BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 2): FOTO KARYA KEVIN CARTER, dll.

Sudan Famine, Kevin Carter
Sudan Famine, Kevin Carter

Beberapa malam ini perasaan saya sungguh terguncang ketika melihat sebuah foto karya Kevin Carter, pemenang Pulitzer tahun 1994.  Di foto itu terlihat seorang anak yang kurus kering dan kelaparan, diincar oleh seekor burung bangkai di belakangnya. Pada keterangan foto itu, tertulis bahwa tidak ada yang tahu nasib anak perempuan itu karena si fotografer segera pergi setelah memotretnya, kemudian si fotografer akhirnya meninggal bunuh diri karena depresi 3 bulan kemudian (ternyata keterangan itu tidak benar). Kevin Carter meninggal 3 bulan setelah foto masterpiece-nya itu menerima penghargaan Pulitzer tahun 1994. Apa yang sebenarnya terjadi pada foto dan fotografernya? Ada dorongan kuat untuk mencari tahu kisah di balik foto tersebut. Setelah googling kesana-kemari, akhirnya saya temukan beberapa keterangan.

Kevin Carter
Kevin Carter

Sang fotografer, Kevin Carter lahir 13 September 1960 di Johannesburg dan meninggal 27 Juli 1994, adalah seorang jurnalis foto asal Afrika Selatan. Sebelum memenangkan hadiah Pulitzer untuk Feature Photography tahun 1994, pada tahun 1983 ia memulai karir sebagai fotografer olahraga dan tahun 1984 pindah kerja ke Johannesburg Star, bertekat akan mengekspose kebrutalan apartheid.

necklacing
necklacing

Carterlah yang pertama membuat foto eksekusi di hadapan umum dengan “necklacing” yaitu hukuman sadis untuk seorang terhukum dengan cara mengalungkan ban karet yang diisi bensin, lalu dibakar. Dengan cara seperti itu, si terhukum biasanya mati dalam waktu 20 menit dan sangat tersiksa.

kevin_carter_image015
kevin_carter_image015

Bulan Maret 1993, Carter berangkat ke Sudan. Dalam suatu perjalanan ke suatu di desa bernama Ayod, ia melihat seorang anak kecil kurus kering sedang berjuang keras menuju dapur umum. Di tengah jalan si gadis kecil itu beristirahat dan tak lama kemudian seekor burung bangkai mendarat di belakangnya dan seakan menunggu kematian si gadis kecil itu. Menurut Carter, ia menunggu selama kurang-lebih 20 menit untuk menunggu burung bangkai itu merentangkan sayapnya, ternyata tidak. Akhirnya Carter memotret karya mengerikan itu, lalu mengusir si burung bangkai. Namun tindakannya itu tetap mengundang kritik karena tidak segera menolong sang gadis kecil, malah lebih dulu menunggu sekian lama untuk menghasilkan fotonya itu.

Foto itu kemudian dijual ke The New York Times dan diterbitkan tanggal 26 Maret 1993. Malam itu juga ratusan orang menelpon koran tersebut, menanyakan apakah anak kecil yang ada di foto bertahan hidup. Hari berikutnya, koran itu menambahkan catatan bahwa si gadis kecil bertahan hidup dan mampu menghindari burung bangkai namun bagaimana nasibnya kemudian tak ada yang tahu. Menanggapi hal itu, ada penulis lain yang mengatakan bahwa jika burung bangkai mengamati calon korbannya hingga lemah, maka Carter mengamati dengan cara yang sama dari balik lensa kameranya.

Pada tanggal 2 April 1994, Nancy Buirski, editor foto asing New York Times menelpon Carter dan memberitahukan bahwa fotonya memenangkan penghargaan paling bergengsi untuk jurnalisme foto. Carter dianugerahi Penghargaan Pulitzer untuk Fotografi Fitur pada tanggal 23 Mei 1994 di Low Memorial Library Columbia University.

Pada tanggal 27 Juli 1994 Carter mengendarai mobilnya ke sungai Braamfontein Spruit tak jauh dari Field and Study Centre, tempat dimana ia sering bermain-main di masa kecilnya. Di situlah ia bunuh diri, setelah dengan sengaja mengalirkan asap dari knalpotnya ke dalam mobil. Ia dinyatakan meninggal karena keracunan karbonmonoksida di usia 33 tahun.

Dalam surat terakhirnya sebelum bunuh diri Carter menyatakan bahwa ia benar-benar tertekan, depresi akibat bangkrut serta dihantui bayangan kejamnya perang, pembunuhan, kemarahan dan sakit… anak-anak yang terluka dan kelaparan, orang-orang gila yang gemar menarik pemicu senjata, seringkali adalah polisi, algojo pembunuh. Pada bagian akhir, Carter menulis, “Aku pergi bergabung dengan Ken, jika beruntung”. Ken yang dimaksud adalah Ken Oosterbroek adalah sahabatnya, sesama fotografer yang terbunuh dalam suatu insiden di bulan April 1994, 3 bulan sebelum Carter bunuh diri. Tragis.

Inilah beberapa foto karya Kevin Carter dan rekannya yang lain mengenai bencana kelaparan.

soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter
soudan-kevin-carter-et-megan-patricia-carter
famine-relief05
famine-relief05
sudan2- karya james-nachtwey
sudan2- karya james-nachtwey
starvation
starvation

Jika di atas kita melihat foto-foto mengenai korban kelaparan yang setengah mati, berikut ini foto-foto pemakaman para korban yang mati akibat kelaparan.

Memandikan Jenazah, karya Don Melvin
Memandikan Jenazah, karya Don Melvin
www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya
http://www.reuters.com_-300x200, Ayah menggendong jenazah anaknya
Pemakaman Korban Kelaparan
Pemakaman Korban Kelaparan

13 thoughts on “BELAJAR BERSYUKUR (BAGIAN 2): FOTO KARYA KEVIN CARTER, dll.

  1. ternyata msh byak orang di luar sna yg kndisix jauh berada di bwah qt,,
    benar2 menyedihkan sekali, beruntunglah kita yang sekarang ini,,
    jgnlah slalu mngeluh….

  2. Waah..!! ternyata kita masih beruntung ketimbang mereka, tapi terkadang kita masih tidak puas apa yang sudah TUHAN berikan utuk kita..!
    Terima Kasih TUHAN..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s