Sunday School Materials

Posts tagged “bahan ajar

Mewarnai Gambar Power Ranger

Untuk sebagian besar anak laki-laki, Power Ranger adalah superhero idaman. Banyak ragam mainan, film hingga buku cerita Power Ranger yang digemari.

Berikut ini 55 gambar Power Ranger yang diperoleh dari http://www.coloringbook.info untuk diwarnai anak-anak kita. Selamat menikmati.

About these ads

Cipta Lagu Rohani untuk Anak Sekolah Minggu: “TUHAN PENJAGAKU”. New Sunday School Song.

Rekan Guru-guru Sekolah Minggu, berikut ini sebuah lagu untuk anak-anak kita, diciptakan 29 Desember 2010. Semoga menjadi berkat.

Tuhan Penjagaku.mp4_snapshot_00.06_[2013.02.14_00.14.48]

“TUHAN PENJAGAKU” (Klik judul untuk melihat video/ click the title to watch video).
Sukacita trima hari baru
Karna Tuhan Sang Penjagaku
Sejak di perut ibu
Hingga klak punya cucu
Rancangan sejahtera, sampai tutup usia
Yesusku pasti

Reff.
Memang hidup terkadang susah
Kala langit gelap, Dia takkan terlelap
Laut bergelora, dibuatnya reda
Yesus tlah berjanji, pasti ditepati
Kristusku hebat, Yesusku dahsyat!

Tepian laut, Peb. 2013

Lukisan Moses,


Cipta Lagu Rohani: “Merpati Patah Sayap”

Jumpa lagi rekan-rekan Guru Sekolah Minggu ini sebuah kesaksian saya lewat sebuah lagu.

Pernah suatu ketika rasa kecewa menyesak, mendesak amarah yang sia-sia hingga akhirnya kembali pasrah berserah dan percaya bahwa segala rencanaNya adalah indah, dari semula rancanganNya bagi kita semua adalah masa depan yang cerah. Amen.

Berikut inilah lagu kesaksian yang mengisahkan pergumulan yang sempat mengalihkan pandangan mata iman, terkaburkan oleh kelemahan diri. Semoga menjadi berkat.

Merpati Patah Sayap.mp4_snapshot_01.51_[2013.02.10_21.01.26]

Lagu ini dinyanyikan bersama anak saya nomor tiga, Priskila Liane Eterwei Madag0 (Yana).

MERPATI PATAH SAYAP (Klik judul untuk melihat video)
Lirik lagu Bagian 1.
Gundah hati trima lara jiwa
tergilas beban tak terperi
langit hitam duka kelam

Kubermohon asa doa resah
Terpanjat swara tanpa daya
Lewat lagu kuberseru

Reff 1.
Oh Tuhan ini anakMu
HambaMu sujud berserah
Pasrah bagai merpati
patah sayap diterpa badai

Bagian 2.
Tuhan tahu sgala luka hati
dan beban di jiwa anakNya
Dia obati Dia pulihkan

Dalam gelap nan pekat hidupku
Dia datang ulurkan tanganNya
Cahya berkat trang jalanku

Reff 2.
Tiada sungguh tiada
yang mustahil bagi Tuhanku
Nyata oh sungguh nyata
Kasih Yesus terbukti nyata

Reff 3.
Oh Tuhan terima kasih
Puji syukur hanya bagiMu
Kau ajaib penuh mujizat
Sungguh ajaib sungguh mujizat.

DARI TEPIAN RIMBA & SUNGAI KASIH,

LM, PEB. 2013


CIPTA LAGU ROHANI: “PESAN UNTUK ANAKKU”

Pesan untuk Anakkku 2.mp4_snapshot_01.35_[2013.01.24_20.31.43]

PESAN UNTUK ANAKKU (Klik judul untuk melihat video)

Bagian 1.
Anakku jangan pernah menyerah
Tetaplah mengiring Yesus
Di dunia slalu ada masalah
Srahkan dalam doa trus

Dia ‘kan membri kekuatan
dan jalan keluar
Majulah terus melangkah
dan tetap percaya

Bagian 2.
Anakku jangan padamkan Rohmu
Biar imanmu trus menyala-nyala
Jangan kau andalkan kuat gagahmu
Tanpa Dia tak guna

Sgala perkara di dunia
dapat engkau tanggung
dalam Dia yang membrikanmui
kekuatan sejati

Bagian 3.
Anakku Yesus sungguh mengerti
sbab Dia Sobat Sejati
Dia tahu sgala beban hidupmu
Siap di setiap waktu

Yesus pasti menolongmu
Srahkanlah padaNya
Bersyukur bersukacita
sbab Dia setia

Bagian 4.
Anakku jangan pernah kau ragu
Yesus pasti menolongmu
Bersukacita senantiasa
Tetaplah berdoa

Sebelum doa terucap
Dia sudah mengerti
Saat sembah pujian naik
KuasaNya bekerja

Bagian 5.
Anakku mujizat tlah terjadi
Tatkala engkau imani
Tak terpikir dan tak terselami
Stinggi langit dari bumi

Demikian kasih setia Tuhanku
bagi yang percaya
taat dan tahan ujian
Trimalah berkatnya

(Januari 2013. Disarikan dari nasihat Ibunda tercinta Ny. Liane Lampe Widagdo, 1937-2011)


Thank God it’s Christmas!

Kami sekeluarga, pengelola blog ini mengucapkan SELAMAT HARI NATAL 2012 DAN TAHUN BARU 2013 bagi semua pengunjung.

MERRY CHRISTMAS & HAPPY NEW YEAR, WISHING YOU ALL THE BEST.

Kami juga mengucap syukur atas pertolongan Tuhan Yesus Kristus, sehingga jangkauan blog ini kian luas. Tercatat pengunjung blog ini sejak dimulai pada bulan Juli 2010 hingga Desember 2012 telah mencapai angka 1,016,806 dan khusus pada tahun 2012 berjumlah 617,735 dengan angka rerata pengunjung per hari berjumlah 1.725, berasal dari 102 negara di dunia.

Right to left, Moses, Priskila, Amazia, Hosana, Jemima, William, Ester.

Right to left: Moses, Priskila, Amazia, Hosana, Jemima, William, Ester.

Tuhan Yesus memberkati.


MENGEMBANGKAN LIFE SKILL PADA ANAK

Rekan-rekan guru Sekolah Minggu, berikut ini sebuah karya tulis lama Admin Bahansekolahminggu yang dirasa perlu untuk memperluas wawasan kita bersama. Selamat membaca.

Dari sudut pandang ilmu pendidikan dikenal istilah “life skill” atau ketrampilan hidup.  Di Amerika Serikat, LeMahieu (1999) dari Department of Education State of Hawai‘I menyatakan “Enambelas tahun yang lalu publikasi yang berjudul “A Nation at Risk” menyebabkan suatu reformasi pendidikan dan perdebatan multidimensional di AS mengenai masa depan pendidikan di sana.”

Kemudian salah satu hasil dari gelombang reformasi pendidikan tersebut adalah lebih intensifnya pengembangan “life skill”, bahkan kemudian perdebatan dan konsep-konsep yang diajukan tersebut bukan hanya berkembang pesat di AS, namun meluas hingga ke seluruh dunia. Beberapa literatur dan laporan menyebutkan pengembangan konsep tersebut di benua Eropa, Asia,  dan Afrika. Sehingga kemudian PBB lewat UNICEF, WHO dan UNESCO mengembangkan konsep ketrampilan hidup ke dalam berbagai program antara lain kesehatan, kependudukan, dan pendidikan.

Definisi WHO mengenai “life skill” adalah the abilities for adaptive and positive behaviour that enable individuals to deal effectively with the demands and challenges of everyday life“. UNICEF mendefinisikannya sebagai : “a behaviour change or behaviour development approach designed to address a balance of three areas: knowledge, attitude and skills”.  UNICEF, UNESCO dan WHO membuat daftar sepuluh strategi pokok life skill yaitu :

  1. problem solving,
  2. critical thinking,
  3. effective communication skills,
  4. decision-making,
  5. creative thinking,
  6. interpersonal relationship skills,
  7. selfawareness building skills,
  8. empathy, 
  9. coping with stress and
  10. coping with emotions.

Self-awareness, self-esteem dan self-confidence adalah hal yang penting untuk mengerti kekuatan dan kelemahan seseorang.

Townson (2004) menyebutkan bahwa “life skill” pada setiap orang itu berbeda-beda, pengertian life skill menurutnya yaitu pengetahuan dan kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk berfungsi di dalam masyarakat.


Ketrampilan Hidup (Life Skill)

Prianto (2001) bahwa mengungkapkan konsep pendidikan di Indonesia masih mengajarkan ‘kulit arinya’ saja. Artinya, murid hanya disodori setumpuk materi tanpa menyentuh kebutuhan yang lebih dalam dari seorang anak. Menurut Rose, hakekat belajar lebih sering diterjemahkan sebagai mengejar nilai, NEM atau ranking saja tanpa memperhatikan mutu, tingkah laku dan perkembangan pribadi anak. Kurikulum yang ada saat ini nampaknya belum mampu menemukan esensi pendidikan serta membantu mengembang kreativitas anak. Pemenuhan hak-hak anak seringkali juga tidak terpenuhi pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat. Ambil contoh, hak bermain dan berekreasi mereka terganggu oleh jadwal sekolah yang padat, kurikulum yang melampaui beban, ataupun jadwal kursus yang bertubitubi harus dihadapi oleh seorang anak. Pendidikan dalam kondisi ini sarat diartikan untuk menjejali anak dengan pengetahuan sebanyak-banyaknya bukannya pada pengembangan anak akan pengetahuan esensial yang penting bagi kehidupan.

Sujono Jachja, Wakil Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak mengatakan dalam artikel Majalah Suar, Nopember 2001 sebenarnya masalah-masalah kesejahteraan anak dan hak anak atas pendidikan sudah dibicarakan mendalam. Ini mengingat Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi mensyaratkan bahwa setiap anak harus mendapatkan hak-haknya termasuk untuk pendidikan dasar. Namun demikian, Sujono melihat, secara realistis boleh jadi pemerintah mengalami kesulitan untuk memberikan perhatian kepada sekitar 45 juta anak, yaitu mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “Sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi Internasional, pemerintah hendaknya melakukan upaya-upaya bertahap agar implementasi dari instrumen-instrumen hak asasi manusia dapat dilakukan,” jelasnya. Ditanya soal tanggung jawab untuk dapat dipenuhinya wajib belajar pendidikan dasar, Sujono Jachja mengatakan pendidikan dasar yang dimaksud bukan sekedar compulsory atau wajib belajar di sekolah, tetapi pendidikan pokok yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan wajib ditanggung pemerintah. Menurutnya, masyarakat juga dapat mengawali dan melakukannya. “Yang meski kita lakukan adalah universal education. Artinya, pendidikan itu dapat dinikmati oleh semua anak di semua tempat,” papar Sujono. Sementara itu, Saparinah Sadli, wakil ketua Komnas HAM menekankan, pendidikan formal bukanlah alternatif satu-satunya untuk melakukan proses belajar. Dikatakan, masalah kesempatan untuk memenuhi hak atas pendidikan idealnya memang tidak hanya diartikan secara sempit sebagai bersekolah (formal). “Apabila sumber daya di lingkungan sekitarnya tidak memadai, maka dapat dilakukan pendidikan alternatif dengan menggunakan sumber daya yang ada. Institusi agama dan adat dapat juga melakukan upaya-upaya pendidikan bagi anak-anak,” ujarnya. Saparinah Sadli menambahkan masyarakat dapat mencoba memberikan atau memenuhi pendidikan anak walaupun tidak dalam bentuknya yang formal dan berdasarkan kurikulum. Yang lebih penting, katanya, adanya sebuah kegiatan yang substansi dan bentuknya dalam arti luas dari pendidikan yaitu menyampaikan kepada anak tentang informasi atau ajaran yang dapat mengembangkan anak yang bersangkutan.

Dengan demikian diharapkan anak dapat mengenal dan mengerti apa yang perlu dia pahami pada usianya sebagai anak yang merupakan bagian dari suatu komunitas. “Lingkungan dan komunitas seringkali memiliki kegiatan yang disesuaikan dengan apa yang tersedia, apakah dana, orang atau gurunya. Setiap komunitas dapat berbuat sesuatu untuk anak-anak dan masa depannya,” tambahnya.

Menurut Minnesota Department of Children, Families, and Learning (1997) dalam Sims (1998), “Students are learning both to learn and to work. Learning and working are becoming synonyms. Both require practice, guidance, and support.”  The Minnesota Department of Children, Families, and Learning memberikan definisi bekerja sebagai suatu usaha produktif yang meliputi baik pekerjaan yang dibayar dan yang tidak dibayar seperti menjadi pelajar, melaksanakan kerja sebagai orang tua, mengurus rumah, mengerjakan hobi, atau pelayanan kerja sukarela.  Pekerjaan dalam kehidupan merujuk pada kegiatan bekerja sepanjang masa hidup dan bagaimana pekerjaan tersebut dikembangkan dan diselesaikan melalui pengalaman belajar yang direncanakan maupun tidak direncanakan.

