangan lupa klik dulu gambarnya untuk memperbesar tampilan, baru kemudian Anda copy-paste. Tuhan Yesus memberkati.


BUKU CERITA: 03. TIMMY TIPTOES

Bercerita adalah suatu bagian yang paling mengasyikkan di Sekolah Minggu, apalagi jika gurunya bercerita dengan penghayatan dan pebuh kesungguhan. Memang, story telling itu tidak mudah, harus dilakukan dengan hati. Kesungguhan hati akan terlihat dari mimik, gerak tubuh, perubahan suara dan kesatuan antara dinamika unsur-unsur itu. Pendek kata, dalam kita bercerita, seluruh bagian tubuh harus ikut bertutur.

Kemampuan bercerita memang harus dipelajari dan dilatih, tapi tak apa, mulailah dengan bercerita dan bercerita, catatan penting adalah: jangan lupa menanamkan nilai moral lewat cerita tersebut. Itu akan mudah karena selama bercerita Anda akan menjadi pusat perhatian, dan sekali Anda mampu memikat perhatian anak-anak, seterusnya Anda akan menjadi idola. Ketika menjadi idola, segala perilaku, perkataan dan perbuatan Anda akan menjadi panutan, yah, begitulah memang seorang guru sekolah minggu. Tuntutan untuk menjadi tauladan akan melekat. Melekat dalam diri Anda dan lebih melekat lagi dalam benak anak-anak kita.

Catatan:

-  Silakan klik dan download file ini, lalu ambil juga gambar-gambarnya.

03. TIMMY TIPTOES

-  Anda bisa mencetak dan membacakan terjemahan cerita lalu tampilkan gambar-gambarnya (bisa juga menggunakan projektor, OHP atau infocus).

- Cerita memang dalam bahasa Inggris sederhana, Anda bisa menerjemahkan secara bebas dan berkreasi mengembangkan cerita karena inti cerita lebih banyak terdapat pada gambar-gambarnya.

- Cerita ini bukan hanya cocok untuk lingkungan sekolah minggu atau di kalangan umat Kristen saja, tapi cerita umum klasik dengan nilai-nilai yang bersifat universal.


BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 2): FOTO KARYA KEVIN CARTER, dll.

Sudan Famine, Kevin Carter

Sudan Famine, Kevin Carter

Beberapa malam ini perasaan saya sungguh terguncang ketika melihat sebuah foto karya Kevin Carter, pemenang Pulitzer tahun 1994.  Di foto itu terlihat seorang anak yang kurus kering dan kelaparan, diincar oleh seekor burung bangkai di belakangnya. Pada keterangan foto itu, tertulis bahwa tidak ada yang tahu nasib anak perempuan itu karena si fotografer segera pergi setelah memotretnya, kemudian si fotografer akhirnya meninggal bunuh diri karena depresi 3 bulan kemudian (ternyata keterangan itu tidak benar). Kevin Carter meninggal 3 bulan setelah foto masterpiece-nya itu menerima penghargaan Pulitzer tahun 1994. Apa yang sebenarnya terjadi pada foto dan fotografernya? Ada dorongan kuat untuk mencari tahu kisah di balik foto tersebut. Setelah googling kesana-kemari, akhirnya saya temukan beberapa keterangan.

Kevin Carter

Kevin Carter

Sang fotografer, Kevin Carter lahir 13 September 1960 di Johannesburg dan meninggal 27 Juli 1994, adalah seorang jurnalis foto asal Afrika Selatan. Sebelum memenangkan hadiah Pulitzer untuk Feature Photography tahun 1994, pada tahun 1983 ia memulai karir sebagai fotografer olahraga dan tahun 1984 pindah kerja ke Johannesburg Star, bertekat akan mengekspose kebrutalan apartheid.

necklacing

necklacing

Carterlah yang pertama membuat foto eksekusi di hadapan umum dengan “necklacing” yaitu hukuman sadis untuk seorang terhukum dengan cara mengalungkan ban karet yang diisi bensin, lalu dibakar. Dengan cara seperti itu, si terhukum biasanya mati dalam waktu 20 menit dan sangat tersiksa.