Sims (1998) kemudian menyimpulkan bahwa : “It is clear that schools alone cannot prepare youth for their life work. To instill the capabilities of work/life skills in young people, public agencies, organizations, employers, communities, parents, and the school system must work together.”

Di AS dikembangkan suatu program berskala nasional untuk mengembangkan life skill, disebut dengan 4-H, yaitu program pengembangan pendidikan dari University of Illinois Extension. Program ini terdiri dari serangkaian delivery modes dimana pemuda belajar dalam setting grup atau dari dirinya sendiri. Seorang tuan rumah yang memandu aktivitas memperkaya program ini dengan sejumlah pengalaman.

Apa komponen utama dari life skills? World Health Organisation (WHO) mengkategorikannya ke dalam tiga komponen :

a)       Ketrampilan berpikir kritis/ ketrampilan membuat keputusan termasuk ketrampilan pemecahan masalah dan pengumpulan informasi. Seseorang harus berketrampilan mengevaluasi konsekuensi masa depan atas tindakannya dan tindakan orang lain terhadapnya saat ini. Mereka perlu kemampuan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah untuk menganalisis pengaruh dari nilai-nilai mereka dan bagi nilai orang-orang di sekitar mereka.

b)      Ketrampilan interpersonal/ komunikasi– mencakup komunikasi verbal dan non verbal, mendengar secara aktif, kemampuan mengekspresikan perasaan dan memberikan umpan balik. Juga termasuk dalam kategori ini yaitu kemampuan bernegosiasi/ menolak dan dan ketrampilan bersikap tegas yang secara langsung berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk mengelola konflik. Empati, yang merupakan kemampuan untuk mendengar dan mengerti kebutuhan orang lain, juga merupakan kunci bagi ketrampilan interpersonal. Termasuk juga di dalamnya kerjasama dalam tim dan kemampuan bekerjasama, kemampuan menyatakan hormat bagi orang-orang di sekitarnya. Pengembangan ketrampilan ini memberikan kemampuan bagi anak untuk beradaptasi dalam masyarakat. Ketrampilan-ketrampilan ini memberikan hasil dalam situasi penerimaan norma-norma sosial yang menjadi dasar perilaku sosial orang dewasa.

c)       Ketrampilan penanganan (Coping) dan manajemen diri merujuk pada ketrampilan-ketrampilan yang meningkatkan kontrol dari dalam diri, sehingga orang itu yakinn bahwa ia mampu membuat perubahan dan mempengaruhi perubahan itu. Self esteem, self-awareness, dan ketrampilan self-evaluation dan kemampuan untuk menetapkan tujuan juga merupakan bagian dari kategori umum dari ketrampilan memanaje diri  (self-management skills). Anger, grief and anxiety must all be dealt with, and the individual learns to cope loss or trauma. Stress and time management are key, as are positive thinking and relaxation techniques.

LeMahieu (1999) melaporkan bahwa hasil-hasil penelitian menunjukkan beberapa manfaat dari  Life Skills-Based Education yaitu : berkurangnya perilaku kekerasan; meningkatnya perilaku pro-sosial yang positif dan yang negatif berkurang; berkurangnya perilaku merusak diri sendiri; meningkatnya kemampuan membuat perencanaan masa depan dan memilih solusi atas permasalahan yang dihadapi; meningkatnya citra diri, kesadaran diri, kemampuan penyesuaian sosial; meningkatnya perolehan pengetahuan; membaiknya perilaku di dalam kelas; kemajuan dalam hal kontrol diri dan penanganan masalah-masalah inter-personal dan coping kecemasan; meningkatnya pemecahan masalah dengan rekan sebaya. Penelitian juga telah membuktikan bahwa sex education yang didasarkan pada life skill memberikan hasil berupa perubahan yang lebih efektif dalam penggunaan kontrasespsi bagi remaja; penundaan aktivitas pengalaman seksual pertama; penundaan penggunaan alkohol dan marijuana serta pengembangan sikap dan perilaku yang diperlukan menghadapi penyebaran HIV/AIDS.

Beberapa landasan teoretik yang berkaitan dengan konsep life skill yang digunakan dalam penelitian  ini berhubungan dengan Contextual Learning.

Contextual learning atau pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang dekat dengan pengalaman aktual. Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi yang membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka baik sebagai anggota keluarga, warga negara atau pekerja serta mengaitkannya dengan kebutuhan yang diperlukan dalam belajar.(Blanchard, 1991).

Menurut Simpson, (1992) dalam teori pembelajaran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya apabila siswa (pembelajar) memproses informasi baru atau pengetahuan dengan suatu cara yang masuk akal menurut kerangka pikirnya sendiri (keadaan dalam dunianya sendiri, pengalaman atau tanggapan). Pendekatan pembelajaran kontekstual  terhadap belajar dan mengajar  menganggap bahwa pada dasarnya pikiran mencari suatu makna dalam suatu konteks—yaitu, dalam hubungannya dengan lingkungan sekarang darinya.—dan ini terjadi seperti itu dengan mencari hubungan-hubungan yang dapat diterima (masuk akal) dan kemudian dipahami bahwa ternyata hal itu berguna.

Beberapa hal yang menjadi karakter pembelajaran kontekstual menurutnya yaitu  yaitu :

a)      Menitikberatkan pada pemacahan masalah

b)      Diorganisasikan dengan keadaan dunia sekeliling

c)      Memungkinkan berbagai variasi sumber belajar

d)     Lebih mendorong terlaksananya pembelajaran di luar kelas

e)      Menghargai pengalaman belajar siswa dalam proses pembelajaran

f)       Mendorong adanya pembelajaran kolaboratif

Sedangkan model yang dijadikan dalam penyusunan model, yang juga menjadi salah satu acuan dalam meneliti kebutuhan anak jalan terhadap life skill  tertentu adalah model TLS atau Targeting Life Skill yang dikembangkan oleh Hendricks dan tim Iowa State University Extention.

Menurut Hendricks (1996) dalam Sims (1998), perkembangan pemuda adalah suatu proses mental, fisik dan pertumbuhan sosial selama suatu masa dimana para pemuda dipersiapkan untuk hidup secara produktif dan memuaskan dalam kebiasaan dan peraturan masyarakat.

Hendricks mendefinisikan life skill sebagai skill yang membantu seorang individu agar sukses dalam hidup yang produktif dan memberikan kepuasan. Hendricks mengembangkan Targeting Life Skills (TLS) model pada gambar di bawah.

Gambar 1. Model Targeting Life Skills (TLS).

Dalam model TLS ini, kategori life skill dibagi berdasarkan model 4H: yaitu Head (kepala, terdiri dari managing dan  thinking), Heart (hati, terdiri dari relating  dan caring), Hands (tangan, terdiri dari giving dan  working), dan Health (kesehatan, terdiri dari living  dan  being).

Dengan model TLS, perencana program dapat membantu pemuda untuk mencapai potensinya melalui pendekatan positif terhadap pengembangan life skill, penyampaian informasi dan latihan skill yang sesuai tingkat perkembangan, menuliskannya dengan spesifik, tujuan penghembangan life skill yang terukur, melengkapi rencana instruksional yang memberikan pengalaman berdasarkan teori belajar berpengalamanuntuk mencapai life skill dan mengidentifikasi indikator perubahan yang terukur juga untuk mengevaluasi pengaruh progam.

Resume Tugas Karya Tulis a.n. Mos F. Dari berbagai sumber.


Situs-situs Pelayanan Sekolah Minggu

Berikut ini sejumlah situs khusus pelayanan anak-anak Kristen dan sekolah minggu yang baik dan bermanfaat  untuk dikunjungi para orang tua, guru-guru maupun semua yang berkepentingan atau  berminat membantu pelayanan bagi anak-anak. Silakan klik link pada judul, maka Anda memasuki wadah maya yang penuh berkat tak terduga.

1. http://sekolahminggu.net/

Sekolahminggu.net menyediakan aneka Cerita Alkitab yang menarik dengan tampilan praktis disertai gambar-gambar menarik. Kategori artikel sangat beragam, ada pula lirik lagu-lagu sekolah minggu yang dapat Anda download.

2. http://pepak.sabda.org/

Pepak.sabda.org/ adalah situs “Sesepuh” yang juga menjadi pendorong saya kala memulai blogsite bahansekolahminggu.wordpress.com. PEPAK adalah singkatan dari Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen. Situs ini sangat lengkap. Banyak sekali materi pelayanan yang dapat diperoleh di PEPAK, baik untuk anak-anak, orang tua, guru sekolah minggu,pendeta, gembala, pastor atau siapa saja.

Pada ucapan selamat datang di situs PEPAK tertulis: Tidak hanya dari buku cetak, pada zaman teknologi saat ini, pelayan anak dapat memanfaatkan internet seluas-luasnya untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas pelayanannya. Oleh karena itu, silakan bergabung dalam situs PEPAK untuk mendapatkan ribuan bahan yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan Anda, sehingga pengajaran dan pelayanan Anda benar-benar menyentuh hati anak-anak layan yang Tuhan percayakan kepada Anda. Silakan masuk dalam kategori Guru-Pendidik. Berbagai metode dan cara mengajar pun dapat Anda temukan dalam situs PEPAK.

3. http://yesuscintaku.wordpress.com/

Pada blogsite yang diberi judul “Sekolah Minggu dan Pernak-Perniknya”  ini, dapat Anda temukan berbagai artikel menarik yang sangat berguna untuk diketahui para pelayan anak-anak dan guru sekolah minggu. Sebagian tulisan di blog ini, sebagaimana dikemukakan oleh Admin, juga ada di dalam situs PEPAK <http://pepak.sabda.org>. Bisa juga lihat di beberapa edisi e-BinaAnak.

Penulisnya menyatakan ingin menjadikan situs ini sebagai penguat komitmennya dalam dunia pelayanan anak dan ingin, berbagi beban seputar pelayanan anak dengan setiap pelayan anak Indonesia. Amen.

4. http://jeniuscaraalkitab.com/

Situs http://jeniuscaraalkitab.com/ berisi aneka materi kreatif yang mampu memperkaya para pelayan anak dengan cara unik. Layanan http://jeniuscaraalkitab.com/ juga bisa ditemukan di situs Youtube, sehingga memudahkan mempelajarinya. Untuk melihat video-videonya, silakan klik di sini http://www.youtube.com/user/SusanGraceWidiono/videos?view=0.

5. http://anakbersinar.com

Anak Bersinar Bangsa Gemilang, demikian kata yang saya kutip dari situs ini. Selanjutnya dikatakan, adalah seruan bersama untuk mengarahkan fokus, menyatukan hati dan memadukan langkah bersama untuk membangun generasi anak kita demi masa depan bangsa. Bukan hanya anak-anak di rumah kita atau di Gereja kita saja yang perlu kita perhatikan, tetapi anak-anak secara umum dimasyarakat.

Dalam situs ini bisa ditemukan berbagai materi pengaya yang sangat bermanfaat, antara lain berupa rtikel, video animasi, dan berbagai info kegiatan.

Demikian untuk sementara, info tentang lima situs pelayanan anak yang baik untuk kita kunjungi. Selamat memberkati.


Mewarna Gambar Boneka Sesame

Banyak anak-anak kita telah mengenal tokoh-tokoh boneka Sesame lewat buku-buku atau video pembelajaran.

Beberapa di antaranya bahkan telah terkenal dan dijadikan ikon yang diasosiasikan dengan program belajar dalam berbagai bahasa.

Berikut ini beberapa gambar para lakon Sesame untuk kita warnai. Selamat beraktivitas, dan mari garis bawahi bahwa pencurahan kasih sayang merupakan bagian terpenting dari kegiatan ini. Gambar atau bahan-bahan lain hanyalah sarana untuk menyampaikannya. Shalloom, Tuhan Yesus memberkati.


Mewarnai Gambar Scooby Doo

Siapa tak kenal Scooby Doo? Si anjing kocak yang cerdas dan mujur. Bersama sahabatnya Shaggy dan teman-temannya mereka berkeliling kemana-mana memecahkan berbagai misteri.

Bahkan seingat saya, film kartun ini sudah populer sekurangnya sejak sekitar empat puluh tahun yang lalu. Mungkin ayah dan kakek anak-anak kita pun mengenal Scooby Doo.

Mari mewarnai dengan sukacita.


Mewarnai dan Mengenal Huruf

Untuk anak-anak yang baru belajar mengenal huruf, inilah permainan untuk mendukung pembelajaran tahap awal menulis dan membaca. Ajarkan mereka mengisi warna seturut bentuk bangun huruf sembari kenalkan makna bentuk bangun yang diwarnai sebagai sebentuk huruf. Jangan paksa mereka untuk menghafalkannya, perkenalkan saja dan perlihatkan ciri khas masing-masing bentuk serta perbedaan antara bentuk bangun huruf yang satu dengan lainnya.

Mohon menjadi catatan bagi para orang tua dan rekan Guru Sekolah Minggu, jangan sampai kita terjebak trend pendidikan (yang sesat namun belakangan populer) untuk memaksakan anak-anak di usia taman kanak-kanak atau prasekolah untuk “harus bisa baca tulis dan berhitung”. Usia mereka masih untuk permainan yang menyenangkan. Memberi mereka tugas yang tak sesuai hanya akan menjadi bumerang di kemudian hari.


Permainan Maze

Salam! Rekan-rekan Guru Sekolah Minggu dan orang tua penyayang anak, kali ini disediakan 20 gambar permainan maze.

Mari bimbing anak-anak kita. Berikan petunjuk dan biarkan mereka menyelesaikan permainan secara mandiri.

Berikan penghargaan kala mereka melakukannya.

 


Warnai, Potong dan Tempelkan!

Salam, rekan-rekan Guru Sekolah Minggu dan para orang tua. Berikut ini disediakan bahan untuk aktivitas anak-anak kita berupa mewarnai, menggunting atau memotong, dan menempelkannya di kertas lain.

Bagi rekan-rekan, perhatikan alat potong anak-anak kita, jangan sampai membahayakan diri. Awasi dengan seksama, amati denghan baik setiap anak. Jika ada yang belum bisa menggunakannya, ajari atau bila perlu ambil alih khusus untuk proses memotong/ menggunting.

Mari lakukan dengan penuh sukacita. Tuhan Yesus memberkati!


Mewarnai Gambar Kartun Barney dan Kawan-kawan

Meski besar dan bentuknya aneh, Barney tetaplah lucu dan banyak disukai anak-anak. Berikut ini 12 gambar Barney dan 4 gambar Aford untuk diwarnai anak-anak kita.

Selamat beraktivitas! tuhan Yesus memberkati.


Mewarnai Gambar dan Permainan Mengenal Abraham Lincoln

Mari mengenal Abraham Lincoln seorang negarawan ternama lewat permainan berikut ini.

Beberapa permainan mungkin baru, tapi jangan khawatir karena ada petunjuk untuk rekan-rekan Guru dan orang tua.

Selamat menikmati.

 


MEMAHAMI CARA ANAK BERPIKIR

Rekan-rekan Guru Sekolah Minggu dan para Orang Tua terkasih, bekal utama pengajaran anak adalah pengenalan akan Kristus. Bekal lain yang perlu kita dapatkan adalah pemahaman akan apa yang kita kerjakan. Khusus untuk rekan-rekan Guru Sekolah Minggu dan para Orang Tua, berikut ini ditampilkan beberapa artikel hasil resume dan kompilasi dari berbagai bahan mengenai pengajaran sekolah minggu.

Saya hanya mengedit, sortir, klasifikasikan dan menyajikan ulang. Bahan tulisan ini dikutip dari berbagai majalah, buku-buku, ebook dan terutama dari e-BinaAnak (PEPAK), http://pepak.sabda.org/

Selamat belajar & melayani! Tuhan Yesus memberkati.

 

MEMAHAMI CARA ANAK BERPIKIR

 

1. Anak-anak berpikir harafiah dan konkret

Ide-ide abstrak dan simbolis akan ditangkap menurut pengertian harafiah mereka. Misalnya saja, Monika, gadis kecil yang baru berusia lima tahun, ia berhenti mengucapkan doa malamnya pada minggu di mana ia dan keluarganya pindah ke rumah baru mereka. Ibu Monika menyangka keengganan putrinya untuk mengucapkan doa malam ini disebabkan karena kekecewaan Monika karena pindah dari rumah mereka yang lama. Namun demikian, Monika tampak benar-benar bahagia dengan rumah barunya dan lingkungan di sekitarnya. Akhirnya, setelah beberapa minggu berlalu, orangtua Monika baru mengerti alasan yang sebenarnya Monika enggan berdoa malam. Di rumah mereka yang lama, Monika dengan mudah memvisualisasikan bahwa doanya didengar Tuhan karena di dekat rumah mereka yang lama tersebut ada sebuah gereja. Tuhan, menurut pemikirannya yang lugu, tinggal di “rumah-Nya” yaitu di gereja. Dengan demikian ketika mereka harus pindah ke luar kota, pikiran dan keyakinannya tidak terentang cukup jauh untuk membayangkan bahwa Tuhan masih dapat mendengar doanya walaupun rumah mereka yang baru jauh dari gereja. Pemikirannya yang lugu membuatnya menciptakan gambaran bahwa Tuhan tinggal di dalam gereja, oleh karena itu di rumah lama doanya masih dapat didengar Tuhan karena dekat gereja.

 

2. Pemikiran anak berkembang dari pengalaman pribadinya

Anak-anak tahu apa yang ia lihat dan ia kerjakan. Kata-kata tidak cukup untuk menyampaikan informasi yang ingin ia ucapkan. Anak- anak membutuhkan bingkai referensi sehingga penjelasan verbal yang ingin ia sampaikan mempunyai makna yang jelas. Kebutuhan anak akan pengalaman seringkali diikuti dengan masalah keterbatasan anak dalam berpikir, yaitu masalah kosa kata.

 

3. Pemikiran anak dibatasi oleh perbendaharaan kosa kata yang dimilikinya

Anak usia tiga tahun mampu memahami 85-89% percakapan normal yang dilakukan oleh orang dewasa. Namun, 10-15% kata-kata asing yang ditangkapnya seringkali menimbulkan masalah. Anak usia di bawah empat tahun jarang sekali ada yang meminta penjelasan untuk kata- kata asing yang didengarnya. Mereka terlalu sibuk belajar tentang segala hal sehingga tidak sempat bertanya definisi kata-kata yang didengarnya tersebut. Sebaliknya, anak-anak akan mengembangkan suatu pola mencocokkan kata-kata asing tersebut dengan kata-kata yang telah mereka ketahui maknanya.

Pada suatu Minggu Paskah, dalam perjalanan kami pulang dari menghadiri misa Paskah di gereja, saya menanyai Andrew di mobil tentang kisah Alkitab yang baru saja ia dengarkan. Tampaknya tidak ada salahnya kami bertanya hal-hal seputar Paskah pada Andrew, tetapi jawaban Andrew sungguh mengejutkan, “Cerita tadi tentang Yesus di penjara (prison)!”

Saya tahu isi Alkitab dan saya tentu saja tahu kisah Paulus dalam penjara atau Yusuf dalam penjara, tetapi tak pernah sekalipun saya mendengar tentang Yesus dalam penjara. Setelah beberapa pertanyaan, akhirnya jelas sudah apa yang sebenarnya didengar Andrew. Pada masa pra-paskah, guru-guru di sekolah Andrew selalu memperbincangkan bahwa “Allah telah bangkit!”, “God is risen!”. Mereka juga menyanyikan lagu tentang hal itu dan mengatakan agar anak-anak bahagia karena “Allah telah bangkit (risen)”. Tetapi tak satupun dari guru-guru tersebut yang menjelaskan apa arti “risen” sebenarnya. Karena belum pernah mendengarkan kata tersebut sebelumnya, Andrew melakukan apa yang biasanya dilakukan anak-anak jika mereka mendengarkan kata-kata asing. Ia menggunakan kata tersebut untuk menggantikan kata yang mirip bunyinya (kata “risen” dan “prison”) dengan kata yang pernah ia dengarkan dan sepanjang hari ia merasa heran mengapa semua orang harus berbahagia jika Yesus dipenjarakan.

Bahkan jika anak-anak menggunakan kata-kata dengan benar, belum tentu mereka memahami kata-kata tersebut. Anak-anak sangat lihai dalam menirukan, mereka ikut bernyanyi, mengutip sajak-sajak, menggunakan ungkapan atau kiasan tanpa memahami apa yang baru saja mereka nyanyikan atau katakan. Kenyataan bahwa mereka tidak memahami arti kata-kata yang mereka ucapkan juga tidak mengganggu mereka sedikitpun. Mereka itu seperti politikus yang puas mendengar apapun yang mereka ucapkan walaupun sebenarnya kata-kata tersebut tidak mempunyai arti sama sekali.

 

4. Pemikiran anak-anak dibentuk oleh sudut pandang yang terbatas

Jika orang-orang dewasa seringkali kesulitan dalam menerima sudut pandang orang lain, anak-anak seringkali mengalami kesulitan karena mereka tidak menyadari bahwa orang lain dapat mempunyai sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang yang dimilikinya. Anak-anak dengan gembiranya menganggap orang lain mempunyai pikiran dan perasaan yang sama tentang segala hal.

Dengan demikian, jika seorang anak kecil mempunyai suatu ide yang mantap, adalah hal yang sulit untuk dapat mengubah cara berpikirnya. Jika ada cara lain untuk melihat sesuatu, cara anak-anaklah yang benar.

Sudut pandang anak akan menghasilkan kesimpulan yang menarik karena ia seringkali akan memfokuskan perhatian mereka terhadap suatu masalah kecil atau tidak ada hubungannya sama sekali dan kehilangan komponen yang utama. Contohnya, seorang anak dalam menceritakan orang Samaria yang baik hati akan lebih memfokuskan cerita pada keledai-keledai, tutup kepala, atau para perampok dari pada tentang kebaikan yang harus diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya. Jika dalam cerita, anak-anak tertarik kepada keledainya, maka cerita tersebut adalah tentang keledai menurut sudut pandang si anak.

 

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Judul Buku: Everything You Want to Know About Teaching Young Children: Birth – 6 years

Penulis   : Wesley Haystead

Penerbit  : Gospel Light Publication, 1989

Halaman   : 13 – 15

 

 

PERKEMBANGAN ALAM PIKIR ANAK

 

ANAK BATITA (Di bawah 3 Tahun)

 

1. Daya konsentrasi terbatas

Anak Batita belum sanggup untuk berkosentrasi dalam jangka waktu lama. Perhatian cepat dialihkan kepada kegiatan lain. Tetapi ia dapat mendengarkan sebuah cerita dengan penuh perhatian, asal ceritanya pendek, tidak melebihi lima menit. Anak batita senang bila cerita itu diceritakan ulang berkali-kali dengan kata-kata yang sama.

 

2. Arti kata-kata belum pasti dimengerti

Pada waktu seorang anak berumur tiga tahun ia mengenal k.l. 900 kata dan akan bertambah menjadi k.l. 1500 kata menjelang 4 tahun. Kebanyakan kata yang dipakai adalah kata benda; bentuk kalimatnya sederhana, terdiri dari dua, tiga kata saja. Tetapi mereka dapat menyebut hal-hal yang dilihat. Karena kata perbendaharaan katanya terbatas, ia belum pasti mengerti arti kata yang didengar dan dipakai atau dihafal. Karena itu perlu sekali dipakai kata-kata yang sederhana kalau membawa cerita Alkitab. Kata-kata ayat hafalan juga perlu dijelaskan.

 

3. Belajar melalui panca indera

Panca indera merupakan gerbang dari otak anak. Melalui melihat, mendengar, mencium, merasa, dan meraba, anak dapat mengenal dunia di sekelilingnya. Ia belajar melalui pengalaman langsung.

 

4. Rasa ingin tahu

Anak batita terus bertanya karena didorong rasa ingin tahu. Pertanyaan pertama merupakan: “Apa ini?” “Apa itu?”. Melalui bertanya seorang anak menambah kemampuan pikiran dan pengetahuannya. Karena itu pertanyaan-pertanyaan harus dijawab dengan sabar, meskipun sewaktu-waktu membosankan.

 

5. Mulai mengerti mengenai waktu

Anak batita mengembangkan pengertian mengenai jarak waktu dan mulai mengerti istilah “kemarin”, “hari ini”, dan “hari esok”. Mereka juga dapat mengingat kejadian-kejadian yang tidak terlalu lama dan berbicara mengenainya.

 

6. Kesanggupan menghitung dan mengerti angka

Secara rutin anak batita dapat berhitung sampai sepuluh, tetapi ia hanya dapat menguasai dua atau tiga benda pada permulaan. Kwantitas itu bertambah dengan bertambahnya umur.

 

ANAK KECIL (4-5 Tahun)

 

1. Kuat dalam menghayal

Mereka kaya dalam hal berkhayal. Lewat kesanggupan mengkhyalnya ia mengisi kekurangan dalam pengertian. Ia sulit membedakan di antara yang benar dan yang dikhayalkan.

 

2. Suka meniru

Mereka suka meniru. Melalui meniru ia mencari pengalaman untuk memahami dan memasuki dunia orang dewasa yang makin lama makin menarik. Melalui meniru pula mereka mendidik dirinya sendiri. Sebab itu perlu sekali mereka melihat teladan yang baik. Karena mereka akan meniru segala sesuatu yang menarik perhatiannya, baik atau buruk.

 

3. Mengembangkan pengertian akan jangka waktu

Anak berumur 4 dan 5 tahun mulai mengerti mengenai minggu, bulan, dan juga mulai mengerti musim-musim. Tapi mereka tidak mempunyai pegertian luas akan masa lampau atau masa depan yang luas. Kalau bercerita kepada mereka cukup menyebut “dulu” tanpa menyebut abad dan tahunnya.

 

4. Menghitung dan pengertian akan angka

Seorang anak kecil sekarang sudah dapat menghitung sampai angka 30. Kemudian mereka dapat mencocokkan angka dengan benda yang sesuai. Mereka senang mempelajari nyanyian yang menyebutkan angka dan permainan jari yang memakai jari-jari dalam hal menghitung. Mereka mulai menulis angka.

 

5. Menambah perbendaharaan kata

Anak kecil yang banyak bergaul dengan kakak dan orang dewasa sangat beruntung dalam hal menambah kata-kata dan menjadi lancar dalam memakai bahasa. Anak berumur 4 tahun k.l. mengenal dan memakai 1550 kata, anak berumur 5 tahun 2200 kata. Mereka senang berbicara dan senang mendengar cerita.

 

ANAK TENGAH (6-8 Tahun)

 

1. Hal menulis dan membaca

Mengikuti kelas satu sampai kelas tiga SD mendorong anak mulai belajar mnulis dan membaca. Mereka bangga jika dapat membaca kalimat-kalimat pada surat kabar dan majalah. Membaca buku cerita anak juga menjadi kesukaan mereka, meski dengan perlahan-lahan.

 

2. Haus akan cerita

Meskipun senang membaca, anak tengah belum bisa membaca dengan cepat. Sehingga mendengar cerita merupakan hal yang sangat menyenangkan. Mereka mulai membedakan antara cerita dongeng dan cerita nyata. Bila pada kelompok ini ditanamkan keyakinan bahwa Tuhan berbicara kepada kita melalui firman-Nya dan bahwa peristiwa yang diceritakan dalam Alkitab sungguh terjadi, mereka akan bersemangat dalam mendengarnya dan akan memegangnya sebagai keyakinan.

 

3. Konsentrasi lebih lama

Anak tengah dapat bertahan lebih lama. Hal ini dikarenakan daya konsentrasi mereka yang lebih lama. Mereka tahan mengikuti kebaktian anak yang berlangsung dalam satu jam. Mereka juga dapat mengerti dan mengikuti instruksi guru.

 

4. Belum mengerti hal yang abstrak

Anak tengah belum dapat mengerti hal yang abstrak, yaitu sesuatu yang tidak dapat dilihat dan dipegang. Karena itu bila dalam pelajaran yang disampaikan ada kata-kata yang abstrak, guru perlu menjelaskannya, seperti kata iman dan pengampunan. Istilah-istilah semacam itu hendaknya dijelaskan melalui peristiwa dalam cerita. Mereka hanya mengerti kata-kata dalam arti yang sebenarnya.

 

5. Cara berpikir “hitam putih”

Pengertian anak tengah masih sederhana dan polos. Cara berpikir mereka adalah “hitam putih”. Yang baik sungguh baik dan yang jelek sungguh jelek. Mereka belum mengerti besarnya komplikasi kepribadian seseorang. Bahwa seseorang pada satu saat bisa melakukan hal yang baik dan kemudian hari melakukan hal yang tidak perlu dicontohi, masih terlalu sulit untuk pengertian mereka.

 

6. Belum mempunyai pendapat sendiri

Pola pemikiran anak berumur 6-8 tahun masih tergantung pada orangtua atau guru mereka. Itu berarti, pola penilaian positif yang ditanamkan oleh orangtua atau guru mempunyai pengaruh besar dalam hidup mereka. Dalam rangka membangun kepribadian anak, sebaiknya mereka diberi kesempatan untuk belajar mengambil keputusan atas hal-hal yang sederhana, juga diijinkan bertanya atau memberikan pendapat secara spontan.

 

7. Hidup dari hari ke hari

Keterbatasan tetapi juga keindahan dari cara hidup anak tengah adalah hidup dari hari ke hari. Mereka tidak terlalu melihat ke belakang dan tidak menguatirkan hari esok. Itu sebabnya mereka belum tertarik pada sejarah, baik sejarah umum maupun sejarah Alkitab.

 

ANAK BESAR (9-11 Tahun)

 

1. Daya konsentrasi baik

Anak besar telah mempunyai daya konsentrasi yang baik. Mereka sanggup duduk untuk mendengar cerita selama 20 – 25 menit. Kesukaan mereka mempelajari sejarah dapat diisi dengan cerita dalam urutan sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Juga dapat diajarkan mengenai peta Alkitab yang berhubungan dengan cerita yang disampaikan. Daya konsentrasi yang baik ini juga memungkinkan anak besar mempelajari ayat hafalan yang lebih panjang kalimatnya.

 

2. Mempunyai banyak minat

Pengalaman dan kesanggupan baru menimbulkan banyak cita-cita pada anak besar. Mereka senang berolahraga, mengumpulkan perangko atau gambar pahlawan/tokoh, juga benda-benda dari alam semesta.

Banyak hal yang menarik minat anak besar. Melalui ketertarikan ini mereka menyiapkan diri untuk memilih cita-cita yang akan dikembangkan. Bila pengembangan cita-cita dibangun bersama dengan pengenalan akan Allah, masa depan akan sampai dalam takut akan Tuhan.

 

3. Suka membaca

Keinginan untuk menemukan banyak hal yang baru mendorong anak besar untuk membaca. Mereka tidak lagi tertarik pada cerita khayal, tetapi kepada hal yang sungguh-sungguh terjadi. Alangkah baiknya jika Sekolah Minggu membuka perpustakaan dan menyediakan buku-buku yang mengisi kebutuhan anak besar itu.

 

4. Mulai berpikir logis

Sejalan dengan kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang diperoleh di Sekolah Dasar, anak besar semakin terlatih dalam hal berpikir. Memahami hal ini, dalam interaksi kelas sebaiknya guru menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pikiran anak.

Searah dengan perkembangan logika mereka, anak besar memperhatikan apakah hidup seseorang sesuai dengan perkataannya atau tidak. Mereka sendiri ingin berbuat hal yang benar dan menuntut orang dewasa melakukan apa yang mereka katakan.

 

Bahan diringkas dari sumber:

Judul Buku: Pedoman Pelayanan Anak

Pengarang : Ruth Laufer

Penerbit  : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Departemen Pembinaan Anak dan Pemuda, Malang, 1993

Halaman   : 43-44, 51-53, 61-63, dan 71-72

 

 


MEMAHAMI KEBUTUHAN ANAK

Rekan-rekan Guru Sekolah Minggu dan para Orang Tua terkasih, bekal utama pengajaran anak adalah pengenalan akan Kristus. Bekal lain yang perlu kita dapatkan adalah pemahaman akan apa yang kita kerjakan. Khusus untuk rekan-rekan Guru Sekolah Minggu dan para Orang Tua, berikut ini ditampilkan beberapa artikel hasil resume dan kompilasi dari berbagai bahan mengenai pengajaran sekolah minggu.

Saya hanya mengedit, sortir, klasifikasikan dan menyajikan ulang. Bahan lengkap tulisan ini dikutip dari berbagai majalah, buku-buku, ebook dan terutama dari e-BinaAnak (PEPAK), http://pepak.sabda.org/

Selamat belajar & melayani! Tuhan Yesus memberkati.

MEMAHAMI KEBUTUHAN ANAK

1. Kebutuhan untuk dipelihara dan dirawat

Bila anak-anak merasa bahwa ia bukanlah yang penting dalam keluarganya, dan orangtuanya lebih mengarahkan perhatian kepada pekerjaan mereka semata-mata, maka ia merasa kehadirannya tidak diharapkan. Seringkali kita jumpai orangtua hanya mementingkan diri sendiri, tidak memperhatikan kewajibannya sebagai ayah dan ibu. Dengan hati pedih, terpaksa harus diakui bahwa di sekitar kita masih ada ayah yang lebih mementingkan kesenangan pribadi, daripada memelihara anak-anaknya, lebih suka membawa uangnya ke meja judi daripada membeli beras untuk memelihara isteri dan anaknya. Lebih suka membeli satu pak rokok, daripada memberi sarapan bagi anaknya, dan membiarkan anak itu berjalan ke sekolah dengan perut kosong.

Menurut peribahasa “kasih ibu adalah kasih sepanjang jalan”, tetapi dengan pedih hati kita masih juga mendengar dan membaca berita bahwa ada juga ibu-ibu yang menyerahkan anak gadisnya ke lokalisasi demi mendapat sejumlah uang, atau menjual gadisnya dengan harga yang mahal kepada laki-laki hidung belang. Bila Allah memberi kepada kita kepercayaan untuk mengasuh anak kita, ingatlah bahwa itu adalah suatu anugerah yang besar karena kejadian anak itu dahsyat dan ajaib.

2. Kebutuhan untuk diterima dan dicintai

Setiap anak membutuhkan suatu keyakinan bahwa ia diterima dan dicintai, sehingga ia mampu mempercayai orang-orang di sekitarnya dan juga dirinya sendiri. Anak-anak yang diasuh tanpa orangtua mereka, apalagi bila lingkungan tempat ia tinggal tidak memperhatikan dia dengan penuh kasih, akan cenderung berkembang lebih lambat dari mereka yang tinggal bersama orangtua yang mengasihi mereka.

Peran orangtua adalah menjadikan suasana rumah menjadi cukup kondusif, dimana kasih dan disiplin serta pertumbuhan fisik, intelektual, sosial dapat berkembang secara seimbang.

3. Kebutuhan untuk pendidikan dalam keluarga

Kehidupan keluarga Kristen memang tidak diharapkan diperintah dengan cara otoriter, tetapi orangtua harus dapat memegang kendali keluarga dengan baik.

Anak-anak akan sangat menghargai bila ada rambu-rambu yang membatasi mereka. Pendidikan dalam keluarga yang konsisten akan membantu seorang anak untuk mematuhi juga aturan-aturan di luar keluarga mereka sendiri, peraturan lalu lintas, peraturan pemerintah, dll.

4. Kebutuhan teladan non verbal

Kegagalan pendidikan keluarga sering disebabkan karena orangtua tidak mampu memberikan teladan non verbal (teladan bukan dari kata-kata). Anak-anak memperhatikan hidup orangtuanya, sehingga dapat dikatakan bahwa penyebab utama dari kenakalan remaja sebenarnya adalah “kenakalan orangtua”.

Bagaimana kita dapat menyuruh mereka berdoa, ketika mereka melihat kita tidak pernah berdoa. Bagaimana mereka didorong untuk beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, ketika mereka melihat kita sendiri hidup dalam kemunafikan.

Timotius menjadi penginjil yang setia karena pengaruh ibu dan neneknya Eunika dan Lois, yang bukan hanya membesarkan Timotius tetapi juga berhasil mewariskan iman kepadanya.

5. Kebutuhan untuk ibadah dalam keluarga

Keluarga Yusuf dan Maria pergi ke Yerusalem dari Nasaret, jarak yang cukup jauh untuk merayakan Paskah. Kerelaan untuk menempuh jarak yang cukup jauh itu mewakili keseriusan sikap mereka terhadap ibadah.

Dengan adanya kerinduan tiap anggota keluarga untuk mengalami kasih Allah, maka tiap anggota akan bertumbuh saling menguatkan. Bila Yesus adalah pusat dari keluarga, Ia akan memberi kepada kita kasih-Nya, kebijaksaan-Nya dan kuasa-Nya.

Bahan diambil dan diedit dari sumber:

Judul Buletin: Buletin Sinode GUPDI edisi III/02

Penulis      : Pdt. Debora Estefanus, S.Th.

Penerbit     : Sinode GUPDI, Surakarta, 2002

Halaman      : 34 – 35

Horace Mann : “As an apple is not in any proper sense an apple until it is ripe, so a human being is not any proper sense a human being until he is educated.”

MENGENAL ANAK DAN KEBUTUHANNYA

Mengajar anak di Sekolah Minggu memang merupakan suatu tugas dan tanggung jawab yang besar, khususnya bagi guru Sekolah Minggu. Tidak cukup guru memiliki pengetahuan yang baik tentang Firman Tuhan, guru juga harus “mengenal” keadaan dan kebutuhan murid- muridnya. Pelajaran yang disampaikan setiap minggu pada anak-anak tidak akan banyak gunanya bila kita sebagai guru tidak mampu mengkaitkan/ menghubungkan Firman Tuhan dengan kehidupan dan pergumulan hidup anak-anak.

Sebagai contoh, Tulus (nama anak) sudah mengalami lahir baru, namun dia belum dapat menghilangkan kebiasaan berkelahinya. Apabila kita hanya mengajar mengenai lahir baru saja tanpa mengajarkan bagaimana melepaskan diri dari kebiasaan buruk si anak, yaitu berkelahi, maka hal ini berarti pengajaran kita kurang sesuai dengan pergumulan/ kebutuhan hidupnya.

Sasaran/tujuan dalam mengajar Sekolah Minggu adalah membawa murid-murid yang masih muda ini kepada Tuhan agar mereka menemukan hidup baru di dalam Yesus serta dapat bertumbuh secara rohani sesuai dengan kebenaran Alkitab. Untuk itu, selain pengetahuan tentang Firman Tuhan, sebagai guru Sekolah Minggu kita juga harus benar-benar mengenal murid-murid kita dan mengerti akan pergumulan/kebutuhan hidupnya agar pengajaran yang kita berikan dapat menjawab kebutuhan mereka masing-masing.

A. SIAPAKAH MURID-MURID ANDA?

Yang menjadi murid-murid di Sekolah Minggu adalah anak-anak yang masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan, yang (biasanya) kita bagi dalam kelompok umur seperti berikut ini:

1. Anak Asuhan/Batita   :  2 -  3 tahun

2. Anak Balita/Indria   :  4 -  5 tahun

3. Anak Pratama/Kecil   :  6 -  8 tahun

4. Anak Madya/Tengah    :  9 – 11 tahun

5. Anak Pra-remaja/Besar: 12 – 14 tahun

Selain memiliki karakter umum sesuai dengan kelompok umur masing-masing, murid-murid anda juga merupakan pribadi-pribadi yang unik, yang berbeda antar anak yang satu dengan anak yang lainnya. Keunikan setiap pribadi ini dipengaruhi oleh seluruh aspek kehidupan anak yang meliputi aspek fisik, mental, sosial, dan rohani, serta dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuk mereka, baik lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Keunikan tiap murid ini menimbulkan adanya perbedaan kebutuhan bagi masing-masing mereka, dimana setiap anak memerlukan pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhannya itu.

Misalnya, anda mengajar di sebuah kelas pratama (6-8 tahun). Dapatkah anda bayangkan, bahwa mungkin anda akan mendapati seorang anak yang suka berkelahi, sementara itu ada anak yang suka bersungut-sungut, ada yang malas menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya, atau bahkan ada anak yang memiliki ketakutan jika ditinggalkan orang tuanya. Jadi, walau mereka berada dalam kelompok umur yang sama, namun setiap anak bisa saja memiliki sifat dan latar belakang yang berbeda, yang menjadi penyebab timbulnya perbedaan pula dalam kebutuhan dan pergumulan hidup mereka.

Supaya dapat lebih memahami kebutuhan dan keperluan murid-murid, ada baiknya seorang guru Sekolah Minggu memperlengkapi diri dengan membuat catatan khusus mengenai kondisi dan kebutuhan murid-muridnya.

Di bawah ini ada beberapa langkah sederhana yang dapat anda lakukan untuk dapat semakin “mengenal” murid-murid anda:

1. Mengadakan kunjungan ke rumah murid

2. Bercakap-cakap secara pribadi sebelum atau sesudah pelajaran selesai.

3. Memperhatikan murid ketika dia sedang mengadakan kegiatan bersama murid lain, misalnya amatilah bagaimana ia berinteraksi, bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berbicara, dll.

4. Meminta setiap murid untuk bercerita mengenai keluarganya, hobinya dan kegiatan-kegiatan yang disukainya.

5. Membuat buku catatan data anak (alamat dan tgl. ulang tahun) dan juga hasil pengamatan kita terhadap anak tsb.

6. Mencatat kehadiran anak setiap minggu, mengunjungi anak-anak yang sering absen atau sakit, serta mendoakan mereka yang berhalangan hadir.

B. TELADAN TUHAN YESUS

Tuhan Yesus semasa hidup-Nya telah memberikan teladan bagi kita tentang bagaimana mengajar sesuai dengan kondisi dan pergumulan hidup masing-masing orang yang diajar-Nya. Mis., dengan Nikodemus (seorang Farisi), maka Tuhan Yesus memberi contoh dari Perjanjian Lama (karena Perjanjian Lama inilah yang dipelajari oleh Nikodemus siang dan malam). Namun dengan perempuan Samaria, yang sederhana, Tuhan Yesus memberi contoh tentang air minum dan air hidup (contoh sederhana yang berkaitan dengan pengalaman hidupnya sehari-hari), supaya perempuan Samaria itu bisa mengerti ajaran-Nya.

Sebagai guru Sekolah Minggu, kita sebaiknya juga mengajar seperti Tuhan Yesus, yaitu merancang sedemikian rupa sehingga pengajaran yang kita sampaikan adalah sesuai dengan keadaan/kondisi murid serta mampu menjawab kebutuhan hidupnya.

C. KEBUTUHAN MURID-MURID ANDA

Anak-anak boleh berbeda dalam umur, dalam kedudukan sosial, dalam daya pikir maupun dalam cara mengemukakan pikirannya. Tetapi, status rohani anak manapun adalah sama, yaitu orang berdosa yang membutuhkan Juruselamat. Hal ini akan lebih jelas apabila kita menelaah Roma 5 dan Efesus 2.

Dalam Matius 18 juga dijelaskan keadaan dan akibat dosa, hal ini berlaku tidak hanya bagi orang dewasa, anak-anak pun juga termasuk di dalamnya. Dosa anak tidak boleh dianggap sebagai kenakalan biasa, yang tidak perlu disesalkan, sehingga akhirnya kita sebagai orang dewasa cenderung menganggapnya sebagai suatu hal yang “wajar”.

Di dalam Alkitab, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan banyak hal mengenai anak-anak dan berbagai potensi yang dapat berkembang dalam diri anak. Hal ini dapat kita lihat dalam:

1. Matius 18:10 – mereka berharga (tinggi nilainya)

2. Matius 18:11 – mereka hilang

3. Matius 18:12 – mereka sesat

4. Matius 18:14 – mereka dapat hilang

5. Matius 18:6  – mereka dapat disesatkan

6. Matius 18:6  – mereka dapat percaya kepada Yesus

Di dalam sebuah kelas Sekolah Minggu, memang ada 2 kemungkinan mengenai kondisi rohani anak, yaitu:

1. Ia telah dilahirkan kembali/telah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya secara pribadi.

2. Ia belum dilahirkan kembali, dan ini berarti anak tersebut belum menjadi anak Allah.

Keadaaan di atas bisa terjadi pada anak mana pun; baik yang terdidik dengan baik atau yang kurang diperhatikan oleh orang tua; baik anak yang status sosial ekonominya yang baik maupun yang kurang baik. Keselamatan seseorang tidak bisa dinilai dari “penampakan” luar seorang anak. Seringkali, kita mencoba menilai keadaan lahiriahnya saja, sehingga kita hanya mencari tanda atau bukti luarnya saja.

Dalam diri anak kadang kita sulit menemukannya karena mereka nampaknya polos dan tidak berdosa. Tapi Tuhan melihat “sampai ke dalam hati/batin”, seperti yang dikatakannya dari Markus 7:21, ” … dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan …”. Inilah gambaran yang diberikan Tuhan mengenai hati manusia.

Yang nyata ialah, bahwa anak itu mempunyai hati yang berdosa, dan akan mengikuti jalan dosa, sampai Kasih karunia Allah bekerja dalam hatinya. Itu sebabnya semua anak memerlukan Injil anugerah (Kasih karunia) Allah. Mereka perlu diberitahukan tentang pengampunan dosa, karena Tuhan Yesus bersedia menanggung salib ganti mereka; tentang kuasa Tuhan yang dapat mengubah/memperbaharui hidup mereka; dan tentang kuasa Tuhan Yesus yang memberi kemenangan atas Iblis.

Di sisi yang lain, janganlah kita menganggap remeh keberadaan rohani seorang anak. Mereka dapat bertumbuh secara rohani! Meskipun kelihatannya mereka sangat terbatas daya tangkap dan pemahamannya mengenai Firman Tuhan, namun pengetahuan dan pengalaman anak tentang Kristus dapat bertumbuh secara luar biasa.

Alkitab mencatat tentang pertumbuhan Yesus dalam Lukas 2:40, 52 “Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya.” Dan tentang Yohanes pembabtis Alkitab menulis, “Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya” (Lukas 1:80).

Perkembangan rohani dalam kasih karunia Allah adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap anak yang kita bimbing kepada Tuhan Yesus. Dan inilah yang menjadi tugas utama kita sebagai guru Sekolah Minggu.

Selamat melayani!

Bahan ini dirangkum dari:

1. Judul buku : Mengajar untuk mengubah kehidupan

Penulis    : Lelia Lewis

Penerbit   : Yayasan Kalam Hidup

Halaman    : 14-17

2. Judul buku : Penuntun Sekolah Minggu (Sunday School Teaching)

Penulis    : J. Reginald Hill

Penerbit   : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF

Halaman    : 18-22


KESAKSIAN & PENGAKUAN

DOA SYUKUR

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan merasakan kekurangan, sebab itulah aku mengerti makna bersyukur dalam kecukupan

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan berkelebihan, sebab itulah aku mengerti bahwa tak berbagi dalam kelebihan adalah kesalahan

Ampuni aku Tuhan karena menjauh dari Engkau dan terimakasih karena cobaan yang Kau ijinkan kuterima menyadarkanku…

Kini kumengerti betapa berharganya penyadaran dan betapa tak ternilainya sebuah kesadaran akan ketuhananMU!

Meski penyadaran itu berawal pahit dan kesesatan itu berawal manis, dengan kesadaran; pahit atau manis seharusnya senantiasa membuatku sadar, dan sadar membuatku senantiasa bersyukur.

"Muda menutup mata, tua merana", Karya: Moses Foresto, 2010, Oil on Canvas, 110cmX140cm.

"Muda menutup mata, tua merana", Karya: Moses Foresto, 2010, Oil on Canvas, 110cmX140cm.

Teringat akan puisi tahun 2008, dalam bebal tak berbatas, kemunafikan merajalela… sang pendusta kembali terhilang…

DOA ANAK HILANG

Dengan cara yang lembut dan tepat, Tuhan bertindak keras kepadaku.

Ia tahu persis apa yang kuperlukan.

Seperti dinding yang kokoh pagarnya tegas pada saat aku lemah dan lelah, bukan untuk menghimpit namun menjadi penopang yang mengendalikan jalan hidupku agar tak roboh dan tersesat.

Tersesatlah aku karena tidak menghasilkan buah-buah Roh melainkan buah-buah kedagingan yang menjerat leher dan menyesatkan.

Telah kupilih sendiri,  hasilkan buah-buah dalam Roh dan kebenaran bukannya hasilkan buah-buah dosa namun tidakanku berlawanan dengan pilihanku, sebab aku lemah dan bodoh

Saat ini buah-buah dosa menjadi bebanku. Buah-buah itu mengejar dan tak rela melepaskanku.

Tamengku, Perisai yang baik telah kuretakkan dengan dosa-dosa tak terhingga, bahkan kubuang dan kutinggalkan

Sekarang saatnya aku menentukan tindakan

Menjadi seperti Kain yang mengobarkan amarah pada Tuhan dengan menyalahkan Habil serta orang benar lainnya

Menjadi seperti Saul yang mengandalkan kekuatan sendiri, mencari Tuhan dengan tidak layak dan tak berkenan

Menjadi seperti Simson yang menjadi tak taat setelah menerima berkat dan bertindak tanpa hikmat

Tidak Tuhan, jauhkan aku dari pilihan-pilihan itu, aku mau seperti Daniel yang menguduskan diri demi Allah yang hidup

Aku mau seperti Daud yang dengan hikmat menyesali perbuatannya, hidup benar, layak dan berkenan di hadapan Engkau Tuhan

Jika terlalu jauh dan berat untuk menjadi seperti Paulus, aku mau seperti Stefanus yang hidup dan mati dalam kebenaran

Tuhan, setiap kali berbuat dosa aku membukakan celah bisa dan racun mencelakakan jiwaku..

Tak terhitung kini dosa-dosaku

Tak terhitung pula racun di dalam jiwaku

Kini ya Bapaku, kuduskanlah kiranya aku dari segala macam racun itu

Dengan berperisaikan Engkau, hindarkanlah aku dari serangan Iblis.

Aku milikMu ya Tuhan

Engkau yang telah menebusku dari kesia-siaan dan membawaku kepada kemuliaan anak Raja, namun semua pernah kutinggalkan untuk hidup dalam penyiksaan dan mengarahkan hidupku pada api neraka dalam kekekalan

Ampuni aku… maafkan aku, Tuhan Yesus

Terimalah aku kembali, anak hilang yang tak tahu diri

Kini aku sadar dan mencari Engkau, ijinkan lagi aku menemukan Enkau dan menautkan diriku denganMu ya Allah.

Terimakasih Tuhan Yesus Kristus, Amin.