kevin_carter_image015

kevin_carter_image015

Bulan Maret 1993, Carter berangkat ke Sudan. Dalam suatu perjalanan ke suatu di desa bernama Ayod, ia melihat seorang anak kecil kurus kering sedang berjuang keras menuju dapur umum. Di tengah jalan si gadis kecil itu beristirahat dan tak lama kemudian seekor burung bangkai mendarat di belakangnya dan seakan menunggu kematian si gadis kecil itu. Menurut Carter, ia menunggu selama kurang-lebih 20 menit untuk menunggu burung bangkai itu merentangkan sayapnya, ternyata tidak. Akhirnya Carter memotret karya mengerikan itu, lalu mengusir si burung bangkai. Namun tindakannya itu tetap mengundang kritik karena tidak segera menolong sang gadis kecil, malah lebih dulu menunggu sekian lama untuk menghasilkan fotonya itu.

Foto itu kemudian dijual ke The New York Times dan diterbitkan tanggal 26 Maret 1993. Malam itu juga ratusan orang menelpon koran tersebut, menanyakan apakah anak kecil yang ada di foto bertahan hidup. Hari berikutnya, koran itu menambahkan catatan bahwa si gadis kecil bertahan hidup dan mampu menghindari burung bangkai namun bagaimana nasibnya kemudian tak ada yang tahu. Menanggapi hal itu, ada penulis lain yang mengatakan bahwa jika burung bangkai mengamati calon korbannya hingga lemah, maka Carter mengamati dengan cara yang sama dari balik lensa kameranya.

Pada tanggal 2 April 1994, Nancy Buirski, editor foto asing New York Times menelpon Carter dan memberitahukan bahwa fotonya memenangkan penghargaan paling bergengsi untuk jurnalisme foto. Carter dianugerahi Penghargaan Pulitzer untuk Fotografi Fitur pada tanggal 23 Mei 1994 di Low Memorial Library Columbia University.

Pada tanggal 27 Juli 1994 Carter mengendarai mobilnya ke sungai Braamfontein Spruit tak jauh dari Field and Study Centre, tempat dimana ia sering bermain-main di masa kecilnya. Di situlah ia bunuh diri, setelah dengan sengaja mengalirkan asap dari knalpotnya ke dalam mobil. Ia dinyatakan meninggal karena keracunan karbonmonoksida di usia 33 tahun.

Dalam surat terakhirnya sebelum bunuh diri Carter menyatakan bahwa ia benar-benar tertekan, depresi akibat bangkrut serta dihantui bayangan kejamnya perang, pembunuhan, kemarahan dan sakit… anak-anak yang terluka dan kelaparan, orang-orang gila yang gemar menarik pemicu senjata, seringkali adalah polisi, algojo pembunuh. Pada bagian akhir, Carter menulis, “Aku pergi bergabung dengan Ken, jika beruntung”. Ken yang dimaksud adalah Ken Oosterbroek adalah sahabatnya, sesama fotografer yang terbunuh dalam suatu insiden di bulan April 1994, 3 bulan sebelum Carter bunuh diri. Tragis.

Inilah beberapa foto karya Kevin Carter dan rekannya yang lain mengenai bencana kelaparan.

soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter

soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter

famine-relief05

famine-relief05

sudan2- karya james-nachtwey

sudan2- karya james-nachtwey

starvation

starvation

Jika di atas kita melihat foto-foto mengenai korban kelaparan yang setengah mati, berikut ini foto-foto pemakaman para korban yang mati akibat kelaparan.

Memandikan Jenazah, karya Don Melvin

Memandikan Jenazah, karya Don Melvin

www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya

http://www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya

Pemakaman Korban Kelaparan

Pemakaman Korban Kelaparan


BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 1)

Perasaan saya tergugah ketika melihat beberapa foto tentang bencana kelaparan yang menimpa berbagai belahan dunia. Korban terbanyak yang tak mampu menahan derita itu adalah anak-anak.

Dengan penjelasan yang baik, mungkin ada baiknya anak-anak kita melihat foto-foto tersebut, bahkan mungkin juga kita yang dewasa, termasuk guru-guru sekolah minggu serta orang tua. Inilah beberapa di antaranya.

Silakan klik gambar untuk memperbesar tampilan.

Jelas salah kalau kita merasa bersyukur karena melihat penderitaan orang lain, namun adalah baik halnya jika kita diingatkan untuk bersyukur karena pemeliharaan Tuhan atas kita dan untuk bertindak meringankan beban mereka yang kurang beruntung!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 116 pengikut lainnya.