Ungaran, 7 Oktober 2008

IJINKAN AKU KEMBALI, BAPA…

BERI HAMBA KEKUATAN…

MESKI BERKALI-KALI TERHILANG,

TERIMALAH HAMBA KEMBALI…

Ungaran, 24 Januari 2011


BAHASA ISYARAT BAGIAN 3 (FOTO PERAGA ASL)

Mohon maaf karena penyajian tulisan tentang Bahasa Isyarat bagian 3 ini terlambat hingga 3 bulan! Saya harus mengedit sekitar 440 foto agar tersaji lebih mudah dan sistematis.

Berikut ini diperlihatkan rangkaian foto-foto yang memperagakan urutan dan langkah-langkah bahasa isyarat ASL. Untuk satu macam isyarat mungkin terdiri dari 4 atau lebih gambar, karena tiap isyarat bukanlah seperti suatu rangkaian abjad yang membentuk kata-kata, melainkan terdiri dari suatu rangkaian gerak isyarat, lengkap dengan mimik, gerak bibir, tangan, bahu, mata dan semua bagian tubuh.

Sebagai catatan, apa yang saya tampilkan ini bukanlah bahan kosakata bahasa isyarat yang baku di Indonesia. Mohon maklum dengan keawaman saya, ini hanya sekedar pelengkap.

Bahasa isyarat ASL memang saat ini paling luas digunakan di berbagai negara, termasuk di benua Asia, Eropa, Afrika dan Amerika. Tentu saja bahasa isyarat di masing-masing negara memiliki ciri khas dan perbedaan isyarat naturalnya. Tapi paling tidak, kita mempelajari salah satu isyarat internasional yang berlaku luas. Dengan bahasa isyarat SIBI pun bahasa isyarat ASL memiliki kemiripan, karena SIBI banyak mengadopsi dari ASL. Beberapa kata memiliki kesamaan, beberapa lainnya berbeda, untuk itu saya mohon masukan dari rekan-rekan. Terutama bahan BISINDO yang sulit saya peroleh.

Urutan gambar-gambar ini jika digerakkan dengan urutan gambar dalam satu frame akan terlihat seperti gambar bergerak, sebagaimana disajikan pada slide di bawah ini. Seluruhnya terdiri dari 440 foto. Bagi rekan-rekan yang minta dikirimi rangkaian foto peraga ini, boleh menghubungi saya.

Semoga bermanfaat.

This slideshow requires JavaScript.


Anak dengan Autisme

Rekan-rekan Guru Sekolah Minggu terkasih, bagaimana jika ada anak asuh kita adalah anak dengan autisme? Yang jelas, jangan ditolak atau membuat situasi yang membuat anak itu merasa tertolak. Kunci terpenting sekolah minggu yang baik, seperti juga halnya orang tua yang baik adalah membuat anak-anak kita yakin bahwa mereka yakin diterima dengan kasih sayang dan sama sekali tidak ditolak.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami untuk mengasuh anak-anak sekolah minggu dengan autisme. saya bukan ahlinya, tapi ada artikel yang baik di http://www.autis.info, dan saya kutip agar kita sama-sama belajar mengenai autisme.

Selama beberapa minggu ke depan, posting mengenai autisme akan saya angkat berselang-seling dengan bahan sekolah minggu lainnya. Selamat melayani dengan kasih!

MITOS TENTANG AUTISME

Mitos: Semua anak dengan autisme memiliki kesulitan belajar.

Fakta: Autisme memiliki manifestasi yang berbeda pada setiap orang. Simtom gangguan ini dapat bervariasi secara signifikan dan meski beberapa anak memiliki kesulitan belajar yang berat, beberapa anak lain dapat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran yang sulit, seperti persoalan matematika. Contohnya, anak dengan sindrom Asperger biasanya berhasil di sekolah dan dapat menjadi mandiri ketika ia dewasa.


Mitos: Anak dengan autisme tidak pernah melakukan kontak mata.

Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu melakukan kontak mata. Kontak mata yang dilakukan mungkin lebih singkat durasinya atau berbeda dari anak normal, tetapi mereka mampu melihat orang lain, tersenyum dan mengekspresikan banyak komunikasi nonverbal lainnya.


Mitos: Anak dengan autisme sulit melakukan komunikasi secara verbal.

Fakta: Banyak anak dengan autisme mampu mengembangkan kemampuan berbahasa yang fungsional. Mereka mengembangkan beberapa keterampilan berkomunikasi, seperti dengan menggunakan bahasa isyarat, gambar, komputer, atau peralatan elektronik lainnya.


Mitos: Anak dengan autisme tidak dapat menunjukkan afeksi.

Fakta: Salah satu mitos tentang autisme yang paling menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara berbeda oleh beberapa anak dengan autisme, menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional. Memberi dan menerima kasih sayang dari seorang anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai dengan konsep dan cara anak.

Orang tua terkadang merasa sulit untuk berkomunikasi hingga anak mau mulai membangun hubungan yang lebih dalam. Keluarga dan teman mungkin tidak memahami kecenderungan anak untuk sendiri, tetapi dapat belajar untuk menghargai dan menghormati kapasitas anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain.


Mitos: Anak dan orang dewasa dengan autisme lebih senang sendirian dan menutup diri serta tidak peduli dengan orang lain.

Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme pada dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang mampu mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif. Mereka sering kali sangat peduli tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah laku sosial dan berempati secara spontan.


Mitos: Anak dan orang dewasa dengan autisme tidak dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi.

Fakta: Anak dan orang dewasa dengan autisme dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi jika mereka menerima pelatihan yang dikhususkan untuk mereka. Keterampilan bersosialisasi pada anak dan orang dewasa dengan autisme tidak berkembang dengan sendirinya karena pengalaman hidup sehari-hari.


Mitos: Autisme hanya sebuah fase kehidupan, anak-anak akan melaluinya.

Fakta: Anak dengan autisme tidak dapat sembuh. Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat. Anak-anak lain dengan simtom yang lebih berat akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya.

Hal itu menyebabkan kekhawatiran bagi sebagian orang tua, terutama ketika mereka menyadari bahwa mereka mungkin tidak dapat mendampingi anak memasuki masa dewasanya. Oleh karena itu, anak dengan autisme membutuhkan bantuan.

Untuk itu, diperlukan suatu diagnosis yang tepat dan benar untuk seorang anak dikatakan sebagai autisme. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak tersebut dapat melakukan suatu terapi. Anak dengan autisme dapat dibantu dengan memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah dengan terapi okupasi. (Dedy Suhaeri/”PR”/Winny Soenaryo, M.A., O.T.R./L. Pediatric Occupational Therapist)***


BUKU MEWARNA: KISAH SNOW WHITE

Snow White adalah salah satu kisah klasik yang paling digemari di segala masa dan di berbagai bangsa.

Pesan moral dalam kisah ini pun layak disampaikan bagi anak-anak kita. Mari mewarnai sambil belajar. Jadikan kelas lebih ceria & bervarisai dengan gambar-gambar kartun dari kisah putri Snow White.


PERMAINAN UNTUK ANAK ANAK: SCHOOLROOM GAMES

Sebuah kategori bahan ajar sekolah minggu saya tambahkan, yaitu “Permainan Anak”. Kategori ini berisi ratusan pola permainan, lengkap dengan petunjuk memainkannya. Sajiannya diberikan dalam beberapa jenis permainan seperti permainan di dalam ruangan, permainan di luar ruangan, permainan untuk anak yang lebih besar, dan sebagainya.

Jika rekan-rekan pecinta anak-anak, orang tua, guru sekolah minggu, atau pelayan dan pembina anak menemukan bahwa tulisannya dalam bahasa Inggris dan kesulitan memahaminya, jangan buru-buru putus asa; ada cara mudah mengatasinya.

Begini cara menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia:

  1. Arahkan kursor Anda ke menu “TRANSLATE TO YOUR LANGUAGE” di bagian kanan atas halaman ini. Silakan pilih bendera SELAIN bahasa Inggris dengan mengklik benderanya. Ingat, jangan pilih bendera untuk bahasa Inggris, pilih saja bahasa China, Jepang, Jerman atau apa saja asal bukan bahasa Inggris.
  2. Kemudian semua tulisan akan diterjemahkan ke bahasa yang Anda pilih. Perhatikan, di bagian teratas halaman akan muncul “Google Terjemahan”. Perhatikan bagian tengah kolom pilihan yang tersedia di baris kedua. Pada bagian itu terdapat kotak untuk menentukan pilihan “Terjemahan dari: …… ” dan “Terjemahan ke: …… “
  3. Pilih menu di kotak “Terjemahan dari: …… ” dan pilih menu bahasa yang tadinya Anda pilih, untuk diterjemahkan kembali ke Bahasa Indonesia dengan menentukan pilihan “Bahasa Indonesia” di kotak “Terjemahan ke: …… “, lalu klik kotak bertulisan “Terjemahkan”.
  4. Memang terjemahannya tidak sempurna, tapi biasanya sudah bisa dipahami. OK, sekarang mari kita lihat & nikmati saja sajian aneka permainan di bawah ini.

Pada bagian pertama, saya tampilkan aneka permainan yang dikumpulkan oleh:

GEORGE O. DRAPER

Secretary for Health and Recreation, County Work Department of the International Committee of Young Men’s Christian Associations.

SCHOOLROOM GAMES

For Primary Pupils

Cat and Mouse

One pupil is designated to play the role of cat, another that of mouse. The mouse can escape the cat by sitting in the seat with some other pupil. Thereupon that pupil becomes mouse. Should the cat tag a mouse before it sits in a seat, the mouse becomes cat and the cat becomes mouse, and the latter must get into a seat to avoid being tagged.

Aviation Meet

Three pupils constitute a team. Two are mechanicians, one the aviator. Each team is to have a piece of string about 25 feet long, free from knots. A small cornucopia of paper is placed upon each string. The mechanicians hold the ends of the string while the aviator, at the signal to go, blows the cornucopia along the string. The string must be held level by the mechanicians. The aviator first succeeding in doing this, wins for his team.

Button, Button

The pupils sit or stand in a circle with their hands in front of them, palms together. The one who has been selected to be “It” takes a position in the center of the circle, with his hands in a similar position. A button is held between his hands. He goes around the circle and places his hand over those of various individuals, dropping the button into the hands of one. He continues about the circle, still making the motions of dropping the button in the hands of others, so as to deceive those making up the ring. After he has taken his place in the center of the circle, those in the ring endeavor to guess into whose hands he has dropped the button, the one succeeding in doing this takes the button and continues the game.

Bee

Some object is determined upon for hiding, such as a coin, a button, a thimble, etc. A pupil is sent from the room. During his absence the object is hidden. Upon his return the children buzz vigorously when he is near to the object sought and very faintly when he is some distance away. The object is located by the intensity of the buzzing.

Hide in Sight

In this game all of the pupils except one are sent from the room. The one left in the room hides a coin, or some similar object, somewhere in plain sight. It must be visible without having to move any object. When hidden, the rest of the pupils are called back and start the search. When a pupil finds the coin, after attempting to mislead the others by continuing his search in different quarters, he returns to his seat without disclosing its whereabouts. As it is found by others, the group of seekers will gradually diminish until there is but one left. When he finds it, the coin is again hidden by the one first finding it.

Colors

A certain color is determined upon. Each pupil in turn must name some object which is of that color. Failing to do this he goes to the foot of the line, provided some one beyond him can think of any object of that color. If no more objects can be thought of, a new color is selected.

I See Red

One pupil is given the privilege of thinking of some object in the room, of which he discloses the color to the rest of the pupils. For example, if he sees a red apple he says, “I see red.” Thereupon the other pupils endeaver to guess what red object in the room is thought of. The one succeeding, next selects the object to be guessed.

Hide the Clock

This is a good quiet game for the schoolroom. A loud ticking clock is necessary for the game. All of the pupils are sent from the room. One of their number is selected to hide the clock. The others, upon coming back, try to locate it by its ticking. The one succeeding has the privilege of next hiding the clock.

Poison Seat

The children all endeavor to shift seats at the clapping of the hands of the teacher. Have one less seat than pupils, so that one may be left without a seat. This can be arranged by placing a book on one seat and calling this “Poison Seat.” The child sitting on this seat is “poisoned” and out of the game. Add a book to a seat after each change, so as to eliminate one player each time. The one left after all have been eliminated, wins the game. Should the teacher clap her hands twice in succession, that is the signal for all of the pupils to return to their own seats.

Aisle Hunt

Some object—a coin will do—is selected to be hidden. The children of one of the aisles leave the room, the others determine upon a hiding place and hide the coin in plain sight. Those out of the room are called back and look for the hidden object. As soon as it is found, the first one finding it goes to his seat and calls, “First.” He is not to call until he is actually in his seat. The second one to find it returns to his seat and calls, “Second,” and so on until it has been found by all in the aisle. If there are six aisles in the room, the occupants of the first six seats in the aisle seeking the hidden object determine which aisle leaves the room next. For illustration,—if the pupil in the second seat is the first one to find the object, then the second aisle of the room will be the one to leave the room for the next hunt. Likewise if the pupil of the third seat is the first to find the object, the third aisle will be the one which next has the privilege of enjoying the hunt. If there are more pupils in the aisle than there are aisles in the room, the pupils in the last seats do not count.

New Orleans

The pupils of the room are divided into two groups. One side decides upon some action it will represent, such as sawing wood, washing clothes, etc., and thereupon represents the action. The other group has five chances to guess what the first group is trying to represent. Failing to do this, they must forfeit one of their players to the second group and the same side again represents an action.

When a group presents an action to the others, the following dialogue takes place:

First Group: Here we come.
Second Group: Where from?
First Group: New Orleans.
Second Group: What’s your trade?
First Group: Lemonade.
Second Group: How is it made?

The first group then represents the action.

Birds Fly

This is an attention game. The teacher stands before the class and instructs them that if she mentions some bird or object which flies and raises her arms sideward, imitating the flapping of the wings of a bird, the pupils are to follow her example. But if she mentions some animal or some object which does not fly, she may raise her arms sideward and upward, imitating the flying position, but the pupils are not to follow her example. If they are caught doing so, they must take their seats. For example,—the teacher says, “Owls fly”. Thereupon she and all the children raise their arms sideward and upward. She says, “Bats fly” and raises her arms. She next says, “Lions fly” and raises her arms, thereupon the pupils are supposed to keep their arms at their sides.

Music Rush

A march is played on the piano and the children march from their seats in single file around the room. As soon as the music stops, all rush to get into their seats. The last one in, must remain in his seat during the second trial. If there is no piano in the room, drumming on the top of a desk will do as well.

Change Seat Relay

The teacher claps her hands. This is the signal for all to shift one seat back. The one in the rear seat runs forward and sits in the front seat. The first aisle to become properly seated wins one point. Again the hands are clapped and the pupils shift one seat back, and the one then at the rear runs forward and takes the front seat and so the game continues until all have run forward from the back seat to the front. The aisle scoring the largest number of points wins.

Charlie over the Water

This is an old game and is always popular. The children form a ring, joining hands. One is selected to be “It” and takes his place in the center. Those in the ring then dance around, singing,

“Charlie, over the water,
Charlie, over the sea,
Charlie, catch a blackbird,
But can’t catch me.”

Having completed these lines, they all assume a stooping position before “Charlie,” who is “It,” can tag them. If he succeeds in tagging one, that one takes his place in the circle and the game continues.

Tap Relay

The pupils of each aisle constitute a team. All bend their heads forward, placing their faces in the palms of their hands on the top of the desk. At the signal to go, given by the teacher, the one in the last seat in each aisle sits up, claps his hands and taps the back of the one in front of him, which is the signal for the one in front to sit up, clap, and tap the one next in front of him, and so the tap is passed until it reaches the one in the front seat of the aisle, who, upon being tapped, stands up, clapping his hands above his head. The first to stand and clap hands above head wins the race.

Rat-a-tat Race

Similar to the preceding race with the exception that upon the signal to go the one in the back seat knocks with the knuckles of his right hand on the top of the desk a “rat-tat, rat-tat-tat,” as in a drum beat, and then taps with the knuckles the back of the one next in front of him, who repeats the performance, tapping off the one in front, and so on. The race ends when the individual in the front seat of an aisle taps the “rat-tat, rat-tat-tat” and stands up.

Bowing Race

A book is handed to the pupil in the last seat of each aisle. At the signal to go the pupils holding the book step into the aisle at the right hand side of their desks, holding the books on the tops of their heads with both hands, and make a bow. Then returning to their seats, hit the book on the top of the desk and pass it on to the next one in front, who repeats the performance, as does every one else in the aisle. The one in the front seat of the aisle finishes the race by bowing with the book upon his head, then running forward, and placing the book upon the teacher’s desk.

Spin Around Race

A boy is selected from each aisle to take his place at least six feet in front of the aisle. Upon the signal to go, the last boy in each aisle runs forward to the right of his desk and links his left arm in the right arm of the boy standing in front of his aisle, and in this position spins around twice, returning to his seat, and tagging off the boy next in front of him, who repeats the performance. The last boy in the aisle to spin around ends the race when he has returned to a sitting position in his seat.

SCHOOLROOM GAMES

For Intermediate Pupils

Initial Tag

A pupil who is “It” is sent to the board. He writes thereupon the initial of some other pupil in the room. That pupil is to try to tag “It” before he can return to his seat. If successful, he becomes “It” and continues the game by writing some one else’s initial on the board.

Magic Music

One pupil is sent from the room. Thereupon the remaining pupils hide some object agreed upon. The pupil sent from the room is recalled. The teacher or one of the pupils plays the piano loudly when the seeker approaches the hidden article and softly when some distance from it. The seeker determines the location by the volume of the music.

Hunt the Rattler

All of the players in the room are blindfolded, except one, who is given a tin can in which is placed a loose pebble. He is known as the “rattler.” The blindfolded players attempt to locate and tag the rattler by the rattle. The one successful takes the place of the rattler.

Sticker

The pupils stand in a circle in the center of which is “It” blindfolded, holding in his hand a blunt stick about 12 or 15 inches long. Those in the circle dance around two or three times, so that the blindfolded player may not know their position. At the command “Stand,” given by the one blindfolded, all must stand still. Thereupon, by feeling with his stick, “It” tries to discern an individual in the ring. “It” is forbidden to use his hands, in trying to discover who the individual is. If he succeeds in guessing, the individual guessed must take his place. Otherwise he proceeds to some other individual in the circle whom he tries to identify.

Name Race

The pupils of each aisle constitute a team. A slip is handed to the one in the first seat in each row. At the signal to go, he writes his full name thereupon and passes it immediately to the one next behind him, who writes his name and passes it on. When the one in the last seat in the row has added his name to the slip, he rushes forward and places the slip upon the teacher’s desk. The aisle first succeeding in accomplishing this task, wins.

Frogs in Sea

One pupil sits in tailor fashion in the center of the playing space. The others try to tease him by approaching as closely as they dare, calling him “Frog in the sea, Can’t catch me.” If the frog succeeds in tagging any of the other players, that player must take his place. The frog is not allowed to change from his sitting position in his effort to tag the other players.

Corner Spry

The pupils in the room are divided into four equal teams. Each team is assigned to a different corner. A leader stands in front of each team with a bean bag, cap, or ball. At the signal to start the leader tosses to and receives from each member of his team in turn the bean bag. Having received the bag from the last one in his line, he takes his place at the foot of the line, and the one at the head of the line becomes leader and proceeds to toss the ball to each member as did the preceding leader. The group, in which all have served as leaders and which successfully completes the game first, wins.

Flag Race

The pupils of each aisle constitute a team. Flags are given to the pupils in each front seat. On the signal to go, each pupil holding a flag steps out on the right hand side of the seat, runs around the front of his own aisle, back on the left hand side, around the rear seat, returning to his own seat up the right hand aisle, and hands the flag on to the one next behind him, who continues the race. When all the pupils in the aisle have circled their row of seats with the flag, the last one, instead of returning to his seat, runs forward and holds the flag above his head in front of his aisle. The one first succeeding in reaching the front, wins the race.

In this race it is often better to run two aisles at a time and thus avoid the possibility of pupils bumping into each other in their attempt to race through the aisles. In this way the various winners can race against each other, making an interesting contest.

Seat Vaulting Tag

A pupil is selected to be “It.” He attempts to tag any other pupil in the same aisle in which he stands. The pupils avoid being tagged by vaulting over the seats. No one is allowed to run around either end. “It” cannot reach across the desk in his effort to tag another. He must be in the same aisle or tag as one is vaulting a seat. A pupil becomes “It” as soon as tagged.

Jerusalem, Jericho, Jemima

This is a simple game of attention. The three words in the title are near enough alike to require close attention on the part of the pupil to distinguish between them and to act accordingly. Have the pupils turn in their seats facing the aisle. If the teacher says “Jerusalem”, the pupils stand. If she says, “Jericho”, they raise their arms momentarily forward and upward. If she says, “Jemima”, they sit down. Any child making a mistake sits in her seat and faces to the front.

Compass

An attention game. The pupils stand in the aisle beside their seats. In starting the game, the teacher asks them to face to the north, then to the south, then to the east, and to the west, so that they have the directions fixed in their minds. She then proceeds to tell a story or to make statements such as the following, “I came from the north.” At the mention of the word “north” all the pupils must turn and face towards the north. “But since I have arrived in the south,”—at the mention of the word “south” they all turn and face the south, etc. If the teacher should say “wind,” the pupils imitate the whistling of the wind; if “whirlwind” is mentioned, all must spin about on their heels a complete turn. Failing to do any of the required turns, the pupil takes his seat.

Geography

The pupils of each aisle constitute a team. Those in the front seats are Number 1, those next behind them, Number 2, and so on back. The teacher calls some number. The pupils having that number race to the board and write thereupon the name of some river, returning to their seats. The first one back wins one point for his team. The game continues until all the numbers have been called, the team having the most points wins.

Spelling Words

Have the pupils in aisle 1 face those in aisle 2, those in aisle 3 face 4, those in aisle 5 face 6. Appoint a captain for each aisle. The captain of one team starts spelling a word containing more than three letters. The captain of the team facing his, adds the second letter, not knowing what word the captain of the other team had in mind. The second man of the first team adds a third letter; the second man of the second team adds a fourth, each team trying to avoid completing the word. The team completing the word loses one point to the other team. For example, the first man of team A says “g,” the first man of team B says “o,” thinking of “gold.” The second man on team A says “o,” thinking of “goose.” The second man on team B can only think of “good” and contributes “d,” ending the word. Team A thereupon scores a point. The third man of team A continues the game by starting another word. When the ends of the aisles are reached the word, if uncompleted, is passed to the head of the line and continued.

If there are four aisles in the room, there will be two groups playing at the same time; six aisles, three groups; eight aisles, four groups. The captains of opposing teams keep a record of the score.

Rhymes

This game stimulates quick thinking. Some one is selected by the teacher to start the game, and thereupon gives some word to which the first pupil in the aisle must give a rhyming word before the former can count ten. Failing to do this, the leader continues and gives a word to the second one in the aisle. The rhyming words are to be given before the leader has completed his count of ten. Then the one succeeding in giving the word replaces the leader.

Clapping Song

A pupil is selected by the teacher to clap the rhythm of some familiar air. The rest of the children in the room endeavor to guess the song clapped. The pupil succeeding in doing this is given an opportunity to clap another song.

Indian Trail

A pupil is blindfolded and placed in the front of the room. Other pupils, one or two at a time, are given the opportunity to stealthily approach the one blindfolded, in an endeavor to take some object, from before his feet, such as a flower pot and saucer, or a tin can with a loose pebble in it, without being detected by the one blindfolded. If a pupil succeeds in taking back the object to his seat without having been heard, he wins a point for his aisle. Where two pupils are sent forward at the same time, two similar objects must be placed at the foot of the one blindfolded. The aisle scoring the largest number of points in this way wins the game.

Number Relay

The pupils of each aisle constitute a team. They are numbered, beginning with the one in the first seat. The teacher describes some mathematical problem she desires done and calls certain numbers. All the pupils having those numbers rush to the board and compute the problem. The first back to his seat wins a point for his team, the aisle gaining the largest number of points wins the game.

Multiplication Race

The pupils of each aisle constitute a team. The teacher decides on a multiplication table which is to be placed upon the board. A piece of chalk is handed to the first pupil in each aisle. At the signal to go Number 1 goes to the board and writes the first example in the multiplication table thereupon. Returning to his seat, he hands the chalk to the one next behind him, who puts the next step in the multiplication table on the board, and so the race continues until the one in the last seat has returned to his seat, after adding his part to the table. The one first back to his seat wins for his aisle.

History Race

Similar to the preceding, with the exception that the pupils are requested to write upon the board the name of some historical personage or some historical event, date, etc.

Poem Race

The pupils having learned some poem may use it in a game in the following way:

The pupils of each aisle constitute a team. At the signal to go the last pupil in each aisle stands up and recites the first line of the poem, returns to his seat and taps the one next in front of him, who stands up and repeats the second line of the poem, sits down and taps off the third pupil, who repeats the third line, and so the game continues. If the poem has not been completed after the one in the front seat has said his line, he taps the one next behind him, and that one is supposed to give the next line and so on back. The aisle first completing a poem wins the race.

If the poem be a very small one, words of the poem instead of lines may be used. If it be a long one, verses instead of lines may be used.

Last Man

This is a good active game thoroughly enjoyed by the children. The teacher selects one pupil to be “It,” and another to be chased. The one chased can stand at the rear of any aisle and say, “Last man.” Thereupon the front pupil in that aisle is subject to being tagged by “It” and leaves his seat. All the other pupils in that aisle advance one seat and the first man chased sits down in the last seat in the aisle. “It” tries to tag the man who left the front seat before he can go to the rear of any of the aisles. Should he succeed in doing so, he can immediately be tagged back if he does not hurry to the rear of some aisle and say “Last man.”

(Caution: Should any child appear fatigued when “It,” substitute another child in his place).

Change Seats

This is a good relaxation game. The teacher says, “Change seats left.” Thereupon all the pupils shift to the seats to their left. The children who are in the last aisle on the left must run around the room and occupy the vacant seats on the right hand side. Should the teacher say, “Change seats right,” the reverse of the proceeding is necessary. The teacher can also say, “Change seats front,” or “Change seats rear,” and the pupils are expected to obey the commands. Those left without seats must run to the other end of the room and take any seat found vacant there.

Relay Run Around

The pupils of each aisle constitute a team. The pupil in the last seat in each row, upon the signal to go, steps out in the right hand aisle, runs forward around the front of his row of seats, back on the left hand side, circling the rear seat, and sits down, touching off the next pupil in front of him, who repeats the performance. The aisle first accomplishing the run, wins.

SCHOOLROOM GAMES

For Advanced and High School Pupils

Geography

The group is divided into two equal teams. A leader is chosen for each. The leader of Team A begins the game by giving the name of a country beginning with the letter “A” (Austria). The leader of Team B gives another country beginning with “A”. The second member of Team A, another; the second member of Team B, another; until one of the teams cannot think of any more countries beginning with “A”. That team last thinking of a country wins one point. The other members of the team can help their team mate, whose turn it is, by suggesting other countries. The member of the team failing to name a country beginning with “A”, starts with the letter “B” and the game continues, until one team has won ten points. The names of rivers, mountains, states, cities, etc., can be substituted for the names of countries.

Seeing and Remembering

Fifteen or twenty articles are placed upon a table under a sheet, in front of the pupils. The sheet is removed for a space of 10 seconds and the pupils are given a good chance to study the articles on the table. After the sheet has again covered the articles, each pupil is requested to write as many of the articles as can be remembered, on a sheet of paper. The one remembering the largest number wins.

Definitions

The teacher selects some word from the dictionary, which is written upon the blackboard. Each pupil then writes the definition of that word on a slip of paper. After this is done, the teacher compares the definition with that in the dictionary. The one giving the definition nearest like that in the dictionary wins, and gives the next word to be defined.

Jumbled Words

The pupils of each aisle constitute a team. Each pupil in the aisle is given a number. The one in each front seat is Number 1, the one behind him Number 2, and so on back. The teacher has prepared a different sentence for each aisle with just as many words in it as there are pupils in the aisle. One of these slips is handed to Number 1 of each team. Number 1 takes the first word of the sentence as his word, Number 2 the second, Number 3 the third, and so on. When the last one in the aisle has learned the last word in the sentence, the slips are returned to the teacher. Competition can be added to this phase of the game by seeing which aisle can return the slip to the teacher first.

When the slips have all been turned in, the teacher calls any number. Thereupon the pupils in each aisle having that number, go to the blackboard and write distinctly their word from the sentence. For example, the teacher calls Number 3. Number 3 of aisle 1 had the word “money”; Number 3 of aisle 2 “can,” etc.

Next the teacher calls Number 5. All the Number 5′s go to the blackboard and write their words directly after those written by their previous team mate. When all the numbers have been called there is a jumbled sentence on the board for each aisle. The pupils of the various aisles then try to guess what the sentences of the other aisles are. Each one guessed, counts 5 points.

Descriptive Adjectives

An historical personage is selected, such as Columbus, George Washington, etc. The first pupil called upon must describe the subject with a descriptive adjective beginning with “A”. The second, third, and fourth, etc., adding to this description by using adjectives beginning with the letter “A”. This continues until the adjectives beginning with the letter “A” have been exhausted. Then the letter “B” is used and the game continues. It is well to change the subject after every fourth or fifth letter. This is a good game for adding to the vocabulary of the pupil. A little fun can be had by using, instead of an historical subject, one of the pupils of the room for description.

Store

The pupils of each aisle constitute a team. The one in the front seat in each aisle is Number 1, the one behind him, Number 2, etc.

The teacher has a number of cards upon each of which appears a letter of the alphabet. The teacher holds up one of these letters so that it can be distinctly seen by the pupils. Number 1 of each aisle must name some article sold in a grocery store, beginning with the letter held up by the teacher. (For example,—the teacher holds up the letter “F”; Number 1 of the second aisle calls, “Flour”). The pupil first naming an article of that letter is given the card containing the letter. The next card held up, the number 2′s of each team are to name the article, and likewise the winner to be awarded the card. The aisle having the most cards at the end of the game wins.

The letters can be written on the blackboard if the cards are not available for the game and points awarded to each winner. The game can also be used with birds, animals, and other subjects in place of articles sold in a store. This is a good game to stimulate quick thinking.

Distinguishing Sounds

This game is good training for the ear. Various noises, such as the shaking of a pebble in a tin can, in a wooden box, in a pasteboard box, in a large envelope; knocking on wood, on tin, on coin (as silver dollar), on stone, on brass, on lead,—are made. The pupils are allowed to guess just what the noise is caused by.

Laugh

This is a good relaxing game and one in which the practice of self control is a factor. An open handkerchief is tossed into the air. While it is in the air the pupils are to laugh as heartily as they can, but the instant the handkerchief touches the floor, all laughing is to stop.

Guessing Dimensions

The ability to measure with the eye is well worth cultivating. Each pupil is to guess the distance between various points indicated on the blackboard, the height of a door, the width and the height of a school desk, the height of the schoolroom, the thickness of a book, etc. Each of the guesses is written on a slip of paper. The pupil with the best guesses wins.

Mysterious Articles

An article is concealed under a cloth on the table. Each pupil is given an opportunity to feel the article through the cloth and guess what it is, educating the sense of touch.

Distinguishing by Smell

Various articles invisible to the eye, with distinctive odors, such as vinegar, rose, mustard, vanilla, ginger, clove, tea, coffee, chocolate, soap, etc., are placed before the pupil. The one able to distinguish the largest number of articles by the smell, wins the game.

Art Gallery

Pictures of a number of famous paintings by the masters are placed on exhibition. The pupil guessing the largest number of masters and titles, of the various pictures, wins.

Drawing Animals

The teacher whispers in the ear of each pupil the name of some animal, whereupon the pupil proceeds to draw that animal, each pupil being given the name of a different animal. Drawings are made and put on exhibition. All try to guess as many as possible of the animals represented in the drawings. The drawing securing the largest number of correct guesses wins for the artist.

Historical Pictures

A long sheet of paper is given to each pupil, with instructions to draw thereupon a picture representing some historical event. After completing the drawing, each paper is passed about the room. Each pupil writes underneath the picture what he thinks the picture represents. His subject is folded under, so that the next pupil to receive the picture cannot see what his guess has been. At the end of the game, the picture having the largest number of correct guesses wins.

Train of Thoughts

A word is suggested by the teacher. This is written at the top of a sheet of paper by each pupil. The pupil then writes beneath that word various thoughts that are suggested to him by the word. For instance, the word suggested by the teacher is “aeroplane”. Pupil A has suggested to him by the word “aeroplane”, humming. He writes that on his list. Humming suggests bees. Bees suggest honey; honey, clover, clover summer, summer swimming hole, etc. When all of the pupils have written fifteen or twenty thoughts which have suggested themselves to them, each is called upon to read his train of thoughts to the rest of the class.

Bowknot Relay

The pupils of each aisle constitute a team. A piece of string is given to each pupil in the front seat. At a signal to start each pupil with the string runs forward and ties it in a bowknot on some article placed in front of each aisle. After tying the bow, he returns to his seat and touches the one in the seat next behind him. Thereupon the second member of the team runs, unties the bowknot, returns with the string; and hands it to the third, who runs forward, and ties it in a bowknot, as did the first, and returning touches off the fourth, etc. The aisle in which each pupil has accomplished the required task first, wins the race.

Cooking Race

This is a good game for the class in domestic science. The pupils of each aisle constitute a team. A piece of chalk is handed to the one in each front seat. At the signal to go, the chalk is passed back until it reaches the one in the last seat in the row. Every one in the aisle must have handled the chalk in passing it back. Upon receiving it, the last one in the row runs forward to the board and writes thereupon an ingredient necessary in the making of cake. Returning, the chalk is handed to the one in the front seat and again passed back until it gets to the one in the next to the last seat, who rushes to the board and writes another ingredient necessary in cake making. And so the race continues. When the last pupil at the board, namely the one from the front seat, has written upon the board and returned to her seat, the race is ended. The race is won by the aisle first completing this task.

Spelling Game

The group, if numbering 40 or more pupils, is divided into two teams. The contestants of each team are given a different letter of the alphabet. The teacher gives a word. Thereupon the pupils in both teams whose letter occurs in the word named, run one to the front and one to the rear of the room, as assigned by the teacher, and take their places in the order in which their letter occurs in the word. When the pupils have taken their proper position, they call out the letters they represent, spelling the word. The group first accomplishing this, wins one point for their team. If the letter occurs twice in the same word, that pupil representing that letter takes his place where the letter first occurs in the word and shifts to the second position, so as to help complete the word.

If the group be too small for two alphabets the game can be played by having but one and seeing which of the various words given is formed in the quickest time by the single group.

Grammar Race

The pupils of each aisle constitute a team. A piece of chalk is given to the one in each front seat. At the signal to go, the one with the chalk rushes to the board and writes the first word of a sentence on the board and returns to his seat, passing the chalk on to the second one, who writes the second word for a sentence. The third writes the third, and so on until a complete sentence has been written upon the board. The one in the last seat must complete the sentence and return to his seat, ending the race.

Twenty-five points is awarded the team finishing first; twenty-five points to each team with correct spelling; twenty-five points for the team with the best writing; twenty-five points for the best composition of the sentence.

Schoolroom Tag

A three foot circle is made with a piece of chalk in the front of the room. Each pupil in the room is given a different number. The teacher selects one to be “It,” who must stand at least ten feet from the circle and be touching a side wall. “It” calls a number. The pupil whose number is called tries to run through the circle in the front of the room and get back to his seat without being tagged by “It”. The one who is “It” must run through the circle before he can tag the one whose number he called. If the pupil is tagged he becomes “It”.

Directions

An attention game. Taking for granted that the pupils have a general knowledge of the directions of various towns or cities in their state or the surrounding states, the following game can be played.

All are requested to stand in the aisle beside their seats. The teacher then proceeds to make statements or tell some story, mentioning the names of various cities and towns. At the mention of these the pupils face in the direction in which said cities or towns are located. Failing to turn correctly when a city is mentioned the pupil is required to take his seat.


BUKU MEWARNA SERI BINATANG 3: DINOSAURUS

Dinosaurus merupakan salah satu jenis gambar yang disenangi anak-anak. Setelah sebelumnya, pada Buku Mewarna Seri Binatang 2 kita mewarnai gambar-gambar anjing, berikut ini disajikan puluhan gambar aneka jenis Dinosaurus dalam Buku Mewarna Seri Binatang 3.

Rekan-rekan guru sekolah minggu sebaiknya juga mempelajari sedikit-sedikit nama jenis-jenis Dinosaurus agar jangan ketinggalan. Namun jika ternyata anak-anak kita lebih banyak tahu, jangan kaget! Sebab dengan minat tinggi serta fokus lebih baik, lazim saja jika anak-anak lebih banyak tahu tentang Dinosaurus. Saya pun pernah mengalaminya dan terheran-heran pada pengetahuan keponakan saya yang penggila Dinosaurus. Tak mengapa, sekali-sekali baik juga kita belajar dari mereka dan berbagi mengenai apa-apa yang mereka tahu.

Semoga kelas Anda semakin menyenangkan!


BUKU MEWARNA SERI BINATANG 2: ANJING

Anjing adalah binatang peliharaan yang dikenal setia dan cerdas. Teman bermain, sahabat dan bahkan penjaga yang baik.

Buku Mewarnai Seri Binatang yang kedua berisi aneka gambar anjing. Mari sama-sama belajar Firman Tuhan dalam sukacita!


BUKU MEWARNA: “BATMAN”

Tokoh superhero selalu menarik minat anak laki-laki. Selain gambar-gambar dari kisah alkitab, tak ada salahnya jika sesekali kita sajikan gambar dari kisah superhero, pahlawan pembela kebenaran. Kita tuntun anak-anak dengan bimbingan cerita kepahlawanan sang tokoh dan jangan tonjolkan unsur kekerasan meski sang tokoh, dalam hal ini Batman, adalah tokoh yang kuat dan perkasa. Gagah, pemberani juga jujur dan tidak sombong.

Ayo, rekan-rekan Guru Sekolah Minggu, mari jadikan sekolah minggu ajang belajar dan bermain yang menyenangkan. Namun jangan lupa, yang terpenting adalah, menyelamatkan!

Selamat mengajar dan bergembira!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 108 pengikut lainnya